Ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan Ahmad Ahza Adhyasta setiap pagi. Ketika sebagian teman-temannya mungkin masih sibuk mempersiapkan buku dan perlengkapan belajar, Ahza sudah lebih dahulu membuka jendela-jendela kelas.
Udara pagi dibiarkannya mengalir masuk. Ruang kelas menjadi lebih segar sebelum pendingin ruangan dinyalakan. Sederhana, tetapi bermakna. Kebiasaan itu menunjukkan kepedulian Ahza terhadap lingkungan belajar sekaligus kedisiplinan yang telah tumbuh dalam dirinya.
Siswa kelas VI Akordion SD Muhammadiyah GKB ini memang dikenal sebagai salah satu siswa yang datang paling pagi. Tidak banyak yang menyangka bahwa di balik sosoknya yang sederhana dan kebiasaannya membantu menciptakan suasana kelas yang nyaman, tersimpan semangat seorang atlet muda yang telah beberapa kali berdiri di podium juara.
Ahmad Ahza Adhyasta merupakan putra pasangan Waskita Adiguna dan Nafisah Ummatul Ukhroy. Ia adalah putra kedua dari dua bersaudara.
Sejak Juni 2024, Ahza mulai menekuni olahraga taekwondo di Dojang GTA (Gresik Taekwondo Academy). Sejak saat itu, latihan menjadi bagian dari kesehariannya. Jadwal latihan 10 kali dalam seminggu tentu membutuhkan komitmen dan pengaturan waktu yang tidak sederhana. Meski tidak selalu dapat mengikuti seluruh sesi latihan, Ahza terus berusaha menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh.
Energi Besar yang Menemukan Arah
Keputusan Ahza menekuni taekwondo bukan tanpa alasan. Sang ibu, Nafisah Ummatul Ukhroy, menjelaskan bahwa olahraga menjadi sarana bagi Ahza untuk menyalurkan energi sekaligus mengurangi waktu penggunaan gawai.
“Untuk menyalurkan energi yang besar ke arah yang positif melalui kegiatan fisik dan mengurangi screen time,” ungkap Nafisah dalam wawancara melalui WhatsApp.
Taekwondo pun menjadi lebih dari sekadar aktivitas olahraga. Ahza menikmatinya karena menyukai olahraga, aktivitas fisik, dan keinginan untuk memiliki kemampuan bela diri.
Di atas matras latihan, ia belajar bahwa kekuatan bukan hanya tentang seberapa keras tendangan dilakukan. Ada keseimbangan, ketepatan, konsentrasi, keberanian, dan terutama disiplin.
Setiap latihan menjadi proses untuk mengalahkan tantangan dalam dirinya sendiri. Ketika keringat berubah menjadi medali, kerja keras itu perlahan membuahkan hasil.
Pada kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia antarpelajar Piala Gubernur Jawa Timur 2026, yang diselenggarakan pada 27–30 Agustus 2026, Ahza berhasil meraih Juara 1 Kyorugi Semiprestasi Cadet M-41.
Kejuaraan tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Taekwondo Indonesia Pengurus Provinsi Jawa Timur tersebut menambah panjang catatan prestasi Ahza.
Sebelumnya, ia juga telah meraih beberapa prestasi dalam berbagai kejuaraan, yaitu:
- Juara 1 Kyorugi Semiprestasi Pra-Cadet C M-34, Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia Antarpelajar Jawa Timur 2025.
- Juara 2 Kyorugi Prestasi Pra-Cadet M-34, Kejuaraan Nasional Taekwondo Grade B Jatim Open 2025.
- Juara 2 M-Kyorugi Pra-Cadet Grup 174, Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Surabaya 2025.
- Juara 3 Kyorugi Festival Putra, Gresik Taekwondo Festival 2025.
Deretan medali itu bukan sekadar angka dan gelar. Di balik setiap kemenangan terdapat latihan yang berulang, rasa lelah yang harus ditaklukkan, arahan pelatih yang harus dipatuhi, serta dukungan orang tua yang tidak pernah berhenti.
Resep Juara: Konsisten dan Disiplin
Bagi Ahza, menjadi juara ternyata memiliki resep yang sederhana.
“Kalau mau menjadi juara harus konsisten dan disiplin berlatih, serta patuh arahan pelatih dan orang tua,” ujarnya.
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Konsistensi berarti tetap berlatih ketika semangat sedang tinggi maupun ketika rasa lelah datang. Disiplin berarti tetap melakukan apa yang harus dilakukan.
Menariknya, nilai-nilai tersebut juga terlihat dalam kehidupan Ahza di sekolah. Kebiasaan datang pagi dan membuka jendela kelas menjadi contoh kecil bagaimana kedisiplinan tidak berhenti di tempat latihan. Ia membawanya ke ruang kelas, ke lingkungan sekolah, dan ke kehidupan sehari-hari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments