Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Yusuf Kalla, UGM, dan Tradisi Baru: Tersinggung adalah Hak, Melapor adalah Jalan Ninja

Iklan Landscape Smamda
Yusuf Kalla, UGM, dan Tradisi Baru: Tersinggung adalah Hak, Melapor adalah Jalan Ninja
Ilustrasi Ai
Oleh : Associate Prof. Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur & Dosen Filsafat Islam Fak. Studi Islam & Peradaban (FSIP) UMSURA

Ceramah Jusuf Kalla di Universitas Gadjah Mada yang kemudian dilaporkan ke aparat terasa seperti déjà vu yang melelahkan. Setiap ada tokoh berbicara tentang agama di ruang publik, selalu muncul reaksi cepat: tersinggung, lalu melapor.

Seolah-olah kebenaran dapat diputuskan melalui berita acara pemeriksaan.

Padahal, jika ditelaah secara jujur dan filosofis, apa yang disampaikan Jusuf Kalla bukanlah hal baru.

Dalam perspektif filsafat agama, banyak pemikir sepakat bahwa agama memiliki dua wajah. Ia bisa menjadi sumber kedamaian, tetapi juga berpotensi menjadi alat konflik—sebuah ambivalensi yang melekat.

Di satu sisi, agama membawa pesan rahmatan lil ‘alamin, kasih sayang, dan perdamaian universal. Hampir semua agama besar memiliki nilai moral serupa: tidak menyakiti sesama.

Namun di sisi lain, sejarah mencatat fakta yang tidak selalu indah. Perang, kekerasan, bahkan konflik berkepanjangan kerap dibungkus dengan legitimasi agama. Dari Perang Salib hingga konflik sektarian modern, agama kadang bergeser dari sumber makna menjadi alat kepentingan.

Inilah yang disebut sebagai paradoks agama. Agama ibarat pisau: dapat digunakan untuk kebaikan, tetapi juga bisa melukai. Yang menentukan bukan alatnya, melainkan manusia yang menggunakannya.

Dalam konteks ini, pernyataan Jusuf Kalla seharusnya dipahami sebagai refleksi, bukan provokasi—sebuah ajakan untuk melihat realitas bahwa antara teks suci dan praktik sosial sering terdapat jarak.

Sayangnya, sebagian masyarakat tampak alergi terhadap refleksi semacam ini. Agama ingin selalu terlihat sempurna, tanpa ruang kritik. Analisis dianggap serangan, perbedaan dipersepsikan sebagai ancaman.

Akibatnya, diskusi yang seharusnya sehat berubah menjadi kriminalisasi.

Muncul kecenderungan “lapor dulu, debat belakangan.” Padahal dalam tradisi intelektual, perbedaan pandangan bukan untuk dipolisikan, melainkan diperdebatkan secara terbuka.

Kampus seperti UGM seharusnya menjadi ruang aman bagi gagasan—termasuk gagasan yang tidak selalu nyaman.

SMPM 5 Pucang SBY

Jika setiap pernyataan yang berbeda dilaporkan, maka yang tersisa bukanlah kebenaran, melainkan ketakutan. Orang akan memilih aman, berbicara datar, tanpa keberanian berpikir. Dan itu jauh lebih berbahaya.

Dalam kajian filsafat agama, terdapat kesadaran bahwa agama tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berinteraksi dengan politik, ekonomi, identitas, dan kepentingan manusia.

Ketika agama digunakan untuk konflik, sering kali yang bekerja bukan ajaran sucinya, melainkan ambisi manusianya.

Karena itu, mengakui bahwa agama bisa disalahgunakan bukan berarti merendahkan agama. Justru sebaliknya, itu adalah upaya menjaga agama agar tidak dijadikan alat kekuasaan.

Masalahnya, kita sering terjebak dalam logika hitam-putih. Sedikit kritik dianggap serangan. Padahal kritik bisa menjadi bentuk kepedulian—cara menjaga agar agama tetap relevan dan tidak diselewengkan.

Pelaporan terhadap ceramah Jusuf Kalla akhirnya terasa seperti mencari kambing hitam. Ketika tidak siap menghadapi kompleksitas, kita memilih menyalahkan, bukan memahami.

Padahal yang perlu dibenahi bukan sekadar ucapan, melainkan cara kita memahami agama itu sendiri.

Agama tidak otomatis menjadi rahmat. Ia menjadi rahmat ketika dipahami dengan kedewasaan. Sebaliknya, jika dipeluk dengan fanatisme tanpa refleksi, ia bisa berubah menjadi sumber konflik.

Maka, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “siapa yang harus dilaporkan”, melainkan “mengapa kita begitu mudah tersulut?”

Karena bisa jadi, persoalannya bukan pada ceramah Jusuf Kalla—melainkan pada cara kita mendengar.

Revisi Oleh:
  • Satria - 17/04/2026 09:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu