Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SPEAM Kota Pasuruan Cetak Generasi Qur’ani Berjiwa Entrepreneur

Iklan Landscape Smamda
SPEAM Kota Pasuruan Cetak Generasi Qur’ani Berjiwa Entrepreneur
SPEAM Kota Pasuruan Cetak Generasi Qur’ani Berjiwa Entrepreneur
pwmu.co -

Pondok Pesantren SPEAM atau Sekolah Pesantren Entrepreneur Al-Ma’un Muhammadiyah (SPEAM) Kota Pasuruan terus memantapkan posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam modern yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Tidak hanya berfokus pada pendalaman ilmu agama dan pencetakan penghafal Al-Qur’an, pesantren ini juga mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan, penguasaan bahasa asing, serta pengembangan keterampilan abad ke-21.

Pengasuh Pondok Pesantren SPEAM, Ustadz Umar Efendi, menjelaskan bahwa paradigma masyarakat terhadap pesantren perlu diperluas.

Menurutnya, pesantren masa kini tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, keterampilan, dan kemandirian.

“Banyak orang mengira pesantren itu hanya teman untuk anak-anaknya sebagai (tempat) mengaji atau memimpin balik agamanya saja. Padahal hari ini, pesantren berkembang menjadi pusat pendidikan yang memadukan karakter pribadi, agama, dan usaha,” ujar Ustadz Umar dalam sesi dialog podcast, Rabu (3/6/2026).

Salah satu program unggulan SPEAM adalah Tafsir Qawla, sebuah program yang dirancang untuk mencetak santri yang mampu menjadi interpreter atau penerjemah langsung Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Menurut Ustadz Umar, model pembelajaran bahasa tersebut menjadi salah satu inovasi yang masih jarang ditemukan di pesantren Indonesia.

Selain penguatan bahasa, para santri juga dibekali kemampuan kewirausahaan melalui program Foodpreneur. Dalam program ini, santri tidak hanya mempelajari teori bisnis, tetapi juga praktik memproduksi dan memasarkan produk makanan secara mandiri di lingkungan pesantren.

Keterampilan berbasis lingkungan juga menjadi bagian dari kurikulum. Santri dilatih membuat Batik Eco-brick serta mengelola kompos organik sebagai sarana menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun jiwa kreatif dan produktif.

Untuk mendukung kompetensi digital, SPEAM menghadirkan program Jurnalistik dan Public Speaking. Melalui program ini, santri belajar berbicara di depan kamera, mengoperasikan peralatan produksi, hingga membuat konten kreatif yang bernilai positif.

Meski memiliki beragam program pengembangan diri, SPEAM tetap menempatkan hafalan Al-Qur’an sebagai prioritas utama.

Pada program reguler, santri ditargetkan menghafal minimal enam juz Al-Qur’an sebelum lulus. Sementara pada program Takhassus, target hafalan ditingkatkan menjadi minimal lima juz setiap tahun.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren berupaya menyeimbangkan penguasaan ilmu agama dengan keterampilan yang relevan terhadap kebutuhan masa depan.

Padatnya aktivitas santri diatur melalui sistem manajemen waktu yang terstruktur agar tidak menimbulkan kejenuhan maupun tekanan berlebihan.

SMPM 5 Pucang SBY

Kegiatan formal berlangsung hingga pukul 14.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan waktu istirahat. Setelah shalat Ashar, para santri diberikan kesempatan mengembangkan minat dan bakat melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.

Beberapa pilihan ekstrakurikuler yang tersedia antara lain futsal, basket, badminton, Tapak Suci, hingga olahraga memanah yang bertujuan melatih konsentrasi dan ketahanan diri.

Menanggapi berbagai isu kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan berasrama, Ustadz Umar menegaskan bahwa SPEAM menerapkan sistem pengawasan yang ketat dan humanis selama 24 jam.

Para musyrif atau pembina asrama ditempatkan di kamar yang berdekatan dengan santri untuk memastikan pendampingan berjalan optimal.

“Para musyrif ini mendampingi 24 jam untuk mengawasi, mengatur irama santri, dan menjauhkan dari potensi kekerasan,” jelasnya.

Selain itu, pihak pesantren juga memiliki rencana jangka panjang untuk melibatkan tenaga psikolog guna memantau perkembangan mental dan psikologis santri secara berkala.

Dalam kehidupan berasrama, perbedaan pendapat antar santri menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Namun demikian, SPEAM memilih pendekatan dialog dan mediasi sebagai solusi utama dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Santri dibiasakan menerima perbedaan tanpa melibatkan emosi negatif maupun kekerasan fisik.

“Pokoknya boleh berbeda, tapi tidak ada kekerasan dalam perbedaan,” tegas Ustadz Umar.

Apabila terjadi pelanggaran disiplin, pesantren menerapkan sistem Surat Peringatan (SP) secara bertahap mulai dari SP 1 hingga SP 3. Namun, menurut Ustadz Umar, dinamika yang terjadi selama ini masih dalam batas wajar dan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Melalui visi membentuk generasi Islami, moderat, dan berjiwa entrepreneur, SPEAM Kota Pasuruan optimistis mampu melahirkan lulusan yang siap bersaing di perguruan tinggi maupun berkontribusi langsung di tengah masyarakat dengan karakter yang kuat dan mentalitas yang matang.

Revisi Oleh:
  • Satria - 03/06/2026 21:21
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu