Manusia menghadapi tantangan yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Jika dahulu seseorang bisa kehilangan kesadaran karena khamr atau minuman keras, kini banyak orang mengalami kondisi serupa tanpa harus menyentuh setetes alkohol. Mereka mabuk oleh layar, tenggelam dalam arus informasi, dan kehilangan kendali atas waktu serta perhatian mereka.
Tulisan ini sejatinya menjadi pengingat bagi penulis sendiri yang merasa terpukul oleh realitas tersebut. Semoga menjadi bahan renungan bersama ketika kita mulai lalai dan kehilangan arah.
Mungkin sebagian orang akan ragu ketika mendengar istilah khamr digital. Namun, coba renungkan sejenak. Berapa kali kita melewatkan adzan karena terlalu asyik menonton video pendek? Berapa kali tugas tertunda, pekerjaan terbengkalai, atau percakapan dengan keluarga terabaikan karena perhatian kita sepenuhnya tersedot ke layar ponsel?
Fenomena ini bukan sekadar persoalan malas atau kurang disiplin. Ada mekanisme yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari media sosial.
Para perancang teknologi menghadirkan algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Setiap geseran layar menghadirkan kejutan baru yang memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang menimbulkan rasa senang secara instan.
Mekanisme tersebut memiliki kemiripan dengan pola yang terjadi pada perjudian maupun perilaku adiktif lainnya. Tanpa disadari, mata dan jempol terus “menenggak” rangsangan visual tanpa henti hingga akhirnya seseorang kehilangan kendali terhadap waktu dan tanggung jawabnya.
Bukankah kondisi seperti ini memiliki kemiripan dengan efek khamr yang menutupi akal dan menghilangkan kesadaran?
Fenomena mabuk digital mengingatkan kita pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 19:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١٩
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Ayat tersebut terasa sangat relevan dengan kondisi masyarakat digital saat ini. Ketika seseorang terus-menerus larut dalam hiburan tanpa batas, ia perlahan menjadi asing terhadap dirinya sendiri.
Ia kehilangan kesadaran tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, tujuan yang ingin dicapai, bahkan hubungan spiritualnya dengan Allah SWT.
Mabuk digital pada akhirnya bukan hanya membuat seseorang lupa waktu, tetapi juga berpotensi membuatnya lupa kepada Tuhannya.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap nilai waktu. Allah SWT bahkan bersumpah atas nama waktu dalam Surah Al-‘Ashr sebagai penegasan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh.
Kerugian terbesar generasi hari ini bukan semata kehilangan uang atau harta benda, melainkan kehilangan waktu.
Ironisnya, waktu tersebut sering kali diserahkan secara sukarela kepada platform-platform digital yang memperoleh keuntungan dari perhatian penggunanya. Semakin lama seseorang terpaku pada layar, semakin besar nilai ekonomi yang dihasilkan bagi perusahaan teknologi.
Sementara itu, pengguna justru kehilangan kesempatan belajar, berkarya, beribadah, dan memperbaiki kualitas hidupnya.
Salah satu dampak yang paling terasa dari konsumsi konten digital berlebihan adalah menurunnya kualitas ibadah.
Otak yang terbiasa menerima stimulasi cepat dari video pendek akan mengalami kesulitan ketika diminta tenang dan fokus dalam waktu yang lebih lama. Akibatnya, kekhusyukan menjadi semakin sulit diraih.
Baru memulai salat, pikiran sudah melayang ke berbagai arah. Baru membaca beberapa ayat Al-Qur’an, muncul dorongan untuk membuka ponsel atau mencari hiburan lain.
Belum lagi berbagai konten yang setiap hari dikonsumsi, mulai dari budaya pamer, gosip, sensasi, hingga perdebatan tanpa manfaat. Semua itu meninggalkan jejak dalam hati dan pikiran yang perlahan memengaruhi cara seseorang memandang hidup.
Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan ukuran sederhana sekaligus mendalam. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk hal-hal bermanfaat, semakin baik kualitas keislaman seseorang.
Tentu solusi yang ditawarkan bukan dengan menghapus seluruh aplikasi media sosial atau menjauh total dari teknologi. Pada kenyataannya, media digital juga menjadi sarana belajar, berdakwah, bekerja, dan menjaga silaturahmi.
Yang diperlukan adalah membangun kembali kendali diri.
Sebagaimana puasa melatih manusia mengendalikan hawa nafsu, kita juga perlu melatih diri melalui apa yang bisa disebut sebagai puasa digital.
Langkahnya tidak harus ekstrem. Mulailah dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti:
- Membatasi waktu penggunaan aplikasi media sosial.
- Tidak membuka ponsel pada jam pertama setelah bangun tidur.
- Menetapkan area bebas gawai di kamar atau ruang keluarga.
- Mematikan notifikasi saat salat, belajar, bekerja, atau berkumpul bersama keluarga.
Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut dapat membantu mengembalikan posisi manusia sebagai pengendali teknologi, bukan sebaliknya.
Teknologi pada dasarnya adalah alat. Di tangan orang yang bijak, ia menjadi jalan menuju ilmu, dakwah, dan kemaslahatan. Namun di tangan yang lalai, teknologi dapat berubah menjadi khamr tak berwujud yang perlahan merusak masa depan dan meredupkan cahaya iman.
Karena itu, sebelum jempol kembali menggeser layar untuk mencari video berikutnya, berhentilah sejenak.
Tarik napas.
Lalu tanyakan dengan jujur kepada diri sendiri:
Siapa yang sebenarnya memegang kendali? Kita, atau ponsel yang perlahan menjajah hidup kita?
Wallahu a’lamu bisshawab.





0 Tanggapan
Empty Comments