Pagi itu, Jumat (8/5/2026), mentari belum sepenuhnya tinggi di ufuk timur, namun riuh rendah suara sapu lidi yang beradu dengan tanah dan tawa renyah para siswa sudah memecah keheningan di Jalan Gilisilat No 26 Sananwetan Kota Blitar.
Halaman SMP Muhammadiyah 1 Blitar yang biasanya tertib untuk kegiatan upacara, berubah menjadi palagan gotong royong.
Puluhan warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf kependidikan, tumpah ruah dalam sebuah aksi kolektif bertajuk Gerakan ASRI.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda bersih-bersih biasa. Perhelatan ini digelar sebagai representasi peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Lebih dari itu, aksi nyata ini merupakan langkah konkret sekolah dalam menindaklanjuti instruksi Dinas Pendidikan Kota Blitar serta Surat Edaran (SE) Walikota Blitar Nomor 7 Tahun 2026 tentang Gerakan ASRI—akronim dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
Sejak pukul 07.00 WIB, seluruh elemen sekolah telah bersiap dengan perlengkapan masing-masing. Ada yang membawa bibit tanaman, media tanam, hingga alat alat kebersihan.
Suasana gotong royong ini seolah membangkitkan kembali marwah pendidikan karakter yang dicanangkan Ki Hadjar Dewantara, di mana sekolah bukan hanya tempat mengejar angka di atas kertas, tapi juga ladang persemaian budi pekerti dan kepedulian terhadap lingkungan.
Gerakan ASRI di SMP Muhammadiyah 1 Blitar ini dirancang secara komprehensif. Tidak hanya menyasar pada kebersihan fisik (Resik), tetapi juga mencakup aspek keamanan lingkungan (Aman), pola hidup warga sekolah (Sehat), dan estetika tata ruang hijau (Indah).
Partisipasi aktif dari seluruh warga sekolah tanpa terkecuali menjadi kunci keberhasilan acara ini. Inklusivitas ini terlihat dari bagaimana setiap individu memiliki peran, mulai dari kepala sekolah yang ikut memotong ranting bunga pucuk merah hingga siswa yang memilah sampah organik dan anorganik untuk dibawa ke bank sampah sekolah.
Implementasi SE Walikota Blitar Nomor 7 Tahun 2026 menjadi pemantik utama gerakan ini. Pemerintah Kota Blitar memang tengah gencar mendorong instansi pendidikan untuk menjadi pionir dalam pelestarian lingkungan perkotaan.
SMP Muhammadiyah 1 Blitar, sebagai salah satu sekolah rujukan di Kota Patria, merasa memiliki kewajiban moral untuk memberikan contoh nyata.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Siti Muhibbah S.Ag., dalam pernyataannya di hadapan warga sekolah, menekankan bahwa Gerakan ASRI adalah kristalisasi dari nilai-nilai luhur pendidikan.
Menurutnya, lingkungan yang terjaga adalah prasyarat mutlak bagi proses belajar mengajar yang berkualitas.
“Gerakan ASRI ini merupakan tindak lanjut langsung dari mandat Bapak Walikota dan Dinas Pendidikan. Namun bagi kami, ini lebih dari sekadar menjalankan regulasi. Ini adalah komitmen jangka panjang. Kami ingin memastikan SMP Muhammadiyah 1 Blitar menjadi ekosistem yang Aman dari perundungan dan bahaya fisik, Sehat secara jasmani dan rohani bagi penghuninya, Resik dari sampah, serta Indah dipandang mata sebagai taman belajar yang nyaman,” tegas Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar.
Beliau menambahkan bahwa momentum Hardiknas 2026 dipilih agar para siswa memahami bahwa kemerdekaan belajar juga mencakup kemerdekaan untuk menghirup udara segar dan belajar di lingkungan yang asri.
“Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari lingkungan hidup. Jika lingkungan sekolahnya sakit, maka output pendidikannya pun tidak akan maksimal,” imbuhnya.
Ke depan, SMP Muhammadiyah 1 Blitar berencana melakukan evaluasi berkala setiap bulan untuk memastikan semangat ASRI tetap menyala.
Sekolah ini membuktikan bahwa literasi lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari literasi dasar yang harus dikuasai oleh generasi masa depan bangsa.
Dengan langkah kecil di halaman sekolah ini, warga SMP Muhammadiyah 1 Blitar telah menyumbangkan sebuah narasi besar bagi kemajuan pendidikan di Indonesia: bahwa sekolah yang hebat dimulai dari sekolah yang bersih, sehat, dan bermartabat.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments