Di tengah derasnya arus informasi dan aktivitas daring yang tak terbendung, mahasiswa kian rentan mengalami digital fatigue atau kelelahan akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan.
Kondisi ini, menurut Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Taufiqur Rahman S.IP., M.A., Ph.D, bisa berdampak pada kesehatan fisik sekaligus mental, sehingga diperlukan langkah bijak seperti digital detox untuk memulihkan keseimbangan.
“Secara umum, istilah digital fatigue itu merujuk pada kelelahan, baik fisik maupun mental. Biasanya terjadi karena penggunaan media digital yang berlebihan. Fenomena ini paling banyak dialami mahasiswa, karena mereka merupakan generasi yang paling intens mengakses media sosial dan internet,” jelas Taufiq seperti dilansir di laman resmi UMY, Selasa (9/9/2025).
Menurutnya, kelelahan digital tidak hanya menurunkan kemampuan mahasiswa dalam berkonsentrasi, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan mental. Gejalanya bisa berupa kesulitan fokus, rasa lelah berlebih, hingga keluhan fisik seperti pusing dan mata tegang.
“Kalau sudah sampai tahap tertentu, ini bahkan bisa memicu depresi. Awalnya memang menyerang fisik, misalnya mata lelah karena terlalu lama menatap layar, tetapi lama-kelamaan bisa berdampak pada psikis juga,” ungkapnya.
Kondisi ini diperparah oleh derasnya arus informasi yang dikonsumsi mahasiswa setiap hari. Informasi yang simpang siur dengan konten beragam membuat beban mental semakin berat.
Akibatnya, kelelahan fisik ikut dipengaruhi kelelahan psikis karena harus mencerna terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan.
Meski begitu, Taufiq menekankan bahwa penggunaan teknologi di era digitalisasi tidak bisa dihindari, terutama dalam dunia akademik.
Karena itu, solusi bukanlah menjauhi gawai, melainkan menjaga keseimbangan dalam penggunaannya.
Dia juga merekomendasikan konsep digital detox sebagai salah satu langkah pencegahan maupun pemulihan. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
“Kalau sudah mulai muncul gejala tidak sehat, seperti sulit fokus, cepat lelah, atau mata terganggu, digital detox perlu dilakukan. Caranya bisa dengan mengurangi jam penggunaan media, membatasi akses hanya pada hal-hal penting, dan menghindari aktivitas scrolling yang tidak perlu,”pungkas Taufiq. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments