Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Akal Manusia Ada Batasnya, Ilmu Allah Tak Bertepi

Iklan Landscape Smamda
Akal Manusia Ada Batasnya, Ilmu Allah Tak Bertepi
Foto: seekersguidance.org
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Akal manusia memiliki batas, sedangkan ilmu Allah tidak bertepi. Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin semakin tawaduk ketika menuntut ilmu. Semakin banyak belajar, semakin ia menyadari bahwa pengetahuan manusia hanyalah setetes dibanding luasnya ilmu Allah yang tak terbatas.

Semakin luas ilmu yang dipelajari, semakin terasa betapa luasnya lautan pengetahuan yang belum tersentuh. Seorang yang benar-benar berilmu justru akan lebih sering mengatakan, “Saya belum tahu,” daripada merasa paling benar.

Masya Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat gambaran sederhana. Seorang anak kecil menganggap laut hanyalah air yang luas.

Ketika dewasa dan belajar ilmu kelautan, barulah ia mengetahui bahwa di bawah permukaan laut terdapat ribuan spesies yang belum pernah ditemukan, gunung-gunung bawah laut, hingga misteri yang masih diteliti para ilmuwan. Semakin banyak yang diketahui, semakin tampak betapa sedikit ilmu yang dimiliki.

Begitulah hakikat ilmu manusia.

Dalam perkara akidah, para ulama salaf telah memberikan teladan yang sangat agung. Mereka tidak pernah mempertanyakan bagaimana Allah beristiwa di atas ‘Arsy. Allah mengabarkannya dalam Al-Qur’an, tetapi tidak menjelaskan kaifiyah (bagaimana hakikatnya).

Mereka mengimani apa yang Allah kabarkan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, tanpa menolak sifat-sifat-Nya, dan tanpa bertanya tentang sesuatu yang tidak Allah jelaskan.

Inilah adab seorang mukmin terhadap perkara gaib: menerima dengan penuh keimanan, bukan memaksakan akal untuk menjangkau sesuatu yang memang tidak Allah bukakan ilmunya kepada manusia.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Cobalah melihat kehidupan hari ini. Teknologi berkembang luar biasa. Manusia mampu mengirim wahana ke luar angkasa, menciptakan kecerdasan buatan, bahkan melakukan operasi yang sangat rumit.

Namun, di balik semua kemajuan itu, masih begitu banyak rahasia ciptaan Allah yang belum terpecahkan.

Dokter spesialis jantung terus meneliti cara kerja jantung manusia yang berdetak sekitar seratus ribu kali setiap hari.

Ahli saraf masih berusaha memahami miliaran sel otak beserta jaringan yang menyusunnya. Dokter spesialis paru terus menemukan fakta-fakta baru tentang sistem pernapasan.

Bahkan para ilmuwan mengakui bahwa tubuh manusia masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya dipahami.

SMPM 5 Pucang SBY

Padahal, semua itu hanyalah makhluk ciptaan Allah.

Ibarat seseorang yang baru mampu memahami setetes air dari luasnya samudra, bagaimana mungkin ia berharap mampu mengetahui hakikat Dzat Sang Pencipta hanya dengan akalnya yang sangat terbatas?

Karena itu, semakin dalam ilmu seseorang, seharusnya semakin tumbuh rasa tawadhu’. Kesombongan justru menjadi tanda bahwa seseorang belum benar-benar memahami hakikat ilmu.

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang makna istiwa’. Beliau menjawab bahwa istiwa’ itu diketahui maknanya, sedangkan bagaimana hakikatnya tidak dapat dijangkau akal manusia.

Mengimaninya adalah kewajiban, sementara mempertanyakan kaifiyah-nya merupakan perkara yang tidak semestinya dilakukan.

Sikap seperti inilah yang mengajarkan keseimbangan antara akal dan wahyu. Islam memuliakan akal sebagai alat untuk berpikir, meneliti, dan mengambil pelajaran.

Namun, akal tetap memiliki batas. Ketika wahyu berbicara tentang perkara gaib yang tidak dapat diindra, seorang mukmin mendahulukan iman di atas rasa ingin tahu yang melampaui batas.

Pada akhirnya, ilmu bukanlah jalan menuju kesombongan, melainkan jalan menuju ketundukan kepada Allah.

Semakin mengenal kebesaran-Nya, semakin kita menyadari bahwa diri ini hanyalah hamba yang diberi ilmu sedikit.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, akidah yang lurus, hati yang tawadhu’, serta keteguhan untuk selalu tunduk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Baarakallahu fiikum. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 27/07/2026 11:20
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu