Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dakwah Bukan Sekadar Kata

Iklan Landscape Smamda
Dakwah Bukan Sekadar Kata
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd Guru SD Muhammadiyah 1 dan Sekbid Dakwah PDPM Malang

Di tengah derasnya arus zaman, umat Islam kini menghadapi tantangan yang kian berat.

Kemajuan teknologi memang menawarkan berbagai kemudahan, namun secara bersamaan mengancam akhlak, adab, dan ketenangan jiwa.

Hiburan tanpa batas, budaya instan, serta tontonan yang destruktif perlahan mulai mengikis nilai-nilai ruhani dalam kehidupan sehari-hari.

Dampaknya, banyak orang terjebak dalam kegelisahan yang mendalam; hubungan sosial kian rapuh, hati terasa hampa, dan perlahan sebagian mulai menjauh dari tuntunan agama.

Kondisi ini kian memprihatinkan saat penyimpangan justru datang dari mereka yang membawa panji dakwah dan tampil sebagai representasi agama di mata masyarakat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan tegas di dalam Al-Qur’an:

Wa lā takūnū kalladzīna ādzau Mūsā fa barra-ahullāhu mimmā qālū wa kāna ‘indallāhi wajīhā.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa; lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 69)

Ayat ini mengandung pesan mendalam bagi setiap mukmin agar tidak menjadi penyebab rusaknya kehormatan agama maupun runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap dakwah.

Publik mungkin tidak akan terkejut jika kerusakan moral datang dari mereka yang jauh dari tuntunan agama.

Namun, luka yang paling perih dan mendalam muncul ketika perilaku buruk justru dipertontonkan oleh sosok yang dikenal sebagai tokoh agama, dai, guru, atau aktivis dakwah.

Sebab, pada kenyatannya, umat sering kali memandang dan menilai wajah agama melalui cerminan akhlak para pembawanya.

Hingga akhirnya, muncul ungkapan menyakitkan yang sering kita dengar:

“Jika mereka yang menyampaikan agama saja berperilaku demikian, bagaimana mungkin masyarakat bisa percaya pada dakwah?”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun telah memberikan peringatan yang sangat dalam:

Yaqra’ūnal-Qur’āna lā yujāwizu ḥanājirahum.

“Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi bacaan itu tidak melewati tenggorokan mereka.”

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an sering kali hanya berhenti di lisan, tanpa benar-benar meresap ke dalam hati maupun mewujud dalam perilaku.

Agama baru sebatas penampilan lahiriah, namun belum hadir dalam keluhuran akhlak dan amanah kehidupan.

Kiai Haji Ahmad Dahlan pernah mengingatkan bahwa runtuhnya marwah agama bukan disebabkan oleh lemahnya ajaran Islam itu sendiri.

Melainkan, kehancuran itu dipicu oleh perilaku para pembawa nama agama yang gagal menjaga akhlaknya.

Ketika seorang tokoh agama tergelincir dalam penyimpangan, yang hancur bukan hanya reputasi dirinya, tetapi juga fondasi kepercayaan umat terhadap kesucian dakwah.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa mengajarkan kita untuk memanjatkan doa:

Allāhumma innī a‘ūdzu bika min jahdil-balā’, wa darkisy-syaqā’, wa sū’il-qadhā’, wa syamātatil-a‘dā’.

SMPM 5 Pucang SBY

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah, hinanya kesengsaraan, buruknya takdir, dan kegembiraan musuh atas kemalangan yang menimpaku.”

Sejarah Islam pun mencatat kisah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh, seorang penulis wahyu yang sempat tergelincir, keluar dari Islam, bahkan melontarkan tuduhan keji terhadap Al-Qur’an.

Peristiwa tersebut menjadi ujian yang sangat besar bagi dakwah karena celah itu dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan kepercayaan umat.

Meski pada akhirnya ia mendapatkan hidayah untuk bertaubat dan kembali ke jalan Islam, kisah ini menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Bahwa kerusakan yang dipicu oleh orang-orang yang dekat dengan agama sering kali dampaknya jauh lebih berat daripada serangan dari pihak luar.

Sebab, bagaimanapun juga, dunia akan selalu memandang kemuliaan agama melalui cermin perilaku para pembawanya.

Oleh karena itu, para dai, ustaz, guru, serta seluruh aktivis dakwah memikul amanah yang sangat berat di pundak mereka.

Dakwah bukan sekadar kepandaian dalam berbicara di hadapan manusia, melainkan bagaimana menghadirkan esensi Islam melalui akhlak, keteladanan, dan sikap nyata sehari-hari.

Jangan sampai perilaku kita justru menjadi alasan bagi manusia untuk menjauh dari masjid, enggan mendengar nasihat, atau bahkan kehilangan kepercayaan terhadap agama.

Sebaliknya, jadilah penyejuk bagi umat, penguat bagi mereka yang lemah, serta teladan yang hidup dalam memegang amanah dan keluhuran budi pekerti.

Agama adalah kompas penjaga kehidupan; ketika ia dijaga dengan ilmu dan keteladanan, maka ketenangan akan menaungi segenap aspek kehidupan.

Namun, saat nilai-nilai agama diabaikan oleh para pengembannya, perlahan tapi pasti, kerusakan akan merambat dan merusak berbagai sendi kehidupan.

Ad-dīnu asāsul-ḥayāh, fa idzā dhā‘ad-dīnu dhā‘atil-ḥayāh.

“Agama adalah fondasi kehidupan. Jika agama hilang, maka hilanglah pula arah kehidupan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

Yā ayyuhalladzīna āmanū in tanṣurullāha yanṣurkum wa yutsabbit aqdāmakum.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Kini sudah saatnya seluruh elemen umat bersinergi menjaga marwah dakwah dengan landasan keikhlasan, ilmu, dan keteladanan nyata.

Mari kita tampilkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin; agama yang menenangkan hati, memuliakan martabat manusia, dan menghadirkan kasih sayang dalam setiap sendi kehidupan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga para ulama, dai, guru, dan seluruh umat Islam agar tetap istiqamah dalam memikul amanah dakwah.

Semoga kita semua dikuatkan untuk menjalaninya dengan akhlak yang mulia dan penuh keikhlasan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 09/05/2026 21:33
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡