Dominasi peradaban Barat dalam produksi ilmu pengetahuan dinilai masih menjadi tantangan serius bagi kemandirian akademik negara-negara berkembang.
Menjawab persoalan tersebut, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) berkolaborasi dengan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kajian Islam Multidisipliner bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Masjid A.R. Fachruddin UMM, Senin (22/6/2026), menghadirkan pakar dari University of Derby, Inggris, Dr. Mohammad Ilyas.
Forum tersebut membahas tantangan yang dihadapi cendekiawan Muslim dalam membangun tradisi keilmuan yang mandiri di tengah dominasi pemikiran dan teori yang berkembang di negara-negara Barat.
Dalam pemaparannya, Dr. Mohammad Ilyas menjelaskan bahwa dominasi Global North atau negara-negara Barat telah melahirkan fenomena captive mind atau pemikiran tertawan di kalangan akademisi negara berkembang.
Menurutnya, hegemoni kultural dan akademik yang berlangsung selama ini membuat banyak intelektual lokal tanpa sadar terjebak dalam penggunaan teori-teori impor yang belum tentu relevan dengan realitas sosial dan budaya di negaranya masing-masing.
Akibatnya, kemampuan untuk melahirkan inovasi dan menghasilkan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal menjadi terhambat.
“Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus segera kita dekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal kita,” urainya.
Ia menegaskan bahwa pembebasan dari pola pikir tersebut merupakan langkah penting untuk membangun kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih mandiri dan kontekstual.
Selain menyoroti dominasi teori Barat, akademisi yang akrab disapa Elias itu juga mengkritisi kecenderungan akademisi di negara berkembang yang lebih mengejar publikasi pada jurnal internasional berbahasa Inggris dibandingkan mengembangkan publikasi ilmiah dalam bahasa lokal.
Menurutnya, publikasi internasional memang penting untuk memperluas jangkauan ilmu pengetahuan. Namun, pengabaian terhadap jurnal dan literatur berbahasa lokal berpotensi melemahkan perkembangan tradisi akademik di dalam negeri.
“Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang bagus untuk standar global, tetapi jika kita mengabaikan jurnal berbahasa lokal, kualitas akademik di negeri sendiri tidak akan berkembang karena sekadar mereproduksi budaya kolonialisme,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa bahasa lokal memiliki peran strategis sebagai medium pengembangan ilmu pengetahuan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Elias juga menyoroti isu terorisme yang kerap dikaitkan dengan Islam.
Ia menilai narasi tersebut merupakan bentuk penyederhanaan persoalan yang tidak tepat karena mengabaikan faktor-faktor sosial yang lebih kompleks.
Menurutnya, berbagai tindakan kekerasan lebih banyak dipicu oleh ketimpangan struktural, kemiskinan, serta konflik politik yang berkepanjangan.
“Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar konflik sebenarnya adalah murni persoalan ketidakadilan sosial di masyarakat,” paparnya.
Karena itu, mahasiswa dan akademisi perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima narasi yang bersifat provokatif maupun stereotip terhadap kelompok tertentu.
Kolaborasi antara PSIB dan Program Studi HI UMM ini menjadi bagian dari komitmen Kampus Putih untuk memperkuat kapasitas intelektual mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Melalui forum akademik tersebut, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi konsumen teori dan pengetahuan yang dihasilkan pihak lain, tetapi juga mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, generasi muda diharapkan mampu berkontribusi dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial, sekaligus memperkuat peran cendekiawan Muslim dalam membangun peradaban yang mandiri dan berkemajuan.
Melalui diskursus yang kritis dan mencerahkan, UMM terus berupaya melahirkan lulusan yang tidak mudah terbawa arus narasi provokatif, tetapi mampu melihat persoalan secara objektif, ilmiah, dan berkeadaban.





0 Tanggapan
Empty Comments