Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ekonomi Dunia Bertahan, tetapi Tak Semua Negara Menang

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ekonomi Dunia Bertahan, tetapi Tak Semua Negara Menang
Ilustrasi: wautier.co.uk
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Dr. Anwar Hariyono, SE, M.Si, CIAP Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

AI: Mesin Pertumbuhan Sekaligus Sumber Risiko

Ledakan investasi AI menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi. Perusahaan teknologi berlomba membangun infrastruktur komputasi untuk mengembangkan model AI dan memperluas penerapannya di berbagai sektor.

Investasi tersebut menciptakan permintaan terhadap chip, pusat data, jaringan komunikasi, energi, dan layanan pendukung.

Negara yang menguasai teknologi serta rantai pasoknya dapat menikmati tambahan investasi, lapangan kerja, dan pendapatan ekspor.

Namun, ada pertanyaan yang tidak boleh diabaikan: apakah besarnya investasi hari ini akan menghasilkan peningkatan produktivitas yang sebanding pada masa mendatang?

Investasi teknologi membutuhkan modal besar. Nilai ekonominya bergantung pada kemampuan teknologi tersebut menghasilkan efisiensi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Jika ekspektasi keuntungan terlalu tinggi dibandingkan hasil yang benar-benar tercapai, koreksi pasar dapat terjadi.

Perusahaan bisa menunda investasi, harga saham teknologi terkoreksi, dan sentimen investor memburuk. Efeknya berpotensi menjalar ke sektor lain melalui penurunan nilai aset dan pengetatan pembiayaan.

Karena itu, ledakan AI tidak cukup dibaca sebagai kabar baik bagi ekonomi global. Ia juga mengandung risiko apabila pertumbuhan investasi bergerak jauh lebih cepat daripada realisasi manfaat ekonominya.

Bagi negara berkembang, persoalannya bahkan lebih kompleks. Mereka bukan hanya dituntut mengadopsi teknologi baru, tetapi juga harus memastikan bahwa manfaat AI tidak berhenti pada perusahaan dan negara yang sejak awal menguasai modal, infrastruktur, serta sumber daya manusianya.

Tanpa strategi yang tepat, revolusi AI berpotensi memperlebar kesenjangan produktivitas antara negara maju dan negara berkembang. Krisis energi tidak memukul semua negara dengan cara yang sama

Ketegangan geopolitik memperlihatkan sisi lain ketimpangan ekonomi global. Negara eksportir energi dapat memperoleh tambahan pendapatan ketika harga komoditas meningkat.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Sebaliknya, negara pengimpor harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh pasokan yang sama.

Kenaikan harga energi tidak berhenti di sektor migas. Biaya listrik, transportasi, pupuk, dan produksi barang ikut terpengaruh.

Jika tekanan berlangsung lama, perusahaan menghadapi kenaikan biaya, sementara rumah tangga kehilangan sebagian daya belinya.

Negara yang memiliki cadangan devisa memadai, kapasitas fiskal kuat, dan sumber energi yang terdiversifikasi relatif memiliki lebih banyak pilihan untuk meredam guncangan.

Negara dengan kemampuan terbatas harus membuat pilihan yang lebih sulit: mempertahankan subsidi, membiarkan sebagian kenaikan harga diteruskan kepada masyarakat, atau menambah utang untuk menutup kebutuhan pembiayaan.

Laporan IMF menyoroti bahwa tekanan semacam ini berisiko memperlebar ketimpangan, baik di dalam suatu negara maupun antarnegara.

Kelompok berpendapatan rendah biasanya memiliki ruang yang lebih sempit untuk menyesuaikan pengeluaran.

Porsi pendapatan mereka yang digunakan untuk membeli pangan, membayar transportasi, dan memenuhi kebutuhan energi relatif sulit dikurangi.

Ketika harga naik, pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan produktif lainnya bisa terdesak.

Dengan demikian, gejolak komoditas bukan semata persoalan perdagangan internasional. Ia juga berkaitan langsung dengan distribusi kesejahteraan.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/10/2026 04:47
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu