Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jelang Iduladha, DPRD Jatim Soroti Overstok Hewan Kurban dan Lesunya Daya Beli Masyarakat

Iklan Landscape Smamda
Jelang Iduladha, DPRD Jatim Soroti Overstok Hewan Kurban dan Lesunya Daya Beli Masyarakat
Khusnul Khuluk. Foto: PWMU.TV
pwmu.co -

Anggota Komisi B DPRD Jatim HM Khusnul Khuluk mengungkapkan, Jawa Timur mengalami surplus besar hewan ternak menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Kondisi overstok hewan kurban ini dinilai memprihatinkan karena tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat untuk berkurban.

Dalam podcast PWMU.TV bertajuk Ngode Ngobrol Bareng Dewan, Khusnul menyebut prediksi jumlah sapi yang akan dikurbankan tahun ini hanya sekitar 70.550 ekor, sementara stok sapi di Jawa Timur mencapai 629 ribu ekor.

“Artinya masih ada sisa sekitar 550 ribu sapi. Ini luar biasa besar,” ujarnya.

Tak hanya sapi, surplus juga terjadi pada kambing dan domba. Ia menyebut jumlah masyarakat yang diperkirakan berkurban kambing hanya sekitar 297 ribu ekor, sedangkan stok kambing mencapai 940 ribu ekor.

“Berarti ada surplus sekitar 700 ribu kambing dan domba. Ini yang membuat peternak terpukul karena banyak ternak dibawa ke pasar tetapi tidak laku,” katanya.

Khusnul menilai kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi keberhasilan pengembangan peternakan, tetapi juga penurunan daya beli masyarakat.

Menurutnya, persentase masyarakat yang berkurban di Jawa Timur masih sangat kecil, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi.

“Kecil sekali. Ini perlu menjadi perhatian bersama, termasuk para dai dan tokoh agama agar kembali mengingatkan pentingnya berkurban,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dampak kenaikan dolar terhadap ekonomi masyarakat desa. Menurutnya, meski masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung, kenaikan kurs tetap memengaruhi harga kebutuhan pokok.

“Ketika beli BBM, beli beras, semuanya terdampak dolar. Akhirnya daya beli masyarakat turun,” jelasnya.

Minta Pemerintah Cari Terobosan

Politikus PKS tersebut meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mencari solusi agar surplus ternak tidak terus terjadi setiap tahun. Salah satunya melalui perluasan pasar hingga ekspor.

Dia  mencontohkan sebelumnya pernah ada kerja sama pengiriman kambing ke Malaysia yang sempat membuat harga ternak meningkat.

“Kami berharap pemerintah punya langkah pemasaran ekspor. Kalau tidak, peternak bisa kehilangan semangat memelihara ternak,” katanya.

Selain ekspor, Khusnul juga mendorong agar program makan bergizi gratis memanfaatkan daging kambing dan sapi lokal sebagai menu utama.

“Kalau benar ada 19 ribu pemotongan per hari untuk program makan bergizi gratis, harus benar-benar dibuktikan. Jangan hanya angka di laporan,” tegasnya.

Ia menyayangkan jika menu yang keluar justru didominasi ikan lele di tengah melimpahnya stok kambing dan sapi di Jawa Timur.

Peternak Mengeluh Harga Anjlok

SMPM 5 Pucang SBY

Khusnul mengaku prihatin dengan kondisi peternak kecil, terutama di daerah Lumajang dan Jember yang menjadi salah satu sentra kambing dan domba di Jawa Timur.

Ia menceritakan harga ternak sempat jatuh drastis selama Ramadan. Bahkan anak domba usia empat hingga lima bulan hanya dihargai sekitar Rp100 ribu.

“Lebih murah dari ayam jago. Ini kasihan masyarakat karena ternak itu sebenarnya tabungan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, banyak peternak tidak menghitung biaya merawat ternak, mulai dari mencari rumput hingga menjaga dari pencurian.

Selain persoalan harga, Khusnul juga meminta pemerintah tetap waspada terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak.

Meski kasus PMK disebut menurun dibanding tahun sebelumnya, ia menilai pengawasan pemerintah kini mulai longgar.

“Tahun lalu pengawasan ke pasar hewan dan tempat penyembelihan sangat intens. Sekarang mulai longgar,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membeli hewan dengan gejala seperti ingus berlebihan, air liur terus keluar, atau kaki bengkak.

“Kalau sudah begitu jangan dibeli, karena bisa jadi indikasi PMK,” ujarnya.

Soroti Kebersihan Tempat Penyembelihan

Menjelang Iduladha, Khusnul juga mengingatkan panitia kurban agar memperhatikan aspek kebersihan dan lingkungan, terutama pengelolaan darah dan limbah kotoran hewan.

Menurutnya, penyembelihan di kampung dan masjid tetap diperbolehkan, namun harus disertai penanganan limbah yang baik agar tidak menimbulkan bau dan pencemaran.

“Kalau darah dan kotoran tidak ditangani dengan baik, dua sampai tiga hari setelah penyembelihan pasti akan bau dan mengundang lalat,” katanya.

Ia juga mendukung penggunaan besek bambu sebagai pengganti kantong plastik untuk pembagian daging kurban karena lebih ramah lingkungan sekaligus membantu ekonomi perajin kecil.

Khusnul mengajak masyarakat Muslim meningkatkan kesadaran untuk berkurban karena ibadah tersebut sangat dianjurkan dalam Islam.

“Berkurban itu sunah muakkad dan hanya setahun sekali. Kalau ada kemauan, insyaallah bisa. Dengan Rp 1 juta saja sekarang sudah dapat domba,” ujarnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 26/05/2026 16:12
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu