Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Solidaritas Muslim Hindia Belanda untuk Turki Utsmani pada Perang Dunia I

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Solidaritas Muslim Hindia Belanda untuk Turki Utsmani pada Perang Dunia I
Solidaritas Muslim Hindia Belanda untuk Turki Utsmani pada Perang Dunia I. Foto: Rafif
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Rafif Naufal Surya Atta, S.Hum. Pengajar Sejarah dan Bahasa Inggris di Averroes Digital Islamic School, Kota Malang

Setidaknya ada dua hal besar yang mendorong meletusnya konflik berskala global pada tahun 1914–1918, yang kelak dinamai Perang Dunia I. Pertama, adanya persaingan hegemoni yang memanas antara Jerman dan Inggris, di mana masing-masing pihak telah membangun aliansi militernya sendiri. Kedua, percikan apinya meledak ketika Putra Mahkota Austria-Hongaria sekutu Jerman yaitu Pangeran Franz Ferdinand beserta istrinya, dibunuh oleh Gavrilo Princip di Sarajevo pada 28 Juni 1914. Princip adalah seorang nasionalis Serbia, sementara negara Serbia saat itu merupakan sekutu dari Rusia.

Saat Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia, Rusia pun turun tangan membantu sekutunya tersebut. Langkah ini segera diikuti oleh sekutu Rusia lainnya, yakni Inggris dan Prancis, yang tergabung dalam aliansi Triple Entente yang kemudian bertransformasi menjadi Blok Sekutu. Di sisi lain, Jerman dan Austria-Hongaria membentuk Blok Sentral, yang kemudian disusul dengan bergabungnya Kekhalifahan Turki Utsmani pada akhir Oktober 1914. Posisi Turki Utsmani sebagai kekhalifahan umat Islam yang sah saat itu, dimanfaatkan oleh pihak Jerman untuk menggalang dukungan maksimal dari kaum muslimin di seluruh dunia. Seruan ini diwujudkan melalui fatwa jihad yang dikeluarkan oleh Khalifah dan Syaikhul Islam di Istanbul.

Sementara itu, di belahan bumi yang lain, pemerintah kolonial Belanda memilih untuk bersikap netral dalam perang besar ini. Namun, Hindia Belanda (Nusantara) yang mereka jajah adalah rumah bagi mayoritas umat Islam. Gema seruan jihad dari Istanbul itu ternyata menembus batas benua dan lautan, hingga sampai ke telinga kaum muslimin di Nusantara. Kerajaan Belanda yang berlokasi di antara Inggris dan Jerman memilih untuk bersikap netral dalam perang ini. Kendatipun demikian, Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia merasa khawatir dengan seruan jihad yang digemakan oleh Khalifah Utsmani. Jauh sebelum itu, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda telah mati-matian berusaha mematikan Gerakan Pan-Islamisme yang sudah tersebar di Nusantara. Hal ini disebabkan oleh ketakutan Belanda akan bersatunya umat Islam di seluruh dunia yang bisa menghancurkan hegemoni kekuasaan kolomial.

Turki Utsmani memiliki kedudukan yang Istimewa di kalangan umat Islam di seluruh dunia. Berita tentang hal ini dengan cepat tersiar ke Hindia Belanda. Dukungan moril dilakukan oleh kaum Muslimin melalui media surat kabar Oetoesan Hindia milih Sarekat Islam yang secara rutin mengabarkan tentang perkembangan Perang Dunia I. Lebih jauh lagi, masuknya Turki ke Blok Sentral menyebabkan munculnya citra positif Kaisar Jerman sebagai sekutu kaum Muslimin. Foto-foto Sultan Turki dan Kaisar Jerman merupakan komoditas dagang yang laku di Sumatera dan Jawa yang membuat kecemburuan pemerintah kolonial. Selain dukungan moril, kaum Muslimin Hindia Belanda juga memberikan dukungan materil melalui organisasi Hilal-i-Ahmer atau Red Crescent. Oetoesan Hindia mengabarkan bahwa jumlah donasi Al-Hilal al-Ahmar yang sudah dikirimkan ke Istanbul telah mencapai 20,000 gulden. 5 Maret 1916 dokumen dari Kementerian Pertahanan Turki Utsmani melaporkan adanya kiriman hadiah donasi sebesar 817 Guilder dan 6 sen dari masyarakat muslim Hindia Belanda, untuk merayakan kemenangan di Gallipoli.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Sarekat Islam sebagai wadah Politik Muslim di Hindia Belanda melakukan manuver politik yang unik. Sebagai contoh, SI mengakui Sultan Utsmani sebagai Khalifah Umat Islam namun juga mengakui Wilhelmina sebagai penguasa Hindia Belanda.Walaupun Oetoesan Hindia mematuhi kebijakan netralitas Belanda, namun isi beritanya bias mendukung Blok Sentral. Salah satu bentuk penghormatan SI terhadap netralitas Belanda adalah SI dengan sengaja tidak membahas isu jihad di media mereka, yakni Oetoesan Hindia Mengingat di masa itu, Sarekat Islam masih belum menjadi organisasi yang bersifat konfrontatif terhadap pemerintah kolonial dan mencari aman dari delik pers pemerintah colonial.

Leluhur kita telah memberikan teladan bahwasanya mereka memiliki loyalitas kepada Khalifah di Istanbul, kendati terpisah jarak yang begitu jauh. Bukan hanya sebagai formalitas semata, mereka telah mengajarkan arti penting Ukhuwah Islamiyyah baik melalui donasi maupun pembelaan media. Selain itu, ketakutan pemerintah kolonial akan persatuan umat Islam secara global baik dalam hal politik maupun ekonomi merupakan sebuah fakta yang harus kita ambil ibrah. Dengan demikian, Sebagai umat Islam yang mempelajari sejarah, sudah seyogyanya kita mengedepankan persatuan umat demi menciptakan generasi umat Islam berdikari yang tidak bisa didikte kepentingan bangsa Barat. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 29/10/2026 08:21
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu