Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dipenuhi para pelajar Muhammadiyah pada Sabtu (5/9/2026). Sebanyak 1.000 siswa SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA Muhammadiyah se-DIY berkumpul bersama guru dan tokoh persyarikatan untuk melantunkan tembang macapat secara massal.
Aksi tersebut menjadi pembuka Pekan Kebudayaan Muhammadiyah sekaligus penanda awal perjalanan menuju Milad ke-114 Persyarikatan Muhammadiyah yang puncaknya akan berlangsung pada November 2026.
Agenda yang diinisiasi Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DIY itu berkolaborasi dengan Majelis Dikdasmen & Pendidikan Nonformal (PNF) PWM DIY serta PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) DIY. Kegiatan tersebut juga didukung Dinas Kebudayaan DIY melalui Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) dan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta melalui gerakan Setu Sinau Malioboro.
Acara ini sekaligus beriringan dengan perayaan Mangayubagya 14 Tahun UU Keistimewaan.
Dalam agenda tersebut, para siswa dengan khidmat menembangkan empat jenis macapat, yakni Kinanthi Mangu, Gambuh Jiwa Jawi, Mijil Raramanglung, dan Pocung.
Dua tembang macapat di antaranya ditulis langsung oleh kader IPM DIY, yaitu Kinanthi Mangu dan Gambuh Jiwa Jawi.
Ketua LSB PWM DIY, Dian Korprianing Nugraha, S.S., S.Pd., M.Pd., menyampaikan agenda tersebut digarap secara paralel untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di kawasan Malioboro dan sekitarnya.
“Ini adalah event yang dilaksanakan secara paralel dengan FKY yang digelar Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Setu Sinau Malioboro Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Agenda ini sejalan dengan Mangayubagya 14 tahun UU Keistimewaan dan berlangsungnya FKY tahun 2026 dengan tema AKSARA,” papar Dian.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag., menekankan bahwa acara tersebut menjadi langkah nyata Muhammadiyah dalam mendukung Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang dicanangkan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
“Agenda Macapat 1000 Pelajar Muhammadiyah bagian dari kampanye Muhammadiyah mendukung total program dari Dinas Kebudayaan atau program dari Pemprov DIY terkait dengan pembelajaran khusus budaya Jogja, salah satunya dengan mengenalkan pelajar Muhammadiyah kepada macapat,” ucapnya.
Wakil Ketua PWM DIY, Dr. Iwan Setiawan, M.S.I., menegaskan kehadiran 1.000 pelajar Muhammadiyah dalam momentum tersebut membawa pesan simbolis yang kuat kepada publik.
“Ini bukti bahwasanya Muhammadiyah itu tidak anti-seni dan tidak anti-budaya. Lewat macapat, kita kenalkan bahwa di dalam macapat ada nilai-nilai kebaikan, nasihat untuk giat belajar, menghormati orang tua, dan mengenal sejarah,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, Muhammadiyah merupakan bagian dari pilar Keistimewaan DIY bersama Keraton, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Tamansiswa.
Menurutnya, keistimewaan Yogyakarta harus dibalas dengan kontribusi dan aktivitas positif. Salah satunya melalui macapat yang dilantunkan 1.000 Pelajar Muhammadiyah dalam kegiatan tersebut.
Melihat antusiasme pelajar dan masyarakat, Iwan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada agenda kali ini. Ia menargetkan gelaran serupa dapat melibatkan 5.000 hingga 10.000 pelajar pada tahun depan sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar ke-49 Muhammadiyah pada 2027.
Dukungan penuh juga datang dari LSB PP Muhammadiyah. Dr. Sarjilah, M.Pd., selaku Wakil Ketua 3, menilai seni tradisi sangat efektif dalam membina karakter generasi muda sekaligus menggerakkan massa secara positif.
Pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi LSB di seluruh Indonesia untuk menggali potensi budaya daerah masing-masing.
Ketua Umum PW IPM DIY, Syauqi Marsa Taqiyuddin, juga menyambut baik kolaborasi lintas lembaga dan komunitas tersebut. Menurutnya, pendekatan budaya sangat krusial untuk membentengi pelajar di tengah kompleksitas era digital.
“Melalui macapat bersama ini, kita mengenalkan kembali akar budaya Yogyakarta kepada generasi muda. Apalagi ada karya tembang dari kader sendiri, ini membuktikan bahwa potensi kesenian di kalangan pelajar terus kita beri ruang untuk tumbuh,” pungkas Syauqi.





0 Tanggapan
Empty Comments