Di tengah tantangan pendidikan abad ke-21, literasi sains dan matematika menjadi keterampilan penting bagi siswa untuk memahami dunia yang semakin kompleks. Salah satu pendekatan yang kini banyak digunakan dalam dunia pendidikan adalah STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diketuai oleh Achmad Hidayatullah dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya berlangsung di MA Muhammadiyah 2 Banjaranyar Bojonegoro. Kegiatan tersebut mencoba menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Integrasi Pendidikan STEM
Konsep ini mengintegrasikan pendidikan STEM dengan budaya local dan literasi matematika, khususnya pola-pola geometri pada Batik Bojonegoro, yang selama ini menjadi identitas budaya daerah setempat.
Batik Bojonegoro memiliki kekayaan motif yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat dengan konsep matematika. Di dalamnya terdapat pola simetri, transformasi geometri, pengulangan, hingga konsep fraktal sederhana. Sayangnya, potensi ini jarang disentuh dalam pembelajaran matematika di sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk melihat bahwa matematika bukan sekadar angka dan rumus, tetapi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.
Pada tahap awal kegiatan, siswa diperkenalkan dengan berbagai motif Batik Bojonegoro, seperti motif Parang Teken, Rajeg Wesi, Sekar Jati, dan beberapa motif khas lainnya. Siswa kemudian diminta mengidentifikasi bentuk-bentuk geometri yang muncul, seperti segitiga, lingkaran, persegi, hingga susunan pola yang membentuk simetri lipat dan simetri putar.
Selanjutnya, pendekatan STEM dihadirkan melalui proses eksperimen. Siswa menggunakan alat sederhana seperti penggaris, kertas berpola, hingga aplikasi desain digital untuk merekonstruksi motif batik secara mandiri. Pada tahap ini, mereka tidak hanya belajar geometri secara konseptual, tetapi juga mempraktikkan teknologi sederhana untuk mendesain pola baru. Pendekatan ini membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan literasi geometri yang cukup signifikan. Siswa lebih mampu menjelaskan konsep-konsep geometri melalui objek nyata yang mereka visualisasikan sendiri.
Peningkatan ini terlihat dari cara siswa menjelaskan jenis simetri, membandingkan bentuk, hingga merepresentasikan ulang pola batik yang mereka buat. Selain itu, penggunaan konteks lokal seperti batik membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi, sehingga pembelajaran terasa lebih menyenangkan dan bermakna.
Kegiatan pengabdian ini sekaligus membuktikan bahwa pendekatan STEM dapat diaplikasikan secara kreatif melalui budaya lokal, tanpa harus menggunakan alat yang rumit dan mahal. Integrasi STEM dan budaya lokal membuka ruang baru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih humanis, kontekstual, dan sesuai kebutuhan zaman. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments