Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Billahi Fii Sabiilil Haq: Salam IMM, Lambang Pergerakan Sarekat Islam 47 Tahun Sebelumnya

Iklan Landscape Smamda
Billahi Fii Sabiilil Haq: Salam IMM, Lambang Pergerakan Sarekat Islam 47 Tahun Sebelumnya
Lambang Sarekat Islam yang termaktub dalam buku Menemukan Sejarah (Foto: Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid AS Bukan Sejarawan, Ketua Umum IMM Komisariat Tarbiyah IAIN Sunan Ampel 2001-2002

Billahi fii Sabilil Haq Fastabiqul Khairaat. Dalam berbagai kegiatan yang melibatkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), salam penutup ini cukup popular. Ia dibaca ketika seseorang akan mengakhiri pidatonya. Dibaca tepat sebelum mengucapkan salam.

Bukan hanya dalam pidato dan ceramah saja, ia dipakai. Termasuk juga dalam penutupan tulisan yang akan mengakhirinya. Kalimat yang berarti “Dengan nama Allah di jalan kebenaran” ini juga dipakai dalam surat-menyurat. Dalam bentuk apapun, kalimat ini seringkali dinisbatkan IMM atau (mantan) aktivisnya.

Hingga hari ini, saya memang belum pernah menemukan kalimat ini disadur dari buku atau kitab apa. Sependek pengetahuan saya, hampir tidak pernah menemukan kalimat ini dalam buku atau kitab yang terbit sebelum kelahiran IMM. Atau jangan-jangan, kalimat ini memang karya orisinal dari para pendiri saat mendeklarasikan IMM pada 14 Maret 1964.

Titik poinnya, salam penutup itu memang tidak ada dalam Alquran maupun hadits (atau saya belum menemukannya). Hanya sambungan akhirnya yang bisa ditemukan: fastabiqul khairat. Termaktub dalam Albaqarah ayat 148 dan Al-Maidah ayat 48, kalimat ini juga dipakai ortom Pemuda Muhammadiyah.

Dibandingkan dengan salam penutup Muhammadiyah-Aisyiyah, termasuk organisasi otonom lainnya, salam IMM ini cukup unik. Muhammadiyah maupun ortom lainnya, biasa mengambil semangat dari petikan ayat Alquran. Seperti Nashrun minallah wa fathun qariib yang dipakai Muhammadiyah-Aisyiyah.

Kemudian ada Al-birru manittaqaa Nasyiatul Aisyiyah, Fastabiqul Khairat Pemuda Muhammadiyah, serta Nun walqalami wamaa yasthurun yang dipakai Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Semua salam penutup itu berasal dari semangat yang dikutip dari ayat Alquran. Sementara billahi fii sabiilil haq, saya sendiri belum menemukannya dalam Alquran maupun hadits Nabi.

Samar-samar, saat membuka buku sejarah pergerakan Islam, saya baru menemukan tulisan salam khas IMM itu. Bukan dalam Gerakan Muhammadiyah memang, tapi di pergerakan Islam yang pada zamannya bergulindang-bersatu dengan Muhammadiyah. Yaitu Sarekat Islam atau SI, saat diketuai oleh HOS Tjokroaminoto.

Billahi fii sabiilil haq ditemukan dalam lambang SI, yang menurut catatan sejarawan Ahmad Suryanegara resmi dipakai pada 1917. Yang oleh pemerhati sejarah Surabaya dari Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, lambang itu digambar oleh Soekarno. Sosok pemuda yang kost di rumah Tjokroaminoto di Surabaya.

Jika merujuk sosok Tjokroaminoto, saya dapat menyimpulkan bahwa kalimat itu cukup popular pada tahun 1917-an. Sebab, dalam catatan Soekarno, Soekarno yang mampu “menghipnotis” pendengar  melalui pidatonya adalah “cermin Tjokroaminoto”. Bagaimana sosok Tjokjroaminoto saat melontarkan gagasan atau mengenalkan idiom tertentu, mirip-mirip Soekarno.

SMPM 5 Pucang SBY

“Cerminku adalah Tjokjroaminoto. Aku memperhatikannya menjatuhkan suaranya. Aku melihat gerak tangannya dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri,” kata Bung Karno dalam autobiografinya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.

Ungkapan itu hanya mengungkapkan betapa popularnya Tjokroaminoto pada masa itu. Yang tentu saja popular juga pada rangkaian kalimat dan tulisan yang dihasilkannya. Tidak terkecuali kalimat yang dituliskan dalam lambang organisasi yang dipimpinnya.

Saya punya keyakinan jika kalimat billahi fii sabiilil haq ini saat itu cukup popular, seiring dengan keberadaan Tjokroaminoto. Setidaknya sampai tahun 1923, sebelum akhirnya lambang itu tidak dipakai oleh SI. Lambang itu ditinggalkan Ketika SI berubah menjadi partai politik, dan menggantikan lambangnya dengan gambar bulan bintang tanpa ada kalimat billahi fii sabiilil haq.

Mari kita lihat lambang SI yang digunakan pada 1917 sampai 1923 itu. Di tulisan ini hanya membahas yang bagian atas, tidak secara keseluruhan. Di bagian paling atas, terdapat tulisan ayat Alquran Surat Alhujurat ayat 10. Innama al-Mu’minuuna ikhwatun, Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.

Di bawahnya lagi ada gambar matahari bersinar, dengan 16 sinar. Di tengah gambar ini, dalam ukuran penuh, terdapat gambar bulan dan bintang. Barulah di bawah lambang matahari bersinar itu tertulis kalimat billahi fii sabiilil haq. Tentu saja tanpa ada sambungan fastabiqul khairat sebagaimana salam penutup khas IMM.

Idiom yang benar-benar baru dan lahir pada 1964 atau keberlanjutan dari periode sejarah sebelumnya? Billahi fii sabiilil haq fastabiqul khairaat. Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 01/05/2026 13:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡