Suasana Gedung Dakwah Muhammadiyah PCM Sidayu, Gresik, tampak berbeda pada Selasa (16/6/2026). Meski bertepatan dengan libur Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 H, para guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, pimpinan Muhammadiyah, dan tamu undangan tetap hadir dengan penuh semangat.
Mereka mengikuti kegiatan pelantikan kepala sekolah dan madrasah yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sidayu. Kegiatan tersebut mengusung tema “Kepemimpinan Kolaboratif dalam Membangun Budaya Kerja Guru dan Tendik yang Profesional dan Berkemajuan.”
Namun, lebih dari sekadar pelantikan, kegiatan itu menjadi momentum penting untuk menyatukan kembali visi pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Sidayu.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sidayu, M. Amri Mukhtarifin, menegaskan pentingnya kolaborasi antar lembaga pendidikan Muhammadiyah.
“Kami berharap seluruh lembaga dapat terus berkolaborasi dan bersinergi sebagai sebuah ekosistem. Jika ekosistem sekolah Muhammadiyah terbentuk dan berjalan dengan baik, saya yakin tidak ada yang kekurangan siswa,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan pendidikan Muhammadiyah tidak dapat dibangun oleh satu lembaga saja, melainkan melalui kerja sama yang kuat antarseluruh unsur pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah.
Optimisme serupa juga tampak dari semangat para pengurus yang selama ini aktif bermusyawarah untuk memajukan pendidikan Muhammadiyah di Sidayu.
“Yang penting kita mengedepankan musyawarah mufakat,” pesannya.
Kepemimpinan yang Berani dan Amanah
Pada kesempatan yang sama, Ketua PCM Sidayu, H. Ahmad Muladzidz, menyampaikan sejumlah pesan penting terkait kepemimpinan. Ia memberikan apresiasi kepada para guru dan tenaga kependidikan yang memasuki masa purna tugas setelah mengabdikan sebagian besar hidup mereka untuk pendidikan Muhammadiyah.
Dalam arahannya, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang harus dikejar.
“Menjadi pimpinan tidak boleh diminta atau dikejar. Tetapi ketika diberi amanah, jangan menolak,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian seorang pemimpin dalam menjaga kualitas lembaga.
“Kepala sekolah harus berani menegur jika ada yang salah. Sebaliknya guru dan tendik jangan anti ditegur. Kadang sekolah menjadi rusak justru karena kepala sekolah tidak berani menegur,” ujarnya.
Satu Perguruan dengan Tujuh Lembaga
Dalam sesi pembinaan, penulis mengajak peserta melihat pendidikan Muhammadiyah Sidayu dari perspektif yang berbeda.
Sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan kepada peserta: apakah Muhammadiyah Sidayu memiliki tujuh sekolah dalam satu cabang, atau sebenarnya memiliki satu perguruan yang terdiri atas tujuh lembaga pendidikan?
Pertanyaan tersebut menjadi titik awal diskusi mengenai masa depan Perguruan Muhammadiyah Sidayu.
Selama ini, banyak perguruan yang memiliki beberapa sekolah dalam satu kawasan sering menghadapi persoalan serupa, seperti persaingan memperoleh peserta didik, ego kelembagaan, program yang tidak terintegrasi, hingga lemahnya kaderisasi antarlembaga. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki justru terpecah.
Padahal, Muhammadiyah Sidayu memiliki modal yang sangat kuat. Di bawah naungan PCM Sidayu terdapat SD Muhammadiyah Sidayu, MI Muhammadiyah Golokan, MTs Muhammadiyah 4 Sidayu, SMP Muhammadiyah 9 Sidayu, SMA Muhammadiyah Sidayu, MA Muhammadiyah Sidayu, dan SLB Muhammadiyah Sidayu.
Ketujuh lembaga tersebut sesungguhnya bukan sekadar kumpulan sekolah, melainkan sebuah ekosistem pendidikan yang mampu mengawal proses pembinaan peserta didik dari jenjang dasar hingga menengah.
Membangun Sistem Sekolah Muhammadiyah Terintegrasi
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, diperkenalkan gagasan Integrated Muhammadiyah School System (IMSS).
Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan perguruan tidak hanya diukur dari jumlah siswa pada satu lembaga, melainkan dari kuatnya proses kaderisasi yang berlangsung secara berkesinambungan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.
Melalui sistem yang terintegrasi, seorang siswa yang memulai pendidikan di SD Muhammadiyah Sidayu atau MI Muhammadiyah Golokan diharapkan dapat melanjutkan ke MTs Muhammadiyah 4 Sidayu atau SMP Muhammadiyah 9 Sidayu, kemudian meneruskan pendidikan ke SMA atau MA Muhammadiyah Sidayu.
Pada akhirnya, mereka tumbuh menjadi kader Muhammadiyah yang berilmu, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin masyarakat maupun bangsa.
Karena itu, seluruh elemen pendidikan Muhammadiyah diajak untuk mengubah cara pandang, dari semangat “sekolah saya” menjadi “perguruan kita”.
Ketika satu sekolah maju sendiri, manfaatnya hanya dirasakan oleh lembaga tersebut. Namun ketika seluruh jenjang pendidikan berkembang bersama, yang memperoleh manfaat adalah Muhammadiyah secara keseluruhan.
Dan ketika Muhammadiyah maju, manfaatnya akan dirasakan lebih luas oleh umat dan bangsa.
Menyemai Mimpi Besar
Pelantikan kepala sekolah dan madrasah hari itu bukan sekadar pergantian jabatan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menghadirkan optimisme baru untuk membangun kolaborasi yang semakin kuat di lingkungan Perguruan Muhammadiyah Sidayu.
Masa depan pendidikan Muhammadiyah tidak dibangun oleh satu orang, satu sekolah, atau satu jenjang pendidikan. Ia dibangun oleh seluruh elemen yang memiliki visi yang sama, bergerak dalam satu sistem, dan melangkah menuju tujuan yang sama.
Yakni mewujudkan generasi Islam berkemajuan yang kuat iman, kuat ilmu, kuat karakter, dan kuat kepemimpinannya. Mimpi besar itu bukan sesuatu yang mustahil. Dan Muhammadiyah Sidayu memiliki seluruh modal yang diperlukan untuk mewujudkannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments