Guru Muhammadiyah dituntut tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman dan menjadi pemimpin perubahan.
Kemampuan beradaptasi dengan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Hal itu disampaikan Faozan Amar, Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA sekaligus Wakil Ketua MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Pengajian Bulanan bagi Guru dan Karyawan di lingkungan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebayoran Lama, Jumat (28/8/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Strategi Manajemen Guru Muhammadiyah dalam Mencetak Pelajar Berkemajuan” tersebut berlangsung di Masjid Al Ikhsan Perguruan Muhammadiyah Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Acara diikuti lebih dari 200 peserta.
Dalam paparannya, Faozan menjelaskan bahwa guru Muhammadiyah perlu memiliki visi yang jelas dan kokoh dalam nilai Al-Qur’an, Sunnah, serta Kemuhammadiyahan. Pada saat yang sama, guru juga dituntut terbuka terhadap tajdid dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Guru Muhammadiyah harus menjadi pembelajar sepanjang hayat dan pembaca zaman. Teknologi boleh berubah, tetapi nilai dan keteladanan tidak boleh hilang,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Faozan menawarkan enam prinsip strategis yang perlu dimiliki guru Muhammadiyah. Keenamnya adalah Vision, Value, Tajdid, Technology, Teladan, dan Action.
Prinsip tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya pelajar berkemajuan yang tidak hanya memiliki iman dan ilmu, tetapi juga akhlak, daya pikir kritis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian sosial.
Guru juga ditempatkan sebagai sosok yang memberikan teladan bagi peserta didik. Karena itu, kemampuan mengikuti perubahan zaman perlu tetap disertai dengan keteguhan nilai yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah.
Menutup ceramahnya, Faozan menekankan pentingnya peran guru dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkemajuan.
“Guru Muhammadiyah harus menjadi guru yang berkemajuan: kuat nilai, luas ilmu, terbuka terhadap perubahan, cerdas menggunakan teknologi, dan nyata amalnya. Sekolah berkemajuan lahir dari guru berkemajuan; guru berkemajuan melahirkan pelajar berkemajuan; dan pelajar berkemajuan akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PCM Kebayoran Lama Ahmad Jahid mengajak seluruh peserta untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
“Sebab dengan bersyukur nikmatnya akan ditambah oleh Allh SWT,” ujar Ahmad Jahid.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ahmad Jahid, Ketua PCM Kebayoran Lama; Tadjuddin Nur, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Kebayoran Lama; serta Daliman Sofyan dari PWM DKI Jakarta. (FA)





0 Tanggapan
Empty Comments