Penampilan Reog Ponorogo Taruno Suryo dari SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo menyemarakkan penyambutan peserta Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur di Ponorogo, Sabtu (17/10/2026).
Pertunjukan seni tradisional khas Ponorogo tersebut menjadi salah satu penampilan yang mewarnai rangkaian kegiatan Musywil PWNA Jawa Timur. Melalui kesenian Reog, peserta yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur disambut dengan pertunjukan yang merepresentasikan kekayaan budaya lokal.
Kepala SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Sugeng Riadi, M.Pd., menjelaskan bahwa penampilan tersebut melibatkan 20 personel penari. Para siswa menjalani latihan sekitar empat hingga enam kali sebelum tampil.
“Biasanya anak-anak latihan sekitar empat sampai enam kali sebelum penampilan,” ujarnya.
Menurut Sugeng, penampilan Reog Taruno Suryo tidak hanya menjadi bagian dari hiburan dalam kegiatan Musywil, tetapi juga membawa misi dakwah. Hal itu tercermin dalam penggunaan lagu *Sang Surya* yang menjadi bagian dari pertunjukan.
“Yang pasti, kami membawa misi dakwah dan memberikan pencerahan. *Sang Surya* sendiri merupakan lagu yang bermakna mencerahkan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pertunjukan tersebut menggambarkan pertarungan antara kekuatan jahat dan Raja Klono Sewandono. Dalam alur yang ditampilkan, kekuatan jahat itu ditaklukkan hingga kemudian menghadirkan penerangan.
Bagi sekolah, perpaduan seni tradisional dengan nilai-nilai Muhammadiyah menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pesan dakwah melalui medium kebudayaan. Pertunjukan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kesenian daerah dapat menjadi ruang ekspresi bagi siswa tanpa melepaskan nilai yang menjadi pijakan pendidikan mereka.
Kelas Seni untuk Mengembangkan Kreativitas Sisw
Sugeng mengatakan, Reog merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo. Sebagian siswa yang terlibat dalam pertunjukan tersebut juga mengikuti kelas seni yang telah dikembangkan sekolah sejak 2020.
Selain kelas seni, sekolah menyediakan sejumlah pilihan peminatan lain untuk mendukung pengembangan potensi siswa. Pengaturan pembelajaran juga dirancang agar siswa memiliki waktu lebih luas untuk mendalami bidang yang diminati.
Menurut Sugeng, pembelajaran umum untuk kelas seni dan sejumlah kelas peminatan lainnya berlangsung pada Senin hingga Rabu. Sementara itu, Kamis dan Jumat dimanfaatkan secara lebih maksimal untuk mengembangkan kemampuan siswa, termasuk dalam bidang kesenian.
“Jadi, kelas seni itu sudah kami mulai sejak 2020 dan ada peminatan yang lainnya juga. Ada kelas seni, kelas interpreter, olahraga, AI, internasional, dan sebagainya,” jelasnya.
Pengembangan kelas seni tersebut menjadi salah satu upaya sekolah untuk memberi ruang bagi siswa dalam mengenal, mempelajari, dan mengembangkan kesenian tradisional. Melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembelajaran berbasis peminatan, siswa tidak hanya berlatih menampilkan sebuah pertunjukan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengasah kreativitas.
Tantangan Menghadirkan Kreasi Baru
Dalam pengembangan kesenian Reog, Sugeng menyebut tantangan muncul ketika siswa harus menyiapkan garapan baru, terutama saat mengikuti festival. Proses tersebut menuntut kreativitas dan persiapan yang lebih panjang karena unsur tari maupun musik perlu dikembangkan sesuai dengan tema yang diusung.
“Tantangannya ketika harus menggarap baru. Jadi, ketika kami ikut Festival Reog Nasional, garapannya harus baru. Sehingga mereka harus berlatih dalam durasi yang panjang. Pelatih juga mencari ragam tari yang baru, musiknya juga baru. Semuanya harus kreasi baru,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa proses berkesenian tersebut menuntut siswa untuk terus menghasilkan variasi dan mengembangkan gagasan sesuai dengan kebutuhan pertunjukan. Dengan demikian, pelestarian kesenian tradisional tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk yang sudah ada, tetapi juga memberi ruang bagi kreativitas generasi muda.
Sugeng berharap keterlibatan SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo dalam pertunjukan Reog dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan seni budaya lokal. Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab untuk turut melestarikan kebudayaan Ponorogo sekaligus memastikan nilai-nilai keislaman tetap menjadi pegangan dalam berkesenian.
“Yang pasti, kami berusaha ikut andil dalam pelestarian seni budaya lokal Ponorogo. Namun, kami juga tidak melupakan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ruh itulah yang kemudian menjadi pegangan untuk berkesenian, sehingga kami lebih jauh dari hal-hal yang negatif,” tandasnya.
Melalui penampilan Reog Taruno Suryo dalam penyambutan peserta Musywil XIII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo menghadirkan seni tradisional sebagai bagian dari kegiatan persyarikatan. Upaya tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, mengenalkan budaya daerah, dan membawa pesan dakwah melalui kesenian. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments