Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen Psikologi UMM Kupas Quarter Life Crisis dan Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda

Iklan Landscape Smamda
Dosen Psikologi UMM Kupas Quarter Life Crisis dan Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda
Dosen Psikologi UMM Kupas Quarter Life Crisis dan Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda
pwmu.co -

Tekanan untuk segera mapan secara finansial, memiliki pekerjaan tetap, hingga menikah di usia tertentu menjadi salah satu pemicu munculnya Quarter Life Crisis (QLC) di kalangan generasi muda. Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh media sosial yang kerap menampilkan standar kesuksesan semu.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Irine Putri Shaliha, M.Sc., menjelaskan bahwa Quarter Life Crisis berbeda dengan stres biasa. Jika stres umumnya dipicu oleh beban pekerjaan atau konflik yang bersifat sementara, QLC merupakan krisis identitas yang berkaitan dengan arah hidup, karier, hingga kecemasan terhadap masa depan.

Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks. Banyaknya pilihan hidup, persaingan kerja yang semakin ketat, serta penggunaan media sosial yang masif membuat seseorang mudah membandingkan pencapaiannya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

“Setiap individu memiliki garis waktu kehidupannya masing-masing. Oleh karena itu, kita perlu sesekali beristirahat dari media sosial agar tidak terjebak dalam ilusi yang membuat kita merasa tertinggal dari orang lain,” tegasnya kepada Humas UMM, 26 Juni 2026.

Irine menilai anggapan bahwa seseorang harus mapan atau menikah pada usia tertentu hanyalah konstruksi sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat.

Menurutnya, berbagai pertanyaan mengenai pencapaian hidup pada usia tertentu justru berpotensi memicu kecemasan, menurunkan harga diri, hingga membuat seseorang terlalu keras mengkritik dirinya sendiri (self-criticism). Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi depresi.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk lebih fokus membangun kesiapan mental secara bertahap. Dalam perspektif psikologi, kesuksesan tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kesejahteraan fisik, ketenangan mental, dan kualitas hubungan dengan orang lain.

“Tidak ada batasan usia yang baku dalam hal kemapanan maupun pernikahan. Kesiapan psikologis seseorang jauh lebih esensial dan penting dibandingkan sekadar mengikuti aturan atau tuntutan sosial semata,” urainya.

Irine juga menyarankan agar anak muda tidak mengambil keputusan penting ketika sedang berada dalam kondisi emosi negatif atau tidak stabil.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia mendorong generasi muda untuk lebih berwelas asih kepada diri sendiri, menerima berbagai ketidaksempurnaan, dan tetap berani melangkah meskipun pernah mengalami kegagalan.

Menurutnya, kegagalan di usia muda bukan akhir dari perjalanan, melainkan proses penting yang membentuk kematangan berpikir.

“Usia dua puluhan adalah masa untuk eksplorasi dan belajar. Di mana, melakukan kesalahan atau gagal itu sangat wajar. Karena kadang kala, kegagalan itulah yang justru akan membawa kita menuju kesuksesan yang sebenarnya,” paparnya.

Sebagai penutup, Irine menegaskan bahwa Quarter Life Crisis merupakan fase transisi yang wajar dialami banyak orang dan tidak perlu ditakuti.

Ia mengimbau generasi muda untuk berhenti menggunakan standar keberhasilan orang lain sebagai tolok ukur hidup. Sebaliknya, usia dua puluhan sebaiknya dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar, mengembangkan kapasitas diri, serta membangun kesehatan mental yang lebih baik.

Dengan membatasi konsumsi informasi yang memicu rasa rendah diri dan terus berproses, setiap individu memiliki kesempatan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Revisi Oleh:
  • Satria - 27/06/2026 12:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu