Suatu pagi, saya melihat salah satu murid kelas enam menunduk di sudut kelas sebelum bel masuk. Jempolnya bergerak cepat di atas layar telepon genggam.
Ketika saya tegur, ia buru-buru menyimpan HP-nya. Namun, sebelum benar-benar memasukkannya ke dalam tas, ia sempat berkata, “Bu, videonya lucu banget. Aku nggak sengaja nonton sampai lupa waktu.”
Anak itu tidak berbohong. Justru di situlah persoalannya.
Ia memang tidak sepenuhnya memilih video tersebut. Ada sistem yang terus menyodorkan video berikutnya, kemudian video berikutnya lagi. Anak hanya perlu melakukan satu hal: menggeser layar.
Ketika satu video selesai, muncul video lain yang dianggap lebih menarik. Sistem itu tidak mengenal adab, sopan santun, kesabaran, ataupun pengendalian diri. Yang dibaca terutama adalah perhatian pengguna, berapa lama ia bertahan, apa yang ia klik, apa yang ia sukai, dan kapan ia kembali lagi.
Di titik inilah pendidikan karakter menghadapi tantangan baru.
Selama ini sekolah terbiasa memandang dirinya sebagai salah satu pusat pembentukan karakter anak. Guru mengajarkan disiplin, kesopanan, tanggung jawab, kejujuran, serta kemampuan mengendalikan diri.
Tetapi kini ada “guru” lain yang tidak pernah masuk ruang kelas, tidak memiliki ijazah keguruan, tidak mempunyai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahkan tidak pernah mendapat mandat dari orang tua. Ia hadir melalui layar dan bekerja selama 24 jam.
Namanya algoritma.
Layar ada di tangan anak ketika guru sudah pulang. Layar menemani anak ketika orang tua sedang bekerja. Bahkan layar dapat tetap menyala ketika rumah sudah gelap dan sebagian besar orang dewasa telah tidur.
Karena itu, persoalan penggunaan gawai pada anak tidak cukup diselesaikan dengan pertanyaan: “Berapa jam anak menggunakan HP?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa yang sedang dilatih oleh anak selama berjam-jam berada di depan layar?
Ketika Algoritma Membentuk Kebiasaan
Penelitian Jylhä, Hirvonen, dan Haider dalam Journal of Documentation (2024) mengenai praktik informasi anak muda menunjukkan bahwa rekomendasi algoritmik dapat sekaligus membuka dan membatasi pilihan informasi.
Dalam penelitian tersebut, algoritma rekomendasi ditemukan berperan dalam mendorong kebiasaan yang semakin pasif karena pengguna dapat menyerahkan proses pencarian informasi kepada sistem.
Artinya, persoalannya bukan hanya anak mendapatkan informasi yang salah atau benar. Lebih jauh dari itu, anak dapat perlahan kehilangan kebiasaan untuk mencari, membandingkan, memilih, dan mempertanyakan informasi secara mandiri.
Anak yang setiap saat disuguhi apa yang dianggap menarik oleh algoritma berisiko terbiasa menjadi penerima. Ia tidak perlu mencari. Tidak perlu menunggu. Tidak perlu mempertimbangkan terlalu lama.
Tinggal geser.
Kebiasaan kecil tersebut tampak sepele. Tetapi karakter manusia dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.
Jika setiap rasa bosan selalu dijawab dengan membuka layar, anak belajar bahwa kebosanan harus segera dihilangkan. Jika setiap waktu kosong harus diisi video pendek, anak kehilangan kesempatan untuk mengalami kesunyian.
Jika setiap pertanyaan langsung dicari jawabannya melalui mesin pencari tanpa proses membaca dan memeriksa, kemampuan bertanya secara mendalam dapat ikut melemah.
Memang, penelitian Jylhä, Hirvonen, dan Haider dilakukan terhadap remaja Finlandia berusia 15–16 tahun, bukan anak-anak Indonesia. Karena itu, hasilnya tidak dapat begitu saja digeneralisasi untuk seluruh siswa di Indonesia.
Namun, penelitian tersebut memberi gambaran penting mengenai bagaimana sistem rekomendasi dapat memengaruhi cara generasi muda berinteraksi dengan informasi.
Dan pola itu terasa semakin dekat dengan kehidupan anak-anak sekolah kita.
Adab Berhadapan dengan Algoritma
Dalam pendidikan Islam, adab tidak berhenti pada persoalan berbicara sopan atau menghormati orang yang lebih tua.
Adab juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, menempatkan sesuatu secara tepat, serta tidak terburu-buru dalam menerima dan menyampaikan informasi.
Di sinilah adab berhadapan dengan algoritma.
Algoritma ekonomi perhatian bekerja dengan membuat pengguna terus bertahan. Konten yang mengejutkan, lucu, kontroversial, emosional, bahkan provokatif dapat memperoleh perhatian lebih besar karena manusia secara alamiah tertarik pada sesuatu yang mampu membangkitkan emosi.
Sementara adab justru meminta manusia untuk berhenti sejenak.
Sebelum berbicara, berpikir. Sebelum menyebarkan berita, memeriksa. Sebelum memberikan komentar, mempertimbangkan perasaan orang lain. Sebelum mempercayai sebuah informasi, mencari tahu sumbernya.
Dengan kata lain, algoritma sering bekerja dengan kecepatan, sementara adab membutuhkan jeda.
Persoalannya, apakah anak kita sudah mempunyai kemampuan untuk menciptakan jeda itu?
Anak Perlu Memahami Cara Kerja Algoritma
Kajian Ernst (2024) yang melibatkan 26 diskusi kelompok dengan anak-anak di Swiss menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya mulai memiliki kesadaran mengenai cara kerja rekomendasi algoritmik.
Mereka dapat memahami bahwa rekomendasi yang muncul di layar tidak selalu netral dan berkaitan dengan kepentingan komersial.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa anak bukanlah pengguna yang sepenuhnya pasif. Mereka dapat memahami bahwa ada mekanisme tertentu di balik konten yang muncul.
Tetapi mengetahui cara kerja algoritma belum tentu membuat anak mampu mengendalikan dirinya.
Anak bisa saja tahu bahwa semakin banyak ia menonton video tertentu, semakin banyak video serupa yang muncul. Namun, pengetahuan tersebut belum otomatis membuatnya berhenti menonton.
Di sinilah pendidikan karakter harus bergerak lebih jauh.
Bukan hanya mengajarkan “algoritma itu bekerja seperti ini”, tetapi juga melatih anak untuk bertanya, “Apakah saya harus mengikuti apa yang terus ditawarkan kepada saya?”
Hal serupa terlihat dalam penelitian de Groot, de Haan, dan van Dijken (2023) yang membahas kesadaran anak muda terhadap algoritma di media sosial.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak muda memiliki pemahaman mengenai hubungan antara perilaku mereka di media sosial dan konten yang kemudian muncul di beranda. Mereka menyadari bahwa aktivitas seperti memberikan tanda suka atau berinteraksi dengan konten tertentu dapat memengaruhi rekomendasi berikutnya.
Namun, kesadaran semacam itu tidak otomatis berkembang menjadi kemampuan kritis untuk memahami kepentingan yang berada di balik sistem tersebut.
Ini menjadi pelajaran penting bagi sekolah.
Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Teknologi
Literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi.
Anak yang mampu membuat akun, mengedit video, mengunggah foto, mencari informasi, atau menggunakan kecerdasan buatan belum tentu memiliki literasi digital yang matang.
Literasi digital seharusnya juga mencakup kemampuan bertanya:
Siapa yang membuat konten ini?
Mengapa konten ini muncul di layar saya?
Mengapa saya merasa tertarik setelah melihatnya?
Siapa yang memperoleh keuntungan jika saya terus menonton?
Apa yang terjadi jika saya tidak mengekliknya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu merupakan latihan berpikir kritis sekaligus latihan adab.
Larangan Saja Tidak Cukup
Sayangnya, respons sekolah sering kali masih berhenti pada larangan.
HP dikumpulkan sebelum pelajaran. Media sosial diposisikan sebagai sumber masalah. Anak diberi nasihat mengenai bahaya internet. Pada pertemuan wali murid, guru mengingatkan orang tua agar membatasi penggunaan gawai.
Semua itu penting.
Tetapi larangan tidak boleh menjadi satu-satunya strategi.
Anak yang tidak membawa HP ke sekolah belum tentu mampu mengendalikan HP ketika berada di rumah. Anak yang patuh meletakkan HP di loker sekolah bisa saja menghabiskan berjam-jam menonton video ketika berada di kamar.
Karena itu, pendidikan karakter digital harus mengajarkan pengendalian diri, bukan hanya kepatuhan terhadap aturan.
Sekolah dapat membuat latihan sederhana. Misalnya, guru meminta siswa membuka beranda media sosialnya dan memilih beberapa konten yang muncul. Kemudian siswa diajak menjawab: mengapa konten tersebut muncul? Apa yang pernah mereka tonton sebelumnya? Apakah setelah menonton konten tertentu, rekomendasinya berubah?
Dari sana, pelajaran dapat berkembang menjadi diskusi mengenai pilihan, kebiasaan, perhatian, dan tanggung jawab.
Anak tidak hanya diberitahu bahwa algoritma ada. Anak diajak menyadari bahwa dirinya juga mempunyai pilihan.
Ia bisa berhenti.
Ia bisa menutup layar.
Ia bisa tidak memberikan tanda suka.
Ia bisa mencari sumber lain.
Ia bisa berkata, “Saya tidak harus mengikuti apa yang ditawarkan kepada saya.”
Di situlah adab mulai bekerja.
Orang Dewasa Juga Harus Menjadi Teladan
Pendidikan karakter digital juga tidak akan berhasil jika hanya diarahkan kepada anak.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat guru dan orang tua. Mereka belajar dari perilaku orang dewasa.
Guru yang meminta murid tidak bermain HP tetapi terus memeriksa telepon genggam ketika anak mengerjakan tugas sedang memberikan pelajaran yang jauh lebih kuat daripada tulisan di papan tulis.
Orang tua yang meminta anak berhenti bermain gawai sambil dirinya sendiri terus menggulir media sosial juga sedang memberikan contoh.
Karena itu, persoalan adab di era algoritma sesungguhnya merupakan persoalan seluruh keluarga dan komunitas pendidikan.
Pertemuan wali murid mungkin perlu mengalami perubahan. Jangan hanya berisi ceramah mengenai bahaya gawai.
Orang tua dapat diajak melihat pola rekomendasi pada perangkat mereka sendiri. Mereka dapat berdiskusi mengenai apa yang sering muncul di beranda dan mengapa konten tersebut terus kembali.
Dari sana, keluarga dapat membuat kesepakatan sederhana.
Bukan hanya berapa lama anak menggunakan gawai, tetapi kapan gawai digunakan, untuk apa digunakan, kapan harus berhenti, dan apa yang dilakukan ketika anak merasa sulit berhenti.
Sebab tujuan akhirnya bukan menciptakan anak yang takut terhadap teknologi.
Tujuannya adalah menciptakan anak yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas dirinya.
Jangan Hanya Menyalahkan Anak
Ada satu persoalan lain yang perlu dibicarakan secara jujur.
Anak memang memiliki tanggung jawab untuk belajar mengendalikan diri. Orang tua dan guru juga memiliki tanggung jawab untuk mendampingi.
Tetapi platform digital juga memiliki peran karena desain produknya dapat memengaruhi bagaimana pengguna berinteraksi dengan konten.
Karena itu, pendidikan karakter digital tidak seharusnya berubah menjadi kebiasaan menyalahkan anak.
Anak tidak menciptakan sistem rekomendasi.
Anak tidak menentukan bagaimana notifikasi dirancang.
Anak tidak menentukan bagaimana video berikutnya dipilih.
Anak juga bukan pihak yang menciptakan ekonomi perhatian.
Maka ketika membicarakan kecanduan layar, perhatian tidak cukup diarahkan kepada anak yang memegang HP. Kita juga perlu membicarakan lingkungan digital yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna.
Pendidikan karakter harus mengajarkan tanggung jawab pribadi sekaligus kesadaran kritis terhadap sistem yang mengelilingi kehidupan anak.
Sekolah Tetap Memiliki Peran Penting
Sekolah memang bukan lagi satu-satunya ruang belajar bagi anak. Bahkan kemungkinan besar sekolah tidak akan pernah kembali menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.
Namun, sekolah masih memiliki tugas penting yang tidak dapat sepenuhnya diambil alih oleh teknologi: mengajarkan anak bagaimana menilai apa yang mereka pelajari.
Anak boleh mengenal TikTok, YouTube, Instagram, gim, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi baru.
Persoalannya bukan apakah anak boleh mengenal teknologi atau tidak.
Persoalannya adalah apakah anak memiliki kemampuan untuk berkata “cukup”.
Apakah ia mampu menutup layar ketika harus belajar?
Apakah ia mampu tidak menyebarkan berita sebelum memeriksa kebenarannya?
Apakah ia mampu tidak ikut menghina seseorang hanya karena banyak orang lain melakukannya?
Apakah ia mampu menolak sebuah konten meskipun algoritma terus menyodorkannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya kembali kepada satu kata: adab.
Adab di era digital bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi. Adab justru berarti membekali anak agar teknologi tidak mengambil alih kemampuan manusia untuk memilih.
Sebab algoritma dapat memilihkan apa yang kita lihat, tetapi manusia tetap harus belajar memilih apa yang layak dilihat.
Algoritma dapat merekomendasikan apa yang kita tonton, tetapi manusia harus tetap memiliki kemampuan untuk mengatakan tidak.
Dan algoritma dapat merebut perhatian kita dalam hitungan detik, tetapi pendidikan memiliki tugas yang lebih panjang: membentuk manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Adab yang bertahan di ujung jari bukanlah adab yang hanya dihafalkan di depan guru. Namun adab yang tetap hidup ketika tidak ada guru yang melihat, orang tua tidak berada di samping anak, dan layar menawarkan satu video lagi untuk ditonton.
Referensi
de Groot, T., de Haan, M., & van Dijken, M. (2023). “Learning in and about a filtered universe: Young people’s awareness and control of algorithms in social media.” Learning, Media and Technology, 48(4), 701–713. https://doi.org/10.1080/17439884.2023.2253730
Ernst, J. (2024). “Understanding algorithmic recommendations: A qualitative study on children’s algorithm literacy in Switzerland.” Information, Communication & Society. https://doi.org/10.1080/1369118X.2024.2382224
Jylhä, V., Hirvonen, N., & Haider, J. (2024). “Algorithmic recommendations enabling and constraining information practices among young people.” Journal of Documentation, 80(7), 25–42. https://doi.org/10.1108/JD-05-2023-0102





0 Tanggapan
Empty Comments