Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Umur Itu Seperti Es Batu yang Perlahan Mencair

Iklan Landscape Smamda
Umur Itu Seperti Es Batu yang Perlahan Mencair
Foto: Magnific
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Al hayaatu kats tsalji, istamti’ biha qobla an tadzuuba
“Hidup itu seperti es batu, manfaatkanlah sebelum ia mencair habis.”

Kalimat sederhana itu terdengar ringan, tetapi jika direnungkan lebih dalam, ia menyimpan makna yang sangat menampar hati. Umur manusia sesungguhnya tidak bertambah. Yang terjadi justru sebaliknya: umur terus berkurang, sedikit demi sedikit, hari demi hari.

Setiap pagi yang kita lalui bukanlah penambahan jatah hidup, melainkan pengurangan dari sisa waktu yang telah Allah tetapkan. Umur itu seperti es batu yang perlahan mencair.

Umurmu kini adalah sisa masa lalu…
Umurmu kini adalah bagian yang telah terpakai…
Umurmu kini pertanda semakin sedikit waktu yang tersedia…
Dan umurmu kini berarti semakin dekat dengan liang lahat…

Banyak orang sibuk menghitung target dunia, tetapi lupa menghitung sisa umur yang dimiliki. Padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Ia datang kepada yang tua maupun muda, kepada yang sehat maupun sakit, kepada yang kaya maupun sederhana.

Karena itu hati-hatilah dengan sisa umur.

Hanya ada dua pilihan dalam hidup ini:
semakin mendekat kepada Allah dengan ketaatan, atau semakin menjauh dengan mengikuti hawa nafsu dan kemaksiatan.

Ilustrasi Kehidupan: Es Batu di Gelas Teh

Coba perhatikan segelas teh dingin di siang hari. Saat pertama disajikan, es batunya masih utuh, dingin, dan menyegarkan. Namun perlahan-lahan, tanpa suara, es itu mulai mencair. Tidak terasa, sedikit demi sedikit ukurannya mengecil hingga akhirnya habis.

Begitulah umur manusia.

Ketika masih muda, seseorang merasa hidup masih panjang. Ia menunda ibadah, menunda taubat, menunda meminta maaf, menunda berbuat baik. Ia merasa masih punya banyak waktu.

Namun tanpa disadari, rambut mulai memutih. Tenaga mulai berkurang. Teman-teman satu angkatan mulai dipanggil Allah satu per satu. Barulah hati tersadar bahwa “es batu” kehidupannya ternyata hampir habis.

Yang menyedihkan, banyak orang baru ingin mendekat kepada Allah ketika tubuh sudah lemah dan kesempatan semakin sempit.

Kadang Rezeki Datang dengan Bungkus yang Tidak Indah

Jika kita selalu berpikir negatif, maka hidup terasa penuh keluhan. Sedikit masalah membuat hati marah. Sedikit ujian membuat diri kecewa.

Padahal jika mau melihat dengan mata syukur, nikmat Allah sungguh tidak terhitung jumlahnya.

Masih bisa bernapas adalah nikmat.
Masih bisa sujud adalah nikmat.
Masih memiliki keluarga adalah nikmat.
Masih diberi kesempatan memperbaiki diri juga nikmat yang luar biasa.

Ingat…
Rizki tidak selalu datang dibungkus kain sutra.

Terkadang rizki datang terbungkus koran bekas.

Ada orang kehilangan pekerjaan, lalu karena itu ia menemukan usaha yang lebih baik. Ada yang pernah sakit keras, lalu setelah sakit justru hidupnya berubah lebih dekat kepada Allah. Ada yang pernah gagal, dihina, diremehkan, bahkan ditinggalkan manusia, tetapi ternyata itulah jalan yang Allah buka agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bijak.

SMPM 5 Pucang SBY

Apa yang awalnya terlihat sebagai musibah, bisa jadi sebenarnya adalah anugerah yang sedang Allah siapkan.

Hanya saja bungkusnya memang tidak selalu indah.

Ilustrasi Kehidupan: Seorang Ayah dan Motor Tuanya

Ada seorang ayah yang setiap hari bekerja dengan motor tua. Motornya sering mogok, pakaiannya sederhana, hidupnya jauh dari kemewahan. Anak-anaknya kadang merasa malu melihat kondisi ayahnya.

Namun bertahun-tahun kemudian, anak-anak itu berhasil sekolah tinggi dan hidup layak justru karena perjuangan ayah yang sederhana tersebut.

Saat itu mereka baru sadar: motor tua itu ternyata kendaraan penuh berkah. Keringat ayah yang dulu dianggap biasa ternyata adalah pintu rizki dan kemuliaan.

Begitulah hidup. Tidak semua nikmat datang dalam bentuk kemudahan dan kemewahan.

Kadang Allah menyembunyikan karunia-Nya di balik perjuangan, air mata, dan kesabaran.

Gunakan Sisa Umur untuk Bersyukur

Isi sisa umur dengan syukur, bukan kufur.
Isi hari-hari dengan amal, bukan kelalaian.
Perbanyak sujud sebelum tubuh tak lagi mampu bersujud.
Perbanyak istighfar sebelum lisan terkunci oleh kematian.

Jangan sampai waktu habis hanya untuk mengejar pujian manusia, sementara bekal menuju akhirat kosong.

Sebab pada akhirnya semua akan menuju alam kubur.
Jabatan akan ditinggalkan.
Harta akan dipisahkan.
Yang tinggal hanyalah amal dan doa.

Selama nafas masih ada, berarti Allah masih memberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Maka jangan tunggu tua untuk taat.
Jangan tunggu sakit untuk sadar.
Jangan tunggu kehilangan untuk bersyukur.

Karena umur seperti es batu — terus mencair, meski kita tidak menyadarinya.

In syaa Allah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rizki kita, serta memberikan kemudahan kepada kita dalam bekerja, beribadah, dan menutup hidup dalam husnul khatimah.

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 13/05/2026 17:09
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡