Beragama secara berkualitas tidak cukup hanya dengan menjalankan ibadah ritual. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari hubungan antarmanusia, kepedulian terhadap lingkungan, hingga kehidupan akhirat.
Karena itu, kualitas keberagamaan seorang Muslim harus tercermin dalam ketaatan kepada Allah SWT, keteladanan kepada Rasulullah SAW, dan keikhlasan dalam setiap amal.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr. KH. Muhammad Sholihin, M.PSDM , dalam Kultum Subuh di Masjid Al-Ikrom Wage, Sidoarjo, Kamis (29/10/2026).
Dalam kultum yang mengusung semangat fastabiqul khairat tersebut, Kii Sholihin mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pemahaman agama secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Ada empat perkara penting yang perlu diperhatikan untuk membentuk pribadi Muslim berkualitas, yakni memahami halal dan haram, saling menasihati, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta menjalankan amar makruf nahi mungkar,” katanya.
Kultum subuh diawali dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta memanjatkan doa agar diberikan hikmah dan limpahan rahmat-Nya.
Doa yang dibaca sebagai berikut:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا رَحْمَتَكَ مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, bukakanlah hikmah-Mu untuk kami dan bentangkanlah rahmat-Mu kepada kami dari gudang-gudang rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.”
Setelah itu, Kiai Sholihin mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur dengan memperbanyak ucapan Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.
Dia berharap, dengan menjadi hamba yang pandai bersyukur, Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya kepada umat Islam, terutama nikmat iman dan Islam.
“Rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hati yang perlu diwujudkan melalui ketaatan dan pemanfaatan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan,” jelasnya.
Kiai Sholihin lalu menjelaskan, Islam merupakan agama yang sempurna. Ajarannya tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, tetapi juga memberikan pedoman dalam berbagai urusan kehidupan.
“Islam itu ajaran yang sempurna. Semuanya diatur. Tidak ada urusan dunia yang tidak diatur, semuanya diatur,” katanya.
Mnurut dia, aturan Islam mencakup hubungan dan interaksi antarmanusia, hubungan manusia dengan binatang, serta hubungan manusia dengan alam dan lingkungan. Bahkan, Islam memberikan tuntunan mengenai kehidupan setelah kematian dan kehidupan di akhirat.
Dengan demikian, Islam menjadi pedoman bagi umatnya untuk menjalani kehidupan yang baik sekaligus mempersiapkan kebahagiaan di akhirat.
“Persoalannya, bagaimana agar keberagamaan seorang Muslim benar-benar berkualitas?,” katanya.
Kiai Sholihin menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang menjadi dasar. Pertama, beragama harus sesuai dengan perintah Allah SWT.
Kedua, sesuai dengan contoh Rasulullah SAW. Ketiga, dilakukan dengan ikhlas semata-mata untuk mendapatkan rida Allah SWT.
Dia mengingatkan bahwa niat merupakan pekerjaan hati, yakni kesengajaan seseorang dalam melakukan sesuatu untuk mencari rida Allah SWT.
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Hadis tersebut menegaskan pentingnya meluruskan niat dalam setiap amal. Seorang Muslim tidak cukup hanya melakukan sesuatu yang tampak baik, tetapi juga harus memastikan bahwa amalnya sesuai dengan tuntunan agama dan dilakukan dengan ikhlas,” terang Kiai Sholihin.
Dia melanjutkan, dalam menjalani kehidupan beragama, seorang Muslim juga perlu memohon petunjuk Allah SWT agar mampu mengenali kebenaran dan menjauhi kebatilan.
Doa yang dikenal luas di kalangan umat Islam ini mengandung permohonan tersebut:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”
Doa ini, kata Kiai Sholihin, menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak hanya dituntut mengetahui kebenaran, tetapi juga harus bersungguh-sungguh mengikutinya.
Sebaliknya, ketika mengetahui suatu perbuatan bertentangan dengan ajaran Islam, ia perlu berusaha menjauhinya.
Prinsip inilah yang kemudian tercermin dalam empat perkara penting yang disampaikan Ustadz Sholihin untuk membentuk pribadi Muslim berkualitas.






0 Tanggapan
Empty Comments