Krisis karakter pada generasi muda menjadi isu sentral dalam Seminar Nasional di Pendopo Malowopati, Senin (29/06/2026).
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro Bidang Dikdasmen dan PNF, H M Yazid Mar’i MPdI menegaskan bahwa fondasi utama kesuksesan seorang anak bukanlah sekadar penguasaan pengetahuan (knowledge) atau keterampilan (skill), melainkan karakter yang kuat.
”Kecemasan orang tua saat ini terhadap masa depan anak-anak mereka dipicu oleh penurunan nilai-nilai karakter positif yang signifikan di tengah masyarakat” ujarnya.
4 Indikator Merosotnya Karakter Remaja
Lebih lanjut, Yazid memaparkan empat indikator utama yang menandai merosotnya karakter remaja saat ini.
Pertama adalah kemerosotan adat dan sopan santun. Yaitu pudarnya tradisi menghormati orang tua dan guru, serta hilangnya kebiasaan dasar dalam mengucapkan kata maaf, tolong, dan terima kasih.
Kedua adalah peningkatan kenakalan remaja yang ditandai dengan maraknya kasus perundungan (bullying), tawuran, hingga penganiayaan antarpelajar di berbagai wilayah.
Ketiga adalah rendahnya rasa tanggung jawab dan kejujuran. Yang salah satunya terlihat dari pemanfaatan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), secara tidak bijak untuk melakukan kecurangan dalam tugas sekolah.
Keempat adalah menurunnya empati. Yakni fenomena di mana masyarakat lebih memilih mendokumentasikan kecelakaan di jalan raya daripada segera memberikan pertolongan kepada korban.
”Data dari Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro yang mencatat 325 kasus pernikahan di bawah umur. Pemicu utamanya adalah paparan konten negatif di media sosial yang tidak tersaring dengan baik” jelas Yazid.
Situasi ini, lanjutnya, diperparah dengan budaya “nongkrong” di warung kopi. Mengutip data BPS, terdapat sekitar 5.000 warung kopi tradisional di Bojonegoro.
“Hal ini menjadi tantangan bersama untuk memastikan ruang sosial tersebut tidak menjadi tempat yang melunturkan produktivitas generasi muda” tambahnya.
Tahapan Pembentukan Karakter
Berdasarkan perspektif Islam dan psikologi pendidikan, Yazid menguraikan tiga tahapan strategis pembentukan karakter. Antara lain:
- Tahap pertama usia Dini (<7 tahun): Fokus pada pembiasaan etika dasar seperti berkata jujur, disiplin, dan etika berkomunikasi.
- Tahap kedua usia Sekolah (7–12 tahun): Fokus pada pengajaran kognitif serta pemahaman nilai-nilai ketuhanan dan kebaikan secara teoretis maupun praktis.
- Tahap ketiga usia remaja: Fokus pada pengembangan kemandirian (skill) agar remaja menjadi pribadi yang tangguh.
”Kunci utama dari seluruh tahapan tersebut adalah keteladanan, anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat dari perilaku orang dewasa di sekitar mereka secara nyata, bukan sekadar apa yang mereka dengar” ujarnya.
Ia merekomendasikan penyelarasan visi antara sekolah dan keluarga untuk mencegah kesenjangan pola asuh.
Selain itu, ia mendesak pemerintah untuk memeratakan akses teknologi agar tidak ada ketimpangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di akhir sesi materi, Yazid menyampaikan pesan reflektif bagi para pendidik
“Tugas pendidik hari ini bukan hanya mendidik anak untuk saat ini saja, melainkan mempersiapkan mereka agar mampu hidup tegak, tangguh, dan unggul 25 hingga 35 tahun ke depan demi menyongsong Indonesia Emas 2045” tegas Yazid.
“Aset pendidikan jauh lebih mulia daripada harta benda, karena wawasan ilmu akan terus melekat dan membawa keberhasilan” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments