Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar Merawat Diri Menjelang Bulan Muharram Tiba

Iklan Landscape Smamda
Belajar Merawat Diri Menjelang Bulan Muharram Tiba
Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Hubungan Luar PCM Ciracas. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Indar Cahyanto, M.Pd. Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Hubungan Luar PCM Ciracas

Ketika zaman terus bertumbuh dan berkembang seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ruang-ruang privat manusia perlahan terkikis oleh derasnya arus informasi yang hadir selama 24 jam tanpa henti.

Kehidupan manusia pun berubah dengan cepat mengikuti dinamika peradaban. Di tengah kondisi tersebut, kita perlu belajar merawat diri agar tidak hanyut dalam gelombang ego individualisme yang semakin menguat. Terlebih saat kita akan memasuki bulan Muharram, bulan yang menjadi momentum refleksi dan pembelajaran diri.

Gawai yang setiap hari kita pandang dan gunakan hampir tanpa jeda sesungguhnya telah mengubah pola interaksi manusia. Tanpa disadari, kita sering terjebak dalam interaksi yang bersifat semu.

Kita hidup pada zaman ketika jarak antarnegara dapat dipangkas dalam hitungan detik melalui teknologi, tetapi jarak antara kita dengan tetangga sebelah rumah justru terasa semakin jauh.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, kita hidup dalam era individualisme. Sebuah gaya hidup modern yang perlahan meracuni pikiran dan hati melalui bisikan, “Yang penting urusanku selesai, yang penting keluargaku kenyang, yang penting duniaku aman. Urusan orang lain bukan urusanku.” Akibatnya, kepedulian sosial semakin menipis dan kita mengalami krisis yang bernama kelangkaan empati.

Kita sering menyaksikan seseorang tertimpa musibah di jalan. Namun, alih-alih mengulurkan tangan untuk menolong, yang lebih dahulu bergerak justru kamera telepon genggam demi mendapatkan konten. Kita melihat kemiskinan di sekitar, tetapi hati terasa semakin sulit tersentuh.

Rasa peduli berganti dengan sikap apatis, sedangkan persaudaraan perlahan digerus oleh ketidakpedulian. Kita menjadi acuh terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang dialami oleh sesama.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup mulia seorang diri. Islam adalah agama yang merajut kebersamaan dan persaudaraan. Allah Swt. berfirman dalam Surah al-Hujurat ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Mari bertanya kepada diri sendiri. Ketika saudara kita atau tetangga terdekat sedang menangis karena kesulitan hidup, apakah hati kita turut tergerak? Ataukah kita justru tetap nyaman dalam kehidupan masing-masing tanpa sedikit pun merasa peduli?

Rasulullah saw. juga memberikan peringatan yang tegas:

“Bukanlah seorang mukmin yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Al-Baihaqi)

Nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tampaknya mulai memudar. Kepekaan sosial yang dahulu menjadi kekuatan bangsa perlahan melemah. Padahal, di tengah berbagai tantangan kehidupan, termasuk ketidakpastian ekonomi global, rasa kemanusiaan justru semakin dibutuhkan.

Krisis ekonomi yang melanda dunia sering kali dipengaruhi oleh kepentingan kelompok-kelompok pemilik modal yang mengejar keuntungan dan kekuasaan tanpa memedulikan kepentingan banyak orang. Di sisi lain, mereka yang terdampak krisis juga rentan terjebak dalam ego individualisme karena sibuk memikirkan keselamatan diri sendiri.

Dalam sejarah Islam, terdapat pelajaran berharga yang dapat menjadi renungan. Bayangkan sebuah malam di Kota Makkah ketika Rasulullah Saw. harus meninggalkan tanah kelahiran yang sangat beliau cintai. Beliau diusir, diancam dibunuh, dan terpaksa bersembunyi bersama sahabat tercinta, Abu Bakar Ash-Shiddiq, di Gua Tsur.

Ketika para pengejar dari kaum Quraisy telah berada di mulut gua, Abu Bakar merasa cemas bukan karena takut mati, melainkan karena khawatir keselamatan Rasulullah saw. terancam. Pada saat yang sangat genting itu, Rasulullah saw. menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang kemudian diabadikan dalam al-Quran:

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

SMPM 5 Pucang SBY

Tidak lama lagi bulan Dzulhijjah akan berganti menjadi Muharram, yang menandai datangnya tahun baru dalam kalender Hijriah. Muharram mengingatkan kita pada makna hijrah, yaitu proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Selama setahun terakhir, kita telah dididik untuk menjadi pribadi yang bertakwa sekaligus memberikan manfaat bagi sesama manusia.

Karena itu, menjelang datangnya Muharram, marilah kita bertafakur dan melakukan introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan selama setahun terakhir.

Kita perlu memperbaiki hati, memperkuat niat, dan terus belajar sepanjang hayat. Dengan memperbaiki hati, sesungguhnya kita sedang berhijrah menuju perilaku yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Munabbihât ‘alâ Isti’dâdi li Yaumil Mî’âd mengutip penjelasan Imam Hasan Al-Bashri mengenai enam perkara yang dapat merusak hati manusia.

Pertama, berbuat dosa dengan harapan suatu saat akan bertobat. Seseorang sadar bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan, tetapi ia menunda perbaikan diri dengan berbagai alasan.

Kedua, memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Sebagaimana ungkapan hikmah, al-‘ilmu bilâ ‘amalin kasy-syajari bilâ tsamarin (ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah). Hakikat ilmu adalah menghadirkan manfaat dalam kehidupan.

Ketiga, beramal tanpa keikhlasan. Amal yang dilakukan demi pujian dan pengakuan manusia akan kehilangan nilai di sisi Allah.

Keempat, menikmati rezeki Allah tetapi tidak bersyukur. Setiap nikmat yang diterima semestinya melahirkan rasa syukur dan kesadaran bahwa semua berasal dari Allah Swt.

Kelima, tidak ridha terhadap karunia Allah. Pada tingkatan ini, seseorang tidak hanya enggan bersyukur, tetapi juga mudah mengeluh dan merasa kurang atas apa yang telah diberikan kepadanya.

Keenam, menguburkan orang yang meninggal dunia tanpa mengambil pelajaran darinya. Kematian merupakan nasihat yang paling nyata tentang kefanaan hidup. Di hadapan liang kubur, seluruh harta, jabatan, popularitas, dan status sosial tidak lagi memiliki arti. Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil untuk memperbaiki diri. Inilah saatnya berhijrah dari kebiasaan yang melemahkan menuju kebiasaan yang menguatkan, dari kelalaian menuju kepedulian, serta dari sekadar menjalani hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Belajar merawat diri menjelang Muharram berarti belajar menghargai amanah kehidupan, agar setiap langkah hijrah membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.

Selamat menyambut Bulan Muharram 1448 H. Mari berhijrah, bertumbuh, dan memperbaiki diri demi mewujudkan peradaban yang lebih berakhlak, berempati, dan bermartabat.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 11/06/2026 22:27
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu