“Apakah kita sudah cukup berani dan jujur untuk meniru keteladanan ini di tengah riuhnya dunia yang menuntut kita untuk selalu terlihat pintar?” Di era layar digital hari ini, kita hidup dalam kepungan para “Serba Tahu”. Buka media sosial, semua orang mendadak jadi pakar makroekonomi, ahli geopolitik Timur Tengah, hingga mufti dadakan yang fasih mengafirkan sesama.
Mengakui ketidaktahuan seolah menjadi aib digital yang paling menjijikkan. Kita menderita sindrom kepalsuan akut: “lebih baik tersesat dengan gaya dan retorika, daripada selamat dengan kejujuran”
Padahal, dalam tradisi Islam, ada sebuah kemewahan intelektual yang kini hampa dari dada kita, yaitu keberanian untuk mengatakan: “Saya tidak tahu “,
Teladan dari Langit vs. Keangkuhan Bumi
Mari kita tampar ego kita dengan sebuah riwayat otentik. Suatu hari, seorang pria mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya tentang tempat terbaik dan terburuk di bumi.
Apakah Nabi yang mulia, yang dadanya dipenuhi cahaya nubuwah, langsung bersilat lidah agar terlihat keren? Tidak. Beliau menjawab dengan tegas, “Aku tidak tahu”.
Bahkan ketika Jibril—sang pemimpin para malaikat—datang, jawaban yang keluar dari lisannya pun sama: “Aku tidak tahu”. Baru setelah Allah memberikan wahyu, barulah diketahui bahwa tempat terbaik adalah masjid dan yang terburuk adalah pasar (HR. Ahmad).
Pikirkan ini: Jika makhluk paling mulia di bumi (Rasulullah Muhammad SAW) dan makhluk paling suci di langit (Jibril) tidak malu mengatakan “tidak tahu”, lalu dari mana datangnya kelancangan kita yang merasa wajib punya opini untuk segala hal?
Penyakit “Sok Tahu” dan Runtuhnya Adab
Al-Mawardi dalam masterpiece-nya, “Adab ad-Din wa ad-Dunya”, sudah mengingatkan dengan logis: jika menguasai seluruh ilmu itu mustahil, maka menjadi bodoh dalam beberapa hal adalah kewajaran. Dan jika bodoh dalam sebagian hal itu wajar, mengapa harus malu mengakuinya?
Ketika kita memaksakan diri menjawab sesuatu di luar kapasitas, kita sedang meluncur ke dalam jurang penipuan dan kedustaan intelektual. Ironisnya, hari ini otoritas ilmu telah bergeser dari kedalaman kitab menjadi jumlah followers. Siapa yang paling keras berteriak, dialah yang dianggap paling tahu.
Ibnu Mas’ud pernah menegaskan bahwa mengatakan “Allahu A’lam” (Allah lebih mengetahui) pada apa yang tidak kita ketahui adalah bagian dari ilmu itu sendiri. Mengapa? Karena mengakui batas kemampuan adalah langkah awal dari rasa ingin tahu. Tanpa rasa ingin tahu, ilmu akan mati.
Menyejukkan Hati dengan Kejujuran
Ali bin Abi Thalib ra, suatu ketika berbicara di depan orang banyak tentang sesuatu yang bisa “menyejukkan hati”. Tahukah Anda apa hal yang menyejukkan itu? Ali berkata: “Kamu mengatakan ‘Allahu A’lam’ pada sesuatu yang tidak kamu ketahui”.
Ada kedamaian yang luar biasa ketika kita berdamai dengan keterbatasan diri. Ibnu Umar bahkan memuji dirinya sendiri dengan bangga setelah berhasil menolak menjawab hal yang tak diketahuinya: “Sebagus-bagus yang dikatakan Abdullah bin Umar adalah… ‘aku tidak memiliki ilmunya’.”.
Mengatakan “tidak tahu” bukan tanda kelemahan; itu adalah bukti tertinggi dari ketawadhuan, kejujuran intelektual, dan harga diri seorang pembelajar. Wallahu a’lam.**
“….kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.” (QS.Al Isra 85).
“….Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”, (QS.An Nahl 43).***





0 Tanggapan
Empty Comments