Menjaga lisan tidak hanya berlaku ketika seseorang berbicara secara langsung. Di era digital, pesan yang sama juga berlaku ketika jari mulai mengetik komentar, membagikan unggahan, atau berinteraksi melalui media sosial.
Pesan itulah yang diangkat Sekolah Menengah Pertama Universitas Muhammadiyah Purwokerto (SMP UMP) dalam pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Dari Lisan ke Jempol: Meneladani Akhlak Rasulullah Saw untuk Melawan Bullying di Media Sosial.”
Peringatan Maulid Nabi kali ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah Saw. SMP UMP juga mengajak siswa meneladani akhlak beliau dalam menghadapi persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi saat ini, salah satunya bullying di media sosial.
Pemilihan tema tersebut berangkat dari kehidupan siswa yang semakin dekat dengan perkembangan teknologi. Media sosial telah menjadi bagian dari keseharian, sehingga kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga etika dan tanggung jawab dalam berkomunikasi.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa akhlak tidak hanya terlihat dalam komunikasi tatap muka. Tulisan, komentar, maupun unggahan di ruang digital juga perlu mempertimbangkan dampaknya agar tidak menyakiti, merendahkan, atau menjadi bentuk bullying terhadap orang lain.
Kepala SMP UMP Zahra Ikhsanda, S.Sos., Gr., M.A., mengatakan perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan tanggung jawab.
“Media sosial hendaknya digunakan secara bijak dan positif dengan tetap mengedepankan kesantunan serta sikap saling menghargai,” kata Zahra dalam sambutannya.
Menurutnya, meneladani akhlak Rasulullah Saw juga dapat diwujudkan melalui cara siswa menjaga sikap dan perkataan, termasuk ketika berinteraksi di media sosial.

Mengendalikan Lisan hingga Jempol
Pengajian tersebut menghadirkan Teguh Wiyono, M.Pd.I., sebagai pengisi kegiatan. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan siswa tentang pentingnya mengendalikan ucapan dan tindakan.
“Kata Nabi, orang yang selamat itu adalah orang yang mampu menyetop mulutnya. Lebih baik diam, mampu mengontrol tangannya, mampu mengontrol mulutnya supaya tidak berkata yang tidak baik,” ujar Teguh.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan digital siswa. Kemampuan menjaga lisan, menurut Teguh, juga perlu diterapkan ketika seseorang menggunakan tangannya untuk mengetik, memberikan komentar, maupun menyampaikan pendapat melalui media sosial.
Karena itu, siswa diajak untuk mempertimbangkan dampak dari setiap kata sebelum disampaikan, baik secara langsung maupun melalui ruang digital. Apa yang ditulis di media sosial dapat memengaruhi dan bahkan melukai orang lain apabila disampaikan tanpa kesantunan dan tanggung jawab.
Tema “Dari Lisan ke Jempol” pun menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak mengubah pentingnya menjaga akhlak. Jika pada masa lalu seseorang diminta menjaga ucapan, saat ini nilai yang sama juga perlu diterapkan ketika menggunakan perangkat digital.
Sikap saling menghormati, menjaga perkataan, dan menghindari tindakan yang merendahkan orang lain menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pergaulan yang sehat. Nilai tersebut tidak hanya berlaku di lingkungan sekolah, tetapi juga di ruang digital.
Melalui pengajian tersebut, SMP UMP berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Keteladanan Rasulullah Saw diharapkan dapat tercermin dalam cara siswa berbicara, bersikap, dan menggunakan media sosial dengan santun serta bertanggung jawab.
Dengan semangat meneladani Rasulullah Saw, sekolah berharap budaya saling menghargai terus tumbuh di lingkungan SMP UMP maupun ruang digital. Pada akhirnya, menjaga lisan dan jempol menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan siswa untuk menolak segala bentuk bullying. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments