Ketua Umum Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Desi Ratna Sari menegaskan bahwa Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, melainkan momentum meneruskan estafet perjuangan organisasi. Hal itu dia sampaikan dalam sambutan Musywil XIII PWNA Jawa Timur di Ponorogo, Sabtu (17/10/2026).
Di hadapan peserta dan tamu undangan, Desi menyampaikan apresiasi kepada kader Nasyiatul Aisyiyah yang berjuang untuk hadir dalam permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat wilayah tersebut. Menurutnya, kehadiran mereka menyimpan kisah pengabdian yang tidak selalu mudah dijalani.
“Kami menjumpai kader-kader Nasyiatul Aisyiyah dengan perjuangannya yang luar biasa. Kami menjumpai ibu-ibu muda yang hadir dalam permusyawaratan ini, sedang hamil dan menggandeng putra-putrinya untuk bisa tetap hadir di Musywil ini,” tuturnya.
Dia juga mengungkapkan, terdapat kader yang menyisihkan hartanya untuk mendukung kegiatan organisasi, serta mereka yang membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan pengabdian di Nasyiatul Aisyiyah. Tidak sedikit pula kader yang terus menggerakkan dan mengembangkan cabang serta ranting di tengah keterbatasan.
Bagi Desi, berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya bertumpu pada jajaran pimpinan wilayah, tetapi juga pada komitmen kader di berbagai tingkatan.
“Bagi sebagian orang, mungkin Musywil ini hanya sebatas permusyawaratan yang berlangsung satu periode empat tahun. Tapi bagi kami berbeda. Musywil adalah ruang untuk meneruskan estafet perjuangan Nasyiatul Aisyiyah yang tidak pernah terputus,” ungkapnya.
Refleksi Empat Tahun Kepemimpinan
Dalam sambutannya, Desi turut merefleksikan perjalanan PWNA Jawa Timur selama periode kepemimpinan 2022–2026. Dia mengakui, tidak semua program dapat menjangkau seluruh kader sesuai dengan kebutuhan di tingkat cabang dan ranting. Namun, terdapat pula ikhtiar yang berhasil dilaksanakan dan melampaui ekspektasi.
Menurutnya, capaian selama satu periode tersebut bukan hasil kerja satu atau dua orang di tingkat pimpinan wilayah, melainkan buah dari kebersamaan seluruh keluarga besar Nasyiatul Aisyiyah.
“Satu periode ini bukan hanya milik satu atau dua orang di antara kami yang ada di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Tapi ini adalah milik bersama. Perjalanan perempuan muda yang memilih untuk terus mengabdi,” katanya.

Desi juga menceritakan perjalanan kaderisasinya sebelum mengemban amanah sebagai ketua umum PWNA Jawa Timur. Dia menyebut telah berkiprah selama 10 tahun di Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan 14 tahun di Nasyiatul Aisyiyah dengan niat belajar, tumbuh, dan mengabdi.
“Saya bersyukur diajarkan tentang perjuangan bahwa Nasyiatul Aisyiyah bukan tempat untuk mencari kedudukan, tetapi tempat untuk memperluas kebermanfaatan,” ujarnya.
Atas berbagai kekurangan selama memimpin, Desi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kader dan keluarga besar Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Dia menyadari masih ada program, harapan, dan cita-cita yang belum dapat dituntaskan selama masa kepemimpinannya.
“Jika selama memimpin ada keputusan yang mungkin melukai hati, ada kata-kata yang kurang berkenan, ada harapan yang mungkin belum terpenuhi, ada impian yang mungkin belum kami tuntaskan, saya mewakili Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur periode 2022–2026 memohon maaf,” tuturnya.
Kepemimpinan Berganti, Pengabdian Berlanjut
Desi menegaskan, berakhirnya masa kepemimpinan tidak berarti berakhir pula pengabdian kader. Pergantian kepengurusan merupakan bagian dari perjalanan organisasi, sedangkan kecintaan terhadap Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah harus tetap terjaga.
“Hari ini kami tidak sedang berhenti dari perjuangan karena seorang kader tidak pernah berhenti dari pengabdian. Yang berganti hanyalah posisi, tetapi cinta kami kepada Muhammadiyah, cinta kami kepada Aisyiyah, cinta kami kepada Nasyiatul Aisyiyah tetap akan tumbuh sepanjang hayat kami,” tegasnya.
Dia juga menyampaikan bahwa sejumlah kader PWNA Jawa Timur akan melanjutkan kiprah di Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah. Desi meminta doa agar mereka dapat meneruskan pengabdian di jenjang organisasi yang lebih luas.
Kepada jajaran yang akan melanjutkan kepemimpinan PWNA Jawa Timur, dia berpesan agar organisasi dibesarkan dengan kasih sayang dan keteladanan serta dijalankan dengan semangat kebersamaan.
“Pesan kami agar membesarkan Nasyiatul Aisyiyah dengan kasih sayang. Besarkanlah Nasyiatul Aisyiyah dengan keteladanan dan satukanlah dengan penuh kepercayaan,” pesannya.
Dalam sambutannya, Desi juga menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur yang selama ini membimbing serta mendampingi gerak organisasi. Apresiasi turut disampaikan kepada berbagai pihak yang telah bersinergi dan berkolaborasi dengan PWNA Jawa Timur.
Dia berharap Musywil XIII menjadi momentum untuk menyatukan cita-cita, meneguhkan langkah, dan menguatkan harapan bagi keberlanjutan Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur.
Desi menutup sambutannya dengan semboyan yang selama ini menjadi ciri khas dalam setiap akhir sambutannya, yakni Al-birru manittaqa, yang bermakna kebaikan bagi orang-orang yang senantiasa bertakwa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments