Memperingati Hari Anak Nasional 2026, MI Muhammadiyah 08 Pelangwot meluncurkan program One Day One Java bertema “Gerakan Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama (Inggil) dan Pelestarian Budaya Jawa Berbasis Nilai-Nilai Islam”, Kamis (23/7/2026).
Program ini menjadi inovasi pendidikan karakter yang mengintegrasikan pelestarian budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama (Inggil), madrasah berupaya membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, santun dalam bertutur, serta bangga terhadap budaya bangsa.
Kepala MI Muhammadiyah 08 Pelangwot, Ali Imron, S.Pd.I, menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi masa depan.
“Penanaman karakter harus dimulai sejak usia dini. Anak-anak perlu dibiasakan dengan nilai-nilai kebaikan agar menjadi bagian dari kepribadian mereka. Karakter tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dibangun melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Menurutnya, Bahasa Jawa Krama (Inggil) bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana menanamkan nilai unggah-ungguh, penghormatan, kesantunan, dan tata krama yang selaras dengan ajaran Islam.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah Swt.:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa setiap muslim diperintahkan menjaga lisan, berbicara dengan santun, dan memperlakukan sesama dengan penuh kebaikan.
Ali Imron menjelaskan, program One Day One Java dilaksanakan setiap hari Kamis. Seluruh warga madrasah, mulai dari peserta didik, guru, hingga tenaga kependidikan, diwajibkan menggunakan Bahasa Jawa Krama (Inggil) dalam komunikasi sehari-hari. Pada hari yang sama, para guru dan tenaga kependidikan juga mengenakan pakaian adat Jawa sebagai bentuk keteladanan sekaligus upaya melestarikan budaya.
“Guru harus menjadi teladan terlebih dahulu. Ketika guru membiasakan bahasa yang santun dan mengenakan pakaian adat Jawa, anak-anak akan melihat, meniru, dan menjadikannya sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, program tersebut juga berpijak pada kaidah fikih:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Mencegah kemudaratan didahulukan daripada meraih kemaslahatan.”
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi generasi saat ini adalah mulai lunturnya adab, sopan santun, serta penghormatan terhadap orang tua, guru, dan budaya bangsa. Oleh karena itu, penguatan karakter harus menjadi prioritas sebelum mengejar berbagai prestasi akademik.
Melalui program ini, peserta didik dibiasakan menggunakan Bahasa Jawa Krama (Inggil) sekaligus memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti andhap asor (rendah hati), tepa selira (menghargai perasaan orang lain), semangat gotong royong, serta sikap hormat kepada orang tua dan guru.
Bagi MI Muhammadiyah 08 Pelangwot, budaya Jawa bukan sekadar warisan leluhur, melainkan media pendidikan karakter yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Nilai-nilai budaya lokal dipadukan dengan ajaran Islam sehingga menjadi kekuatan dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur.
Peluncuran program yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional ini menjadi penegasan bahwa pendidikan anak harus dilakukan secara utuh, yakni mengembangkan kecerdasan intelektual, keterampilan, serta membangun karakter dan akhlak.
“Kami berharap peserta didik MI Muhammadiyah 08 Pelangwot tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mencintai budayanya, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Generasi yang hebat adalah generasi yang mampu maju tanpa kehilangan jati dirinya,” pungkas Ali Imron. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments