Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

6 Guru Smamda Sidoarjo Bawa Inovasi Pembelajaran Berbasis AI, AR, dan Web ke ME Award 2026

Iklan Landscape Smamda
6 Guru Smamda Sidoarjo Bawa Inovasi Pembelajaran Berbasis AI, AR, dan Web ke ME Award 2026
Guru Bahasa Inggris Smamda Sidoarjo, Pratiwi Samsugiyarni, saat mempresentasikan inovasi pembelajaran dalam Lomba Inovasi Pembelajaran ME Award 2026 di UMM, Sabtu (8/8/2026). Foto: Moh. Ernam/PWMU.CO
pwmu.co -

Bukan sekadar datang untuk berkompetisi. Enam guru SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo membawa enam gagasan pembelajaran berbasis teknologi ke panggung Muhammadiyah Education (ME) Award 2026.

Mereka tampil dalam Lomba Inovasi Pembelajaran yang digelar Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/8/2026).

Keenam guru tersebut adalah Pratiwi Samsugiyarni, Mohammad Ernam, Fida Elhijr, Suwidiyanti, Azmil Maghfirah, dan Risa Iffatur Rohmah.

Yang mereka bawa bukan sekadar konsep di atas kertas. Para guru mengembangkan media pembelajaran yang mencoba menjawab kebutuhan murid di kelas dengan memanfaatkan teknologi seperti artificial intelligence (AI), augmented reality (AR), serta platform berbasis web.

Guru Bahasa Indonesia Smamda Sidoarjo, Pratiwi Samsugiyarni, misalnya, membawa Storiescape AI. Media pembelajaran berbasis web ini dirancang untuk membantu murid mempelajari kosakata dan teks reading.

Media tersebut juga masih terbuka untuk dikembangkan dan diterapkan pada berbagai materi pembelajaran lainnya.

Pratiwi mengaku sempat diliputi rasa gugup sebelum mempresentasikan inovasinya di hadapan dewan juri.

“Awalnya saya deg-degan. Setelah menyelesaikan presentasi, alhamdulillah sangat lega,” ujarnya.

Pengalaman berbeda dirasakan Azmil Maghfirah yang mempresentasikan Alur, akronim dari Amati, Lakukan Penyelidikan, Uraikan Data, dan Refleksikan.

Media berbasis web itu dirancang untuk mendorong murid tidak hanya menerima materi, tetapi aktif mengamati, menyelidiki, mengolah data, dan melakukan refleksi.

“Setelah presentasi, perasaan yang saya rasakan otomatis lega. Acara ini juga membuka wawasan saya bahwa ternyata banyak inovasi yang lebih hebat, seperti penerapan IoT dan AR,” kata Azmil.

Ia juga mengapresiasi masukan yang diberikan dewan juri. Menurutnya, masukan tersebut penting untuk menyempurnakan media yang telah dikembangkan.

Teknologi Sekaligus Mengenalkan Ortom

Inovasi lain datang dari Suwidiyanti melalui Trans Gembira, media pembelajaran untuk materi transformasi geometri.

Media tersebut memuat materi translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi. Namun, ada unsur lain yang membuatnya berbeda: Suwidiyanti memasukkan identitas organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah, seperti Hizbul Wathan (HW) dan Tapak Suci, ke dalam media pembelajaran.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurut dia, inovasi pembelajaran tidak harus berhenti pada penyampaian materi akademik.

“Tidak semua murid mengenal Ortom Muhammadiyah. Karena itu, saya juga memperkenalkan HW dan Tapak Suci melalui media ini,” tuturnya.

Sementara itu, Mohammad Ernam membawa Agrimath AR, media pembelajaran berbasis augmented reality untuk membantu murid memahami materi barisan dan deret aritmetika.

Risa Iffatur Rohmah memperkenalkan Try On, berupa lembar kerja peserta didik (LKPD) digital yang dikembangkan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia.

Adapun Fida Elhijr juga tampil membawa inovasi pembelajaran yang dikembangkannya dalam kompetisi tersebut.

Bagi keenam guru Smamda Sidoarjo, ME Award 2026 bukan semata-mata arena untuk memperebutkan penilaian terbaik.

Forum tersebut menjadi ruang untuk menguji gagasan sekaligus melihat sejauh mana inovasi pembelajaran yang mereka kembangkan mampu menjawab kebutuhan pendidikan saat ini.

Presentasi di hadapan dewan juri juga memberikan kesempatan kepada para guru untuk mendapatkan masukan langsung. Pada saat yang sama, mereka dapat melihat berbagai inovasi yang dikembangkan guru dari sekolah Muhammadiyah lainnya.

Azmil menilai pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran masih memiliki ruang pengembangan yang sangat luas.

Karena itu, keenam guru berharap inovasi yang telah mereka bawa ke ME Award 2026 tidak berhenti setelah kompetisi selesai.

Mereka ingin setiap media terus disempurnakan, diuji, dan yang terpenting digunakan dalam pembelajaran nyata di Smamda Sidoarjo.

Keikutsertaan enam guru tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran dapat tumbuh ketika guru diberi ruang untuk bereksperimen, mengembangkan gagasan, dan belajar dari praktik baik guru lainnya.

Di tengah perubahan teknologi pendidikan yang semakin cepat, ruang seperti ME Award menjadi penting: bukan hanya mencari siapa yang terbaik, tetapi mempertemukan para guru untuk saling menguji gagasan, berbagi praktik, dan membawa pulang inspirasi baru ke ruang kelas. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/08/2026 12:43
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu