Sebuah Poster WhatsApp
Perpindahan Andri ke UMS sebenarnya bermula dari sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah poster penerimaan dosen.
Poster itu beredar melalui WhatsApp. Tidak ada proses pencarian yang dramatis. Tidak ada perencanaan panjang. Namun, kadang-kadang jalan hidup memang datang melalui hal-hal kecil yang nyaris tidak kita anggap penting.
Andri melihat poster itu. Dia mendaftar. Dan akhirnya diterima sebagai dosen tetap Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS pada 2020. Surakarta menjadi rumah berikutnya.
Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Di tempat baru itu, ia tidak hanya mengajar.

Bersama para dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS, ia mulai memikirkan sesuatu yang lebih besar: bagaimana kajian Al-Qur’an tidak berhenti pada jenjang sarjana. Gagasan itu kemudian menemukan bentuknya. Program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mulai dirintis.
Pada 2024, program studi tersebut resmi berdiri. Andri kemudian dipercaya menjadi ketua program studi pertama.
Bagi UMS, kehadiran program tersebut bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan. Ia adalah bagian dari upaya membangun ekosistem keilmuan Al-Qur’an.
Program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir itu menjadi yang pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Program tersebut memperoleh izin operasional dari Kementerian Agama dan dirancang dengan pendekatan interdisipliner, dengan mempertemukan kajian tafsir klasik dan persoalan-persoalan kontemporer.
Di situlah Andri seperti menemukan ruang yang selama ini dicarinya. Bukan semata ruang untuk berkembang sebagai akademisi, tetapi ruang untuk menanam sesuatu. Tradisi.
Tafsir Bukan Sekadar Menerjemahkan
Bagi Andri, belajar Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca bahasa Arab. Bahasa Arab memang penting. Tetapi ia hanyalah salah satu alat.
Tafsir memiliki pekerjaan yang jauh lebih kompleks: berusaha memahami maksud yang dikehendaki Allah melalui ayat dengan memperhatikan bahasa, konteks, kaidah, riwayat, dan perangkat keilmuan yang diperlukan.
Karena itu, Andri melihat pentingnya membangun tradisi tafsir yang memiliki metodologi kuat. Dia sering menemukan kesalahpahaman dalam masyarakat yang muncul karena ayat dipahami secara sepotong atau dilepaskan dari konteksnya.
Dia mengambil contoh Surat An-Nur ayat 26. Ayat tersebut cukup populer dalam pembicaraan mengenai jodoh. Tidak jarang orang memahaminya secara sederhana: laki-laki baik akan mendapatkan perempuan baik, dan sebaliknya.
Menurut Andri, pemahaman semacam itu perlu dilihat kembali melalui konteks turunnya ayat.
Ayat tersebut berkaitan dengan pembelaan Allah terhadap Aisyah RA atas fitnah besar yang menimpanya.
Dengan demikian, pesan utamanya berkaitan dengan kehormatan, kesucian martabat, dan pembelaan terhadap orang yang dituduh secara zalim, bukan sekadar formula tentang siapa berjodoh dengan siapa.
Di titik inilah Andri melihat pentingnya ilmu tafsir. Tafsir tidak boleh berhenti pada terjemahan. Dia membutuhkan perangkat metodologis agar pesan Al-Qur’an tidak dibelokkan oleh pembacaan yang terlalu sederhana.
“Kalau kita berbicara tentang Al-Qur’an dan sunah, idealnya kita juga memiliki pusat kajian yang kuat sampai jenjang doktor,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar harapan akademik. Ada cita-cita yang lebih jauh di belakangnya.
Andri ingin suatu hari UMS memiliki Program Doktor Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Dia membayangkan lahirnya lebih banyak mufasir yang tidak hanya mampu berbicara tentang Al-Qur’an, tetapi juga memiliki fondasi metodologis dan akademik yang kuat.
Sebab, di tengah derasnya informasi keagamaan hari ini, masyarakat berhadapan dengan begitu banyak penafsiran. Sebagian mendalam.
Sebagian lainnya lahir dari pembacaan singkat, potongan video, atau kutipan yang terlepas dari konteks. Karena itu, menurut Andri, tradisi tafsir harus dirawat melalui pendidikan.
Menanam Ilmu untuk Masa Depan
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Andri. Dia tidak terlalu sibuk berbicara tentang dirinya. Yang lebih sering muncul justru gagasan tentang apa yang bisa ditinggalkan setelah dirinya tidak lagi berada di ruang kelas. Mahasiswa.
Bagi Andri, merekalah mata rantai yang paling penting. Ilmu yang dimiliki seorang dosen akan berhenti sebagai pengetahuan pribadi jika tidak diwariskan. Sebaliknya, ilmu akan memiliki umur panjang ketika berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, ia ingin mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS kelak menjadi penerus tradisi keilmuan Al-Qur’an di lingkungan Muhammadiyah.
Mereka tidak sekadar menjadi orang yang pandai mengutip ayat. Mereka diharapkan mampu membaca Al-Qur’an dengan kedalaman ilmu, keluasan wawasan, dan tanggung jawab akademik. Dari sanalah gagasan tentang pusat kajian hingga jenjang doktor menemukan relevansinya.
Sebuah tradisi tidak lahir dalam semalam. Ia dibangun dari ruang-ruang kelas, diskusi, penelitian, buku, tesis, disertasi, dan perdebatan ilmiah yang panjang.
Andri tampaknya memahami betul hal itu. Mungkin karena hidupnya sendiri adalah perjalanan panjang dari satu ruang belajar ke ruang belajar lainnya.
Dari rumah sederhana di Aceh. Dari situasi konflik. Dari kampus di Banda Aceh. Dari dunia kemanusiaan internasional. Dari radio komunikasi IFRC. Dari ruang-ruang kuliah di Sudan. Hingga akhirnya berlabuh di Surakarta.





0 Tanggapan
Empty Comments