University of Muhammadiyah Lamongan Disaster and Emergency (UMDC) kembali menggelar kegiatan peningkatan kapasitas anggota melalui Diklat Dasar IV Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, Jumat–Ahad, (16–18/1/2026), sebagai bagian dari proses kaderisasi relawan kebencanaan dan kegawatdaruratan di lingkungan internal kampus maupun external, Selasa (20/01/2026).
Diklat Dasar IV 2026 dirancang dengan konsep pembelajaran terpadu yang mengombinasikan pembekalan materi di ruangan dan praktik langsung di lapangan. Pembagian dua lokasi ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami konsep dan teori kebencanaan, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara nyata di kondisi darurat.
Salah satu materi penting yang disampaikan dalam rangkaian diklat tersebut adalah materi survival. Materi ini diisi oleh M. Nur Kholis dari DMC RSM Lamongan, yang dikenal aktif dalam kegiatan kebencanaan, kemanusiaan, serta pendidikan relawan. Penyampaian materi survival dilaksanakan pada hari Jumat (16/1/2026) pukul 13.00 WIB, Aula Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla).
Dalam pemaparannya, M. Nur Kholis menjelaskan bahwa survival merupakan kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap relawan kebencanaan.
“Survival dimaknai sebagai upaya mempertahankan hidup ketika seseorang berada dalam kondisi darurat atau situasi yang tidak normal, baik akibat bencana alam maupun keadaan tak terduga lainnya” ujarnya
Ia menambahkan bahwa keberhasilan survival sangat ditentukan oleh kesiapan mental, ketenangan berpikir, dan kemampuan membaca situasi.
Peserta diklat dibekali pemahaman tentang prinsip dasar survival yang dikenal dengan STOP (Stop, Thinking, Observe, Planning).
Prinsip ini menjadi pedoman awal yang harus diterapkan ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan agar tidak bertindak secara tergesa-gesa. Dengan berhenti sejenak, berpikir jernih, mengamati lingkungan sekitar, dan menyusun rencana, peluang untuk bertahan hidup akan semakin besar.
Selain itu, pemateri juga menjelaskan empat pilar utama survival, yaitu air, makanan, api, dan bivak.
“Air menjadi prioritas utama karena manusia hanya mampu bertahan hidup beberapa hari tanpa cairan. Peserta juga dikenalkan dengan cara mengidentifikasi sumber air di alam, pengolahan air agar layak konsumsi, serta pentingnya menjaga energi tubuh. Pada aspek makanan, pemateri memberikan gambaran umum mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara aman dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Materi survival ini disambut antusias oleh para peserta Diklat Dasar IV 2026. Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar pengalaman lapangan, potensi risiko, serta etika dalam kegiatan survival. Pemateri juga menekankan bahwa relawan kebencanaan harus selalu menjunjung tinggi prinsip keselamatan diri, tim, dan lingkungan.
Sementara itu, rangkaian kegiatan Diklat Dasar IV 2026 yang dilaksanakan di lapangan difokuskan pada praktik keterampilan dasar kebencanaan dan penguatan kerja tim. Peserta dilatih untuk beradaptasi dengan lingkungan, membangun komunikasi yang baik, serta meningkatkan solidaritas dan kepemimpinan sebagai relawan.
“Saya berharap UMDC Umla dapat melahirkan kader-kader relawan yang tangguh, sigap, berilmu, dan berakhlak, serta siap terjun dalam kegiatan kemanusiaan. Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen UMDC dalam mendukung misi Muhammadiyah di bidang kebencanaan dan pelayanan masyarakat,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments