Search
Menu
Mode Gelap

Tutup dengan Aksi, MPKSDI PWM Jatim Cetak Instruktur Kader Muhammadiyah Masa Depan

Tutup dengan Aksi, MPKSDI PWM Jatim Cetak Instruktur Kader Muhammadiyah Masa Depan
pwmu.co -
Materi Teaching Plan dan Microteaching oleh Dr Agus Mahfudz Fauzi MSi. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO — Sebuah akhir yang berkesan menutup rangkaian Pelatihan Instruktur MPKSDI PWM Jatim Wilayah Barat yang berlangsung selama tiga hari penuh di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo), (18–20/4/2025).

Dalam sesi ke-9 atau sesi terakhir, para peserta pelatihan diajak menyelami esensi pendidikan kader melalui materi Teaching Plan dan Microteaching, yang dibawakan oleh dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr Agus Mahfudz Fauzi MSi, (20/4/2025).

Sesi ini bukan hanya sebagai pemungkas, tetapi juga sebagai momentum puncak transformasi peserta dari pembelajar menjadi pengajar, dari penerima ilmu menjadi penyampai nilai.

Sesi ke-9 ini menekankan dua komponen utama, yaitu perencanaan pembelajaran (Teaching Plan) dan praktik mengajar (Microteaching). Peserta tidak hanya mempelajari bagaimana menyusun strategi pembelajaran yang efektif, tetapi juga langsung mempraktikkannya di hadapan peserta lain.

Dr Agus Mahfudz memandu peserta menyusun skenario pelatihan dengan struktur lengkap, mulai dari tujuan pembelajaran, metode, alat bantu, waktu, hingga langkah-langkah pengajaran.

Materi yang digunakan sebagai contoh adalah topik “Peran Tauhid dalam Kehidupan”, sebuah tema yang tidak hanya teologis, tetapi juga aplikatif dalam kehidupan berorganisasi Muhammadiyah.

Peserta diajak menyusun Teaching Plan secara sistematis, kemudian mempresentasikan dan mempraktikkannya dalam simulasi mengajar secara kelompok.

Dalam sesi microteaching ini, para peserta tampil layaknya seorang instruktur sejati—mengelola kelas, menyampaikan materi, melibatkan audiens, hingga mengelola diskusi.

Sesi ini melibatkan seluruh peserta pelatihan yang berasal dari berbagai PDM di wilayah barat Jawa Timur seperti Ponorogo, Madiun, Blitar, Magetan, Kediri, Pacitan, dan Trenggalek.

Mereka terdiri dari bermacam latar belakang seperti guru, aktivis, hingga pimpinan AUM dan Ortom Muhammadiyah yang memiliki potensi menjadi instruktur perkaderan di daerahnya masing-masing.

Dr Agus Mahfudz Fauzi, seorang dosen dan ahli komunikasi politik dari Unesa, tampil sebagai pemateri sesi terakhir. Dengan latar belakang akademik yang kuat dan pengalaman organisasi yang luas, beliau berhasil menyampaikan materi dengan pendekatan aplikatif dan inspiratif.

“Kita tidak cukup hanya tahu materi. Kita harus tahu bagaimana menghidupkan materi itu di hadapan peserta kaderisasi. Di situlah peran Teaching Plan dan Microteaching menjadi sangat penting,” tegas Agus dalam pengantar sesinya.

Pelatihan selama tiga hari ini adalah inisiatif strategis dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM Jawa Timur dalam menyiapkan Training of Trainer (ToT) yang unggul dan sistematis.

Ponorogo dipilih sebagai lokasi pelatihan karena reputasinya sebagai basis gerakan Muhammadiyah di kawasan barat Jatim, serta dukungan kuat dari Umpo dalam menyelenggarakan kegiatan pengembangan Sumber Daya Insani (SDI).

Salah satu tantangan terbesar dalam kaderisasi Muhammadiyah adalah kemampuan menyampaikan materi secara efektif. Menjadi instruktur bukan hanya soal wawasan ideologi, tetapi juga tentang bagaimana merancang, mengatur, dan menyampaikan materi secara sistematis dan menarik.

Dalam sesi ini, peserta menyadari pentingnya Teaching Plan sebagai peta jalan bagi instruktur. Tanpa perencanaan yang matang, pelatihan bisa kehilangan arah dan gagal menyampaikan pesan-pesan ideologis yang mendalam.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sementara microteaching menjadi sarana penting untuk mengukur kesiapan dan kemampuan instruktur dalam praktik nyata. “Dengan teaching plan, kita tahu apa yang ingin kita capai. Dengan microteaching, kita tahu apakah kita mampu mencapainya,” ungkap peserta dari PDM Kediri usai mengikuti praktik microteaching.

Kegiatan berlangsung dalam suasana antusias dan penuh semangat. Dr Agus Mahfudz memulai dengan mengajak peserta merefleksi: “Apa yang paling menantang dalam mengajar materi perkaderan?”.

Dari sana, peserta mulai menyusun Teaching Plan masing-masing berdasarkan topik yang relevan, seperti Peran Tauhid dalam Kehidupan, Kepribadian Muhammadiyah, dan Revitalisasi Cabang-Ranting.

Setelah itu, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan melakukan praktik microteaching selama 10–15 menit per orang. Praktik ini dilengkapi dengan feedback langsung dari fasilitator dan rekan peserta, baik dari sisi teknis (pengelolaan kelas, alur penjelasan) maupun substansi (penguasaan materi, kedalaman ideologis).

Metode microteaching ini membuat para peserta merasa “naik kelas” karena bukan hanya belajar teori, tetapi langsung mengeksekusi dan dinilai secara konstruktif.

Sesi terakhir ini menjadi klimaks dari seluruh proses pelatihan. Banyak peserta yang mengakui bahwa melalui Teaching Plan dan Microteaching, mereka merasa lebih percaya diri, terarah, dan siap untuk menjadi instruktur yang tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga menginspirasi kader.

“Dari awal saya pikir jadi instruktur itu hanya soal bisa ceramah. Tapi setelah ini, saya sadar bahwa merancang pelatihan jauh lebih penting dan kompleks,” ungkap peserta dari Kota Madiun.

MPKSDI PWM Jatim berharap melalui sesi ini, seluruh peserta memiliki standar kompetensi pengajaran kaderisasi Muhammadiyah yang sistematis.

Tidak ada lagi pelatihan yang asal jalan, tapi semua berdasarkan rencana, strategi, dan pengukuran yang jelas. “Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari tanggung jawab besar kita sebagai penjaga gawang ideologi Muhammadiyah,” kata salah satu panitia saat menutup kegiatan dengan haru.

Pelatihan Instruktur MPKSDI PWM Jatim Wilayah Barat resmi ditutup dengan semangat baru, bahwa menjadi instruktur bukan hanya perkara menyampaikan, tapi membentuk.

Sesi Teaching Plan dan Microteaching bersama Dr Agus Mahfudz menjadi saksi lahirnya generasi instruktur Muhammadiyah yang siap berdakwah dengan hati, strategi, dan ideologi.

Dari ruang pelatihan, kader-kader muda kini bersiap kembali ke daerahnya, membawa semangat baru dalam menyusun pelatihan yang bukan hanya mencerahkan akal, tetapi juga menggerakkan jiwa.(*)

Penulis Nur Maslikhatun Nisak Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments