Keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan masjid bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap takmir yang ingin masjidnya tetap hidup dan berkembang. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital, pengurus masjid perlu memberikan ruang, kepercayaan, dan kesempatan kepada anak muda untuk mengambil peran strategis dalam memakmurkan masjid.
Semangat tersebut tampak dalam Workshop Media Kemasjidan yang diselenggarakan Masjid Istiqoomah Gubeng Surabaya pada Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari studi tiru ke Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran yang dilaksanakan pada Mei 2026. Workshop berlangsung pukul 15.00 hingga 19.00 WIB di Masjid Istiqoomah, Jalan Jojoran III No. 146, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya.
Workshop diinisiasi oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Masjid Istiqoomah. Selain menjadi panitia pelaksana, kader-kader IPM juga menjadi peserta utama dalam kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas generasi muda dalam pengelolaan media sosial dan dakwah digital masjid.
Turut hadir Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Kastari Aburidza, S.T., Ketua Takmir Masjid Istiqoomah Chairul Bashori, penasihat masjid Haji Jiran, serta belasan kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang aktif dalam berbagai kegiatan kemasjidan.
Dalam sambutannya, Chairul Bashori menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap para remaja yang selama ini aktif mengelola berbagai program masjid.
“Supaya anak-anak muda yang telah aktif mengurus dan mengelola masjid dapat semakin bersemangat, hari ini kami menghadirkan narasumber untuk memberikan pembekalan terkait pengelolaan media sosial masjid agar lebih berkembang dan bermanfaat bagi jamaah. Narasumber yang hadir merupakan praktisi yang telah membuktikan kompetensinya melalui berbagai pencapaian,” ujarnya.
Sebagai pemateri utama, Bayu Firdaus menyampaikan materi dengan gaya santai, komunikatif, dan mudah dipahami. Meski dikemas secara ringan, materi yang disampaikan sarat pengalaman lapangan dan wawasan strategis tentang pengelolaan media sosial masjid di era digital.
Bayu Firdaus yang merupakan Marbot Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, yang dikenal sebagai Masjid Ramah Musafir, sekaligus Dai Digital Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan bahwa keberlangsungan masjid di masa depan sangat bergantung pada keberhasilan proses regenerasi yang melibatkan generasi muda.
Menurutnya, anak muda saat ini memiliki posisi yang sangat penting karena hidup dan tumbuh di tengah ekosistem digital yang menjadi ruang utama interaksi masyarakat.
“Hari ini para pegiat dakwah digital sedang berperang. Bukan memperebutkan wilayah, melainkan memperebutkan perhatian. Setiap hari anak muda menghabiskan empat hingga delapan jam di media sosial. Jika masjid tidak hadir di sana, maka ruang digital akan diisi oleh pihak lain. Karena itu, remaja masjid bukan hanya penjaga kebersihan masjid, tetapi juga penjaga dakwah di ruang digital,” tegas Bayu.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian serius dari para peserta. Bayu menjelaskan bahwa media sosial kini menjadi salah satu sarana paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat. Karena itu, masjid perlu memiliki tim muda yang mampu mengelola konten, membangun komunikasi dengan jamaah, serta menghadirkan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ia juga mengapresiasi langkah Masjid Istiqoomah yang memberikan ruang bagi kader-kader muda untuk belajar dan berkontribusi dalam pengelolaan masjid. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya meningkatkan keterampilan para remaja, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid.
Lebih lanjut, Bayu mengingatkan bahwa masjid bukan sekadar bangunan untuk menunaikan salat ataupun tempat yang hanya diperuntukkan bagi generasi tua. Masjid adalah rumah Allah yang memiliki banyak fungsi dan peran dalam kehidupan umat. Karena itu, generasi muda harus hadir, tumbuh, dan mengambil bagian di dalamnya.
Menjelang akhir kegiatan, Bayu menyampaikan pesan inspiratif yang mengajak peserta meneladani fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW.
“Masjid pada zaman Rasulullah bukan hanya tempat salat. Masjid juga menjadi pusat pendidikan, pusat ekonomi, pusat informasi, dan pusat perubahan. Hari ini media sosial adalah halaman depan masjid di dunia digital. Jika dahulu dakwah dilakukan dari mimbar ke mimbar, maka sekarang dakwah juga dilakukan dari layar ke layar. Jadilah generasi yang tidak hanya aktif membuat konten, tetapi mampu menjadikan setiap konten sebagai jalan hadirnya kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat,” pesannya.
Antusiasme peserta terlihat hingga kegiatan berakhir. Salah satu peserta sekaligus pengelola media sosial Masjid Istiqoomah, Poppy, mengaku memperoleh banyak manfaat dari materi yang disampaikan.
“Materinya sangat memuaskan dan bermanfaat. Banyak hal baru yang kami pelajari. Kami juga mendapatkan banyak wawasan dan pengalaman berharga dari pemateri,” ungkapnya.
Workshop Media Kemasjidan ini menjadi bukti bahwa ketika takmir memberikan ruang belajar, berkarya, dan berkontribusi kepada generasi muda, masjid akan memiliki kader-kader yang siap melanjutkan estafet dakwah di masa depan.
Sudah saatnya pengurus takmir memandang anak muda bukan hanya sebagai peserta kegiatan, melainkan sebagai mitra strategis dalam memakmurkan masjid. Sebab, masjid yang kuat bukan hanya yang ramai jamaahnya, tetapi juga yang mampu melahirkan generasi penerus yang siap menjaga dakwah, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments