Pencegahan tengkes tidak cukup dilakukan melalui penyuluhan. Pengetahuan tentang gizi perlu diterjemahkan menjadi keterampilan yang bisa diterapkan keluarga setiap hari, terutama ketika anak memasuki fase makanan pendamping air susu ibu (MPASI).
Pesan itu menjadi fokus Kelas Ibu Anti Stunting (KIAS) yang digelar tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Prisma Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Lembaga Ibu Sigap di Balai Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026).
Dalam sesi kedua KIAS tersebut, para ibu yang memiliki bayi, balita, serta anak berisiko tengkes tidak hanya memperoleh materi tentang pemenuhan gizi. Mereka juga diajak mempraktikkan pengolahan makanan pendamping ASI melalui Demo Asupan MPASI (DASI) dengan memanfaatkan ikan lele sebagai bahan utama.
Lele dipilih bukan semata karena mudah diperoleh. Ikan tersebut merupakan hasil budi daya akuaponik dalam program B-SMART (Blimbing-Sistem Mandiri Akuaponik dan Ramuan Tradisional), sehingga kegiatan ini sekaligus mempertemukan edukasi gizi dengan pemanfaatan sumber pangan lokal.
Ketua Pelaksana KIAS Rengga Prayoga mengatakan, program tersebut dirancang agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin kegiatan KIAS tidak berhenti pada penyampaian materi. Para ibu juga perlu memiliki keterampilan yang bisa langsung diterapkan di rumah, terutama dalam menyiapkan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak,” kata Rengga, Sabtu (5/9/2026).
Materi MPASI disampaikan mahasiswi Ilmu Gizi UMS Nasywahanum Illahi Rifki. Ia menjelaskan bahwa pemberian MPASI perlu memperhatikan empat prinsip utama sesuai anjuran Kementerian Kesehatan, yakni ketepatan waktu, kecukupan gizi, keamanan dalam penyiapan, serta cara pemberian yang disesuaikan dengan tahapan usia anak.
Menurutnya, MPASI bukan sekadar upaya membuat anak kenyang. Makanan yang diberikan perlu memenuhi kebutuhan gizi dan diberikan dengan tekstur serta cara yang sesuai dengan perkembangan anak.
Protein hewani menjadi salah satu unsur penting yang perlu hadir dalam variasi makanan anak. Karena itu, ikan lele digunakan sebagai bahan praktik dalam DASI.
“MPASI perlu diberikan dengan memperhatikan waktu, kecukupan gizi, keamanan dalam penyiapan, dan cara pemberian sesuai usia anak. Protein hewani juga penting untuk menjadi bagian dari variasi bahan makanan yang diberikan kepada anak,” jelas Nasywahanum.
Pemilihan lele juga mempertimbangkan aspek keterjangkauan. Bahan pangan tersebut relatif mudah ditemukan masyarakat dan dapat diperoleh dari lingkungan sekitar. Dalam konteks Desa Blimbing, pemanfaatan lele hasil program B-SMART membuat edukasi gizi sekaligus memiliki kaitan dengan potensi pangan lokal.
Ibu Tidak Hanya Diberi Materi
Dalam praktik DASI, Alya Indah Amalia, mahasiswi Ilmu Gizi UMS, mendemonstrasikan pengolahan menu berbahan lele dengan tekstur yang disesuaikan untuk tiga kelompok usia anak.
Para peserta kemudian mempraktikkan sendiri pengolahan menu tersebut dengan pendampingan tim Lembaga Ibu Sigap. Mereka belajar mulai dari memilih dan membersihkan bahan, memastikan ikan terbebas dari duri halus, mengolah makanan, hingga menyajikannya sesuai kelompok usia anak.
Praktik langsung tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan KIAS. Sebab, tantangan pencegahan tengkes di tingkat keluarga bukan hanya soal mengetahui makanan yang bergizi, tetapi juga kemampuan mengolah bahan yang tersedia menjadi makanan yang aman, sesuai kebutuhan anak, dan dapat diterima anak.
Sejumlah peserta aktif menanyakan cara mengolah lele agar teksturnya sesuai dengan usia anak sekaligus tetap disukai.
Ketua Petugas Lapangan Keluarga Berencana Triyani menegaskan bahwa pencegahan tengkes membutuhkan keterlibatan keluarga. Pemenuhan gizi anak, menurutnya, tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan atau pemerintah desa.
“Pencegahan tengkes tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Keluarga memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, terutama ketika anak mulai mendapatkan MPASI,” ujar Triyani.
Senada dengan itu, bidan Desa Blimbing Nurhayanti menyoroti pentingnya pemenuhan gizi pada masa MPASI. Fase tersebut menjadi salah satu periode penting dalam mendukung pertumbuhan anak dan mencegah risiko gagal tumbuh pada balita.
Menghubungkan Gizi dengan Potensi Desa
KIAS tidak berhenti pada demonstrasi. Setelah praktik, peserta mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman terhadap materi yang diberikan. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan bagi tim pelaksana untuk menentukan tindak lanjut program.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan tengkes dapat dimulai dari intervensi sederhana di tingkat keluarga: meningkatkan pengetahuan ibu, memperkuat keterampilan pengolahan pangan, dan memanfaatkan sumber makanan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pemanfaatan lele dari program B-SMART menjadi salah satu contoh bahwa edukasi gizi dapat dihubungkan dengan potensi lokal. Dengan demikian, pencegahan tengkes tidak hanya berbicara tentang apa yang harus dimakan anak, tetapi juga bagaimana keluarga dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara aman, bergizi, dan terjangkau.
Melalui KIAS, tim PPK Ormawa Prisma UMS dan Lembaga Ibu Sigap mendorong agar ibu memiliki bekal yang lebih praktis dalam menyiapkan MPASI. Pengetahuan yang berlanjut menjadi keterampilan di dapur keluarga diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan tengkes sejak dari rumah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments