Beliau menegaskan:“Sekiranya dia ragu-ragu setelah selesai menunaikan tawaf (dan meninggalkannya) maka tiada apa-apa ke atas dirinya (tawafnya dianggap sah)”.
Waswas dalam Interaksi Sosial
Waswas juga beragam macamnya pada diri manusia dan lingkungannya saat melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia lainnya.
Waswas dalam interaksi sosial baik di dalam lingkungan keluarga berbeda dengan waswas di lingkungan kelompok masyarakat dan negara. Was-was di dalam lingkungan keluarga terbatas pada hubungan antar suami istri dan orang tua anak.
Waswas di lingkungan masyarakat dan negara, diantaranya hubungan rakyat dan raja atau sebaliknya. Semuanya dikemukakan di bawah ini.
Pertama, hubungan suami istri
Waswas dalam hubungan suami-istri diantaranya berkaitan dengan masalah rumah tangga. Apalagi jika mereka telah memiliki anak-anak.
Bunda Hajar waswas saat suaminya, Nabi Ibrahim alaihi sallam tanpa memberi tahu sebelumnya membawa diri dan anaknya ke suatu tempat yang tandus bernama Lembah Beka. Waswas bunda Hajar disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah ibu Nabi Ismail. Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah kemudian Ibrahim membawanya berserta anaknya Ismail yang saat itu ibunya masih menyusuinya hingga Ibrahim menempatkan keduanya dekat Baitullah (Ka’bah) pada sebuah gubuk di atas zamzam di ujung Al-masjidil Haram.
Waktu itu di Makkah tidak ada seorang pun yang tinggal di sana dan tidak ada pula air. Ibrahim menempatkan keduanya disana dan meninggalkan semacam karung berisi kurma dan kantung/geriba berisi air. Kemudian Ibrahim pergi untuk meninggalkan keduanya. Maka Ibu Ismail mengikutinya seraya berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana?.
Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?” Ibu Ismail terus saja mengulang-ulang pertanyaannya (karena rasa waswas) berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya.
Akhirnya ibu Ismail bertanya: “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semuanya ini?” Ibrahim menjawab: “Ya”. Ibu Ismail berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami”. (HR. Bukhari no. 3113).
Kedua, bapak dan anaknya
Waswas berhubungan dengan orang tua anak- anak juga dialami oleh Nabi Nuh alaihi sallam, saat anaknya diajak naik ke atas kapal tidak mau. Malah anaknya ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla:
“Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.Dia (anaknya) menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.’
Nuh berkata, ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang memisahkan antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”. (QS. Hud:42-43).
Ketiga, ibu dan anaknya
Demikian pula waswas dialami oleh ibu Nabi Musa pada saat melahirkan Musa. Pada masa itu raja yang berkuasa, Fir’aun, melakukan kezaliman akan membunuh anak laki laki, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan.
Hal itu yang membuat ibu Musa waswas setelah melahirkan sehingga berusaha menyelamatkan anaknya dari kezaliman Fir’aun. Termasuk pada saat anaknya berada dalam asuhan Asiyah, istri raja zalim tersebut. Hal ini disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir (waswas) terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul’…. Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah”. (QS. Al-Qashash:7,10).
Keempat, rakyat dan rajanya
Waswas juga dialami oleh rakyat pada raja (presiden) yang tidak diharapkan, karena merasa khawatir dan takut tidak sesuai dengan keinginan mereka dan kepentingan kelompoknya.
Hal itu dialami Bani Israil yang berkeberatan atas diangkatnya Thalut sebagai raja mereka setelah Nabi Musa alaihi sallam tiada. Hal ini disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?”
(Nabi) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.” Allah menganugerahkan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah:247).
Kelima, raja pada rakyat
Sebaliknya raja (presiden) adapula yang waswas terhadap rakyatnya sendiri yang kelak akan memberontak, mengganti, merebut kekuasaan atau menggulingkannya, seperti yang dialami oleh Fir’aun, raja Mesir.
Rasa waswas Fir’aun sebenarnya sudah dimulai sebelum Musa dewasa, melalui mimpinya atau ramalan para ahli nujum, bahwa kekuasaannya akan dihancurkan oleh seorang bayi dari Bani Israil.
Hal ini yang membuat raja Fir’aun memerintahkan untuk membunuh dengan cara menyembelih setiap anak laki-laki termasuk yang baru lahir. (QS. Al Baqarah:49, Al Qashash:4, Ibrahim:6, Al Araf:141).
Ketika bayi Musa dihanyutkan ibunya di sungai Nil dan ditemukan oleh istri Firaun (Asiyah), lalu si istri (Asiyah) menenangkan Firaun agar dia tidak membunuhnya. (QS. Al Qashash:9).
Setelah Nabi Musa alaihi sallam dewasa semakin membuat Fir’aun bertambah waswas. Hal ini disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
‘Dan Firaun berkata (kepada pembesar-pembesar nya), ‘Biar aku yang membunuh Musa dan silakan dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir (waswas) dia akan menggantikan agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi”. (QS. Ghafir: 26).
Solusi Mengatasi Waswas
Dalam Islam setiap hamba dan umatnya telah diberikan petunjuk bagaimana menghadapi dan mengatasi waswas dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Beberapa petunjuk dan tuntutan yang diberikan sebagai berikut
Pertama, minta tolong pada Allah. Hanya Allah Azza Wa Jalla yang dapat menolong (QS. Al Fatihah:5) menghilangkan waswas, sebagaimana yang dialami oleh bunda Musa. (QS. Al Qashash :7,10). Demikian pula dialami bunda Hajar dalam hadits:
“…Ibu Ismail terus saja mengulang-ulang pertanyaannya (karena rasa waswas) berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya ibu Ismail bertanya: “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semuanya ini?” Ibrahim menjawab: “Ya”. Ibu Ismail berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami”. (HR. Bukhari no. 3113).





0 Tanggapan
Empty Comments