Nama pendiri Muhammadiyah adalah KH Ahmad Dahlan. Semasa kecil, dikenal dengan nama Muh Darwisy. Hingga suatu saat dalam perjalanan haji di Mekkah, salah satu ulama terkenal setempat mengganti nama Muh Darwisy jadi Ahmad Dahlan.
Kisah pergantian nama Darwisy menjadi Ahmad Dahlan ini secara lengkap dikisahkan Kyai Syuja’. Salah satu murid langsung KH Ahmad Dahlan yang lahir pada 1882. Catatan tentang gurunya itu dikodifikasikan dalam buku “Islam Berkemajuan, Kisah Perjuangan KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Awal”. Diterbitkan oleh Al-Wasath Jakarta, pada tahun 2009.
Disebutkan pada usia 15 tahun, Darwisy melaksanakan haji untuk pertama kalinya. Berbeda dengan haji hari ini yang fokus pada kaifiyaat dan manasik, haji zaman itu dibarengi dengan belajar. Sambil menunggu waktu pelaksanaan haji, Darwisy belajar agama kepada para ulama di Mekkah.
“Muh. Darwisy rajin pula mengikut serta kawan-kawan yang sama menuntut ilmu kepada para alim ulama bangsa Indonesia yang sudah muqim di sana dan ulama Arab yang sudah dikenalkan sejak dari Tanah Jawa oleh orangtuanya,” tulis Syuja’.
Dalam catatan Syuja’, pembelajaran agama ini makin intens saat memasuki bulan Ramadan. 3 bulan sebelum Zulhijah. Banyak alim ulama yang mengisi waktu satu bulan itu untuk membacakan berbagai kitab di Masjidil Haram. Sejak pagi hingga malam, suasana pembelajaran agama tidak ada putusnya.
“…membaca kitab di Masjidil Haram di waktu pagi sampai siang, dan waktu siang sampai senja sebagai amalan ibadah dalam bulan yang mulia itu.”
Tetapi lanjut Syuja’, ada kekhasan waktu yang biasa digunakan ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah. Kebanyakan ulama itu mengambil waktu malam untuk membaca dan mengajarkan kitabnya, dan juga di rumahnya masing-masing.
Di antara ulama yang disebut Syuja’ adalah K.H. Makhfudz dari Termas, K.H. Nahrawi (Muhtaram) dari Banyumas, K. Muh. Nawawi dari Banten dan ulama-ulama bangsa Arab yang telah dikenal.
Setelah Ramadan berlalu, dan masuk Syawal, ada rutinitas yang dilakukan jemaah haji. Setelah selesai hari Idul Fitri, jamaah haji pada umumnya diantar oleh mutawifnya masing-masing berziarah kepada para pengikut Imam Syafii. “…untuk mengambil ijazah mengganti nama dari nama Indonesia menjadi nama Arab dan ditambah “haji”.”
“Muhammad Darwisy pun tidak ketinggalan ikut serta dalam rombongannya; ia menuju ziarah kepada pengikut Imam Syafii, Sayid Bakri Syatha. Dan dapat ijazah nama Haji Ahmad Dahlan,” terang Syuja’.
Usai pergantian nama itu, KH Ahmad Dahlan tidak lama bermukim di Mekkah. Sesudah habis hari Arafah (hari wuquf) dan menyelesaikan rukun serta wajibnya ibadah haji, dia langsung bersiap pulang ke Tanah Air.
Pada akhir bulan Zulhijah, Kiai Dahlan berangkat dari Mekah menuju Jedah dengan kawan-kawannya semula. Pada permulaan bulan Safar, H.A. Dahlan dan kawan-kawannya sudah sampai di pelabuhan Semarang dan disambut oleh kerabat dan famili-familinya.
Sejak pulang dari ibadah haji pada usia remaja itulah, Muh Darwisy sudah tidak lagi digunakan. Dia lebih dikenal dengan KH Ahmad Dahlan, hingga akhir hayatnya.
Dalam catatan lain, disebutkan Sayid Bakri Syatha adalah seorang tokoh ulama besar. Nama lengkapnya al-‘Allamah Abu Bakar Utsman bin Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimyathi al-Bakri. Lahir pada tahun 1849, dan wafat pada 1892.
Sayid Bakri Syatha berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya. Ia mengajar di Masjidil Haram di Mekkah, serta rujukan ulama berbagai belahan dunia. Khususnya Nusantara.





0 Tanggapan
Empty Comments