Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kembali menunjukkan kiprahnya di kancah internasional dengan menggelar workshop tentang pengelolaan limbah berbasis kearifan lokal di Gifu.
Kegiatan bertajuk Indonesian Model of Household Food Waste Management ini dilaksanakan pada Februari 2026 sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat internasional UMY.
Workshop tersebut memperkenalkan berbagai praktik pengelolaan limbah pangan rumah tangga khas Indonesia, seperti pemilahan sampah organik, pembuatan kompos, hingga pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan ternak dan pupuk alami.
Dalam pelaksanaannya, UMY bekerja sama dengan Gifu Gaikokujin Support Center, dengan peserta yang terdiri dari masyarakat lokal Jepang dan warga asing.
Ketua tim pengabdian, Heri Akhmadi, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan bertumpu pada kearifan lokal dan partisipasi komunitas.
“Praktik ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi serta mendukung prinsip keberlanjutan,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat tinggi selama sesi diskusi. Mereka aktif membandingkan pendekatan pengelolaan limbah di Indonesia dengan sistem teknologi modern yang digunakan di Jepang.
Salah satu topik yang menarik perhatian adalah cara mengendalikan bau dalam proses pengomposan.
“Limbah makanan sebaiknya dicacah agar lebih cepat terurai. Dengan menjaga kelembapan, tumpukan sampah tidak akan terlalu padat sehingga tidak menimbulkan bau,” jelas Heri.
Wakil Direktur Gifu Gaikokujin Support Center, Asano, mengapresiasi metode yang diperkenalkan oleh UMY.
Menurutnya, pendekatan berbasis kearifan lokal dari Indonesia menawarkan solusi yang lebih praktis dan mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.
“Metode ini memberikan perspektif baru yang sederhana namun efektif,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UMY berharap dapat memperkuat pertukaran pengetahuan lintas negara, sekaligus menghadirkan solusi nyata dalam menghadapi tantangan pengelolaan limbah global.
Pendekatan berbasis komunitas dan keberlanjutan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih adaptif dan relevan di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments