Rabu, 13 Mei 2026 menjadi hari kedua rombongan jamaah berada di Kota Suci Mekkah. Hari itu dimulai dengan agenda menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat tahajjud, shalat subuh berjamaah, thawaf, hingga shalat dhuha.
Para jamaah diminta berkumpul pukul 02.00 waktu setempat di lobby hotel sebelum bergerak menuju halte bus nomor 10 yang akan mengantarkan mereka ke Masjidil Haram.
Jalanan mulai ramai dipenuhi jamaah yang ingin meraih keberkahan sepertiga malam terakhir. Masing-masing datang membawa harapan dan doa terbaik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Semua jamaah berharap bisa ‘bermesra-mesraan’ dengan Allah. Edisi curhat seorang hamba pada sang Pemilik Hidup. Juga, sebagai bukti penghambaan pada Sang Khaliq,” tulis Nurul Sjarifah binti Djaelani.
Khusyuk Tahajjud dan Shalat Subuh di Masjidil Haram
Sesampainya di Masjidil Haram, para jamaah segera mengambil tempat untuk melaksanakan shalat tahajjud dan berbagai shalat sunnah lainnya.
Alhamdulillah, rombongan mendapatkan tempat yang nyaman untuk beribadah. Suasana khusyuk terasa ketika para jamaah larut dalam doa-doa yang dipanjatkan sesuai kebutuhan masing-masing.
“Saya yakin akan kekuatan doa,” ungkapnya.
Saat waktu subuh tiba, seluruh jamaah melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjidil Haram. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan shalat jenazah.
Pengalaman Thawaf di Lantai Dua
Usai shalat subuh, rombongan melaksanakan thawaf di lantai dua Masjidil Haram berdasarkan kesepakatan bersama.
Pilihan tersebut diambil untuk merasakan pengalaman berbeda saat thawaf, meskipun sebelumnya telah diingatkan bahwa thawaf di lantai dua membutuhkan waktu lebih lama.
“Alhamdulillah semua jamaah semangat, sepakat thawaf dilakukan di lantai dua,” tulisnya.
Pada setiap putaran thawaf, mulai putaran pertama hingga ketujuh, jamaah melantunkan doa-doa yang dipimpin pembimbing dari KBIHU Nurul Hikmah Pamekasan.
Di saat bersamaan, suasana Masjidil Haram semakin padat oleh jamaah dari berbagai negara yang datang untuk beribadah.
Setelah thawaf selesai, jamaah melaksanakan shalat sunnah dan dilanjutkan dengan shalat dhuha sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat.
Belajar Sabar dalam Perjalanan Ibadah
Sore harinya, rombongan kembali dijadwalkan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Ashar, Maghrib, dan Isya berjamaah.
Namun, keberangkatan sempat tertunda akibat kendala teknis kecil.
“Apakah ini ujian?” tulisnya.
Meski demikian, para jamaah memilih menerima keadaan dengan penuh kesabaran.
“Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Kami pun menerima adanya kendala yang menyebabkan tertundanya ke Masjidil Haram,” ungkapnya.
Akhirnya, shalat Ashar dilaksanakan terlebih dahulu di masjid hotel sebelum rombongan kembali berangkat menuju Masjidil Haram sekitar pukul 17.00 waktu setempat.
Alhamdulillah, jamaah tetap dapat melaksanakan shalat Maghrib dan Isya di Masjidil Haram.
Haji sebagai Perjalanan Ruhani
Di sepanjang perjalanan menuju Masjidil Haram, tampak bus-bus lain yang juga mengangkut jamaah haji dari berbagai negara.
Suasana malam di sekitar Masjidil Haram dipenuhi aktivitas ibadah. Ada jamaah yang baru datang, ada yang baru pulang, dan ada pula yang tengah menyelesaikan rangkaian umrah sunnah.
Menurut Nurul, seluruh aktivitas tersebut semata-mata dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Haji adalah perjalanan ruhani. Haji sebagai bentuk penghambatan diri pada Allah,” tulisnya.
Di akhir catatannya, ia memanjatkan doa penuh harap.
“Ya Allah ampuni kami, ampuni kesalahan kami, ampuni kebodohan kami, ampuni perbuatan kami yang melampaui batas di setiap urusan kami. Terimalah taubat kami, aamiin.”
Jamaah Haji 2026





0 Tanggapan
Empty Comments