Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hakikat Perkaderan IMM sebagai Proyek Pembentukan Manusia

Iklan Landscape Smamda
Hakikat Perkaderan IMM sebagai Proyek Pembentukan Manusia
Oleh : Harun Ahmad Dosen di Universitas Insan Budi Utomo Malang, alumni IMM Malang

Tulisan Muhammad Taufiq Ulinuha berjudul “Menakar Urgensi Perkaderan Inklusif dan Inventif IMM” (PWMU.CO, 3/7/2026) patut mendapatkan iapresiasi karena berangkat dari kegelisahan yang sangat nyata: bagaimana IMM tetap relevan di tengah perubahan sosial, teknologi, dan karakter generasi baru.

Gagasan mengenai perkaderan yang inklusif dan inventif merupakan tawaran yang penting. Ia menunjukkan bahwa organisasi tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu ketika dunia di sekelilingnya telah berubah secara radikal.

Namun, justru karena gagasan tersebut penting, maka perlu ada dorongan lebih jauh.

Pertanyaan mendasarnya bukan hanya bagaimana cara memperbarui metode perkaderan, melainkan apa sesungguhnya hakikat perkaderan itu sendiri?

Sebab, sering kali organisasi mengalami apa yang oleh filsuf Jerman Martin Heidegger sebut sebagai forgetfulness of Being (lupa terhadap hakikat): sibuk memperbaiki teknik, tetapi lupa menanyakan kembali esensi dari apa yang sedang dikerjakan.

Dalam konteks itu, perkaderan bukan pertama-tama persoalan kurikulum, metode, atau teknologi.

Perkaderan adalah proyek antropologis: proses membentuk manusia.

Seluruh instrumen organisasi hanyalah sarana; manusialah tujuan akhirnya.

Ketika orientasi ini terbalik, organisasi akan sibuk memperbaiki prosedur tanpa benar-benar menghasilkan pribadi yang matang secara intelektual, moral, maupun spiritual.

Inklusivitas sebagai Budaya Intelektual, Inventivitas sebagai Cara Berpikir 

Gagasan mengenai inklusivitas juga layak memperoleh penajaman konseptual.

Memahami inklusivitas tidak boleh semata-mata sebagai membuka ruang bagi berbagai disiplin ilmu atau memperluas partisipasi mahasiswa dari beragam latar belakang akademik.

Pengertian seperti ini masih berada pada level administratif dan sosiologis.

Secara filosofis, inklusivitas berarti kesediaan untuk mengakui bahwa kebenaran tidak pernah tumbuh di dalam ruang gema (echo chamber).

Tradisi intelektual selalu berkembang melalui dialog, perjumpaan, bahkan perbedaan.

Dalam sejarah Islam sendiri, kemajuan peradaban lahir bukan dari homogenitas pemikiran, melainkan dari keberanian berdialog dengan filsafat Yunani, ilmu Persia, matematika India, hingga tradisi ilmiah berbagai bangsa.

Dengan demikian, perkaderan yang inklusif bukan sekadar menerima mahasiswa dari fakultas teknik, kedokteran, ekonomi, atau ilmu sosial.

Yang lebih penting adalah membangun budaya intelektual yang memungkinkan berbagai cara berpikir bertemu secara produktif.

IMM seharusnya menjadi ruang tempat seorang calon dokter belajar filsafat, seorang mahasiswa syariah memahami kecerdasan buatan, seorang mahasiswa teknik mendiskusikan etika, dan seorang aktivis sosial memahami ekonomi politik.

Di situlah inklusivitas menemukan makna epistemologisnya.

Demikian pula dengan konsep inventif.

Tulisan Ulinuha mengartikannya sebagai inovasi metode pembelajaran.

Pandangan ini benar, tetapi belum cukup.

Inventivitas yang sesungguhnya bukan hanya kemampuan menciptakan metode baru, melainkan kemampuan melahirkan cara berpikir baru.

Teknologi digital, project-based learning, atau peer mentoring hanyalah alat.

Semua itu dapat berubah setiap beberapa tahun mengikuti perkembangan zaman.

Yang jauh lebih mendasar ialah kemampuan kader untuk terus menghasilkan pengetahuan baru, membaca realitas secara kritis, dan menemukan solusi yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Di sinilah relevansi pemikiran Paulo Freire menjadi menarik.

SMPM 5 Pucang SBY

Freire mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan proses “mengisi kepala” peserta didik, melainkan membangkitkan kesadaran kritis (conscientização).

Pendidikan yang hanya mentransfer informasi akan menghasilkan manusia yang patuh.

Pendidikan yang membangkitkan kesadaran akan melahirkan manusia yang mampu mentransformasikan masyarakat.

Karena itu, jika perkaderan IMM hanya mengganti ceramah dengan diskusi, mengganti buku dengan aplikasi digital, atau mengganti kelas dengan proyek sosial, tetapi tetap mempertahankan pola relasi yang hierarkis dan dogmatis, sesungguhnya yang berubah hanyalah kemasan, bukan substansi.

Di sinilah letak tantangan terbesar organisasi kader.

Organisasi sering kali lebih mudah memperbarui modul dibanding memperbarui budaya berpikir.

Lebih mudah menyusun kurikulum baru daripada membangun tradisi bertanya.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kemunduran organisasi hampir selalu dimulai ketika pertanyaan dianggap ancaman, bukan sumber pembelajaran.

Membentuk Manusia, Bukan Sekadar Memperbarui Metode 

Lebih jauh lagi, terdapat satu dimensi yang belum banyak disentuh dalam tulisan tersebut, yakni pembentukan karakter reflektif.

Dunia digital menghasilkan generasi yang sangat cepat memperoleh informasi, tetapi semakin sedikit memiliki kesempatan untuk merenung.

Mereka mampu mengakses ribuan data dalam hitungan detik, tetapi sering kehilangan kemampuan mengolah makna.

Dalam kondisi demikian, perkaderan IMM tidak cukup hanya adaptif terhadap teknologi.

Ia juga harus menjadi ruang kontemplasi yang memungkinkan kader belajar diam, berpikir, membaca secara mendalam, serta mempertanyakan kembali asumsi-asumsi yang mereka yakini.

Organisasi kader tidak boleh hanya melahirkan manusia yang responsif terhadap perubahan, tetapi juga manusia yang mampu memberi arah bagi perubahan itu sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah IMM harus menjadi lebih inklusif dan lebih inventif.

Jawabannya tentu iya.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: inklusif dan inventif untuk tujuan apa?

Jika jawabannya sekadar meningkatkan jumlah kader, memperkuat citra organisasi, atau mengikuti tren generasi muda, maka perubahan tersebut akan bersifat sementara.

Akan tetapi, jika inklusivitas dan inventivitas diarahkan untuk membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir, matang dalam berakhlak, unggul dalam berkarya, dan mampu menghadirkan Islam Berkemajuan sebagai praksis kehidupan, maka reformasi perkaderan benar-benar menyentuh akar persoalan.

IMM sejak awal tidak didirikan untuk sekadar memperbanyak anggota, melainkan untuk melahirkan manusia yang mampu menjadi pelopor perubahan.

Oleh sebab itu, reformasi perkaderan tidak cukup berhenti pada pembaruan metode.

Ia harus menjadi pembaruan cara memandang manusia.

Sebab, sebagaimana diingatkan oleh filsuf Yunani kuno, pendidikan bukanlah proses mengisi bejana kosong, melainkan proses menyalakan api.

Dan selama perkaderan masih mampu menyalakan api berpikir, api keberanian, serta api pengabdian dalam diri kader, selama itu pula IMM akan tetap menemukan relevansinya di setiap zaman.

Jika diinginkan, saya juga dapat merapikan tulisan ini menjadi format yang lebih layak untuk dimuat sebagai artikel opini di media massa, misalnya dengan pengaturan paragraf yang lebih proporsional tanpa mengubah isi maupun gaya argumentasinya.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 07/07/2026 12:56
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu