Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menua dengan Cahaya Kebijaksanaan

Iklan Landscape Smamda
Menua dengan Cahaya Kebijaksanaan
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 1 Malang

Setiap saat sesungguhnya manusia itu selalu berjalan menuju satu arah yang sama, pulang.

Waktu pun terus-menerus bergerak tanpa pernah dan perlu meminta izin kepada siapa pun.

Hari pun berganti, usia bertambah, sementara itu hidup secara perlahan mengajarkan banyak hal yang dulu mungkin tidak pernah kita pahami

Bertambahnya usia pun sering kali dirayakan dengan ucapan selamat, doa, dan berbagai bentuk syukur.

Padahal sesungguhnya, momentum tersebut bukan hanya tentang angka yang terus naik setiap tahun.

Ia adalah pengingat bahwa kehidupan ini sedang berjalan menuju titik pulang, sekaligus membuka kesempatan untuk menilai kembali: apakah usia membuat kita semakin bijak atau justru semakin keras dalam memandang kehidupan?

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “Kullu mā zāda ‘umruka yanbaghī an yazdāda ‘aqluka“, yang artinya: “Setiap pertambahan usiamu, selayaknya bertambah pula kebijaksanaanmu”.

Kedewasaan sejati tidak hanya terlihat dari perubahan fisik.

Rambut yang mulai memutih dan wajah yang menua belum tentu sebagai ukuran hati yang matang.

Justru, usia semestinya menghadirkan keluasan cara berpikir, kelembutan sikap, serta kemampuan memahami manusia dengan lebih arif.

Semakin lama menjalani kehidupan, seseorang perlahan menyadari bahwa manusia memang tidak ditakdirkan untuk seragam.

Ada perbedaan cara berpikir, perbedaan pengalaman, bahkan perbedaan cara memahami hidup dan agama.

Ketika muda, mungkin seseorang mudah tersulut emosi, mudah menghakimi, dan merasa pendapatnya yang paling benar.

Namun, perjalanan usia seharusnya mengikis kesombongan itu sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, kita diingatkan oleh sebuah ungkapan: Kullu mā zāda ‘umruka yanbaghī an yazdāda ‘aqluka—setiap kali usiamu bertambah, selayaknya kebijaksanaanmu pun bertambah.

Pohon yang semakin tua semakin meneduhkan

Di situlah letak makna kedewasaan ruhani yang sebenarnya.

Ia bukan tentang siapa yang paling keras mempertahankan diri, tetapi siapa yang paling mampu menjaga kelembutan hati di tengah banyaknya perbedaan.

Sebab sering kali orang yang tampak kasar sebenarnya sedang menyimpan luka yang tidak diketahui siapa pun.

Dan orang yang terlihat jauh dari cahaya, mungkin sedang berjuang mendekat kepada Allah dengan langkah yang tertatih.

SMPM 5 Pucang SBY

Para ulama juga mengingatkan: “Al-‘āqilu lā yurīdu an yakūna gāliban fī kulli syai’, walākin yurīdu an yabqā al-wuddu bainannās” (orang yang bijak tidak ingin selalu menang dalam segala hal, tetapi ingin menjaga kasih sayang di antara manusia).

Usia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan.

Tidak semua perbedaan harus diakhiri dengan pertengkaran.

Ada saatnya manusia belajar untuk mendengar lebih banyak, memahami lebih dalam, lalu menyerahkan sisanya kepada doa.

Hati yang matang tidak sibuk mencari kemenangan dalam setiap perdebatan.

Ia lebih sibuk menjaga agar kasih sayang tetap hidup di tengah kerasnya dunia.

Tentu, kedewasaan bukan berarti mengaburkan prinsip atau meleburkan kebenaran.

Islam tetap mengajarkan keteguhan dalam aqidah dan nilai-nilai kebaikan.

Akan tetapi, keteguhan tidak identik dengan kebencian.

Seseorang tetap dapat memegang prinsip tanpa kehilangan adab, tetap tegas tanpa harus merendahkan orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat tersebut menjadi penyadar bahwa sesungguhnya perbedaan adalah sunnatullah dalam kehidupan.

Tujuannya bukan untuk melahirkan permusuhan, melainkan agar manusia belajar saling mengenal, memahami, dan mengambil hikmah satu sama lain.

Barangkali, hadiah paling indah dari bertambahnya usia bukanlah kemeriahan perayaan atau banyaknya ucapan selamat.

Tetapi ketika hati mulai sampai pada titik kedewasaan untuk berkata: “Saya tidak harus membenci orang yang berbeda dengan saya —untuk tetap mencintai kebenaran yang saya yakini.”

Sebab pada akhirnya, usia bukan sekadar tentang berapa lama manusia hidup di dunia.

Melainkan tentang seberapa jauh ia belajar menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih teduh, lebih bijaksana, dan lebih lapang dalam memandang kehidupan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 13/05/2026 08:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡