Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PP Muhammadiyah dan Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa, hingga Implementasi MoU

Iklan Landscape Smamda
PP Muhammadiyah dan Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa, hingga Implementasi MoU
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan tinggi, kelembagaan, pendidikan keagamaan, hingga implementasi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah terjalin antara Muhammadiyah dan berbagai institusi di Maroko.

Redouane didampingi Counselor Kedutaan Besar Maroko, Youssra El Badmoussi. Sementara itu, Syafiq didampingi Ketua Tim Beasiswa Luar Negeri PP Muhammadiyah Maskuri, Teguh Santosa dari Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, serta Armei dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah.

Mengawali pertemuan, Redouane Houssaini menyampaikan apresiasi atas sambutan PP Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar yang memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

“Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat bertemu dengan pimpinan Muhammadiyah. Kami melihat Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang memiliki pengalaman besar dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan umat,” ujarnya.

Redouane menegaskan bahwa Kedutaan Besar Maroko siap memfasilitasi berbagai bentuk kerja sama antara Muhammadiyah dan institusi di negaranya.

Ia menyebut terdapat tiga bidang prioritas yang dapat segera dikembangkan, yakni kemitraan antara perguruan tinggi di Maroko dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA), kerja sama antarlembaga keislaman, serta kolaborasi dengan lembaga pendidikan agama di Maroko.

Selain kerja sama kelembagaan, Redouane juga mengusulkan penyelenggaraan seminar atau simposium bertema Islam yang toleran dan moderat dengan menghadirkan akademisi dari Maroko.

Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai praktik Islam wasathiyah yang berkembang di kedua negara.

Di bidang pendidikan, Redouane mengungkapkan bahwa Pemerintah Maroko setiap tahun menyediakan sekitar 50 kuota beasiswa bagi mahasiswa Indonesia melalui Kementerian Agama RI.

Ia berharap semakin banyak kader Muhammadiyah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di Maroko.

Pertemuan juga membahas implementasi MoU antara Muhammadiyah dan Ma’had Mohammed VI Lil Qira’at wa Ad-Dirasat Al-Qur’aniyyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Redouane menyampaikan bahwa Kedutaan Besar Maroko telah berkoordinasi dengan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Maroko agar kerja sama tersebut dapat segera direalisasikan.

“Kami siap membantu mengawal implementasi MoU ini. Jika masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah dapat menyampaikannya kepada Kedutaan agar kami teruskan kepada kementerian terkait di Maroko,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan bahasa Arab masih menjadi salah satu tantangan bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Maroko.

Karena itu, Kedutaan Besar Maroko membuka peluang penyelenggaraan daurah intensif bahasa Arab dengan menghadirkan pengajar dari Maroko. Selain itu, pihaknya juga akan mengupayakan kemudahan proses administrasi mahasiswa Indonesia serta mendorong keterlibatan Muhammadiyah dalam forum keilmuan Durus Hassania.

Menanggapi hal tersebut, Syafiq A. Mughni menyambut baik komitmen Pemerintah Maroko untuk memperkuat hubungan dengan Muhammadiyah.

Menurutnya, kerja sama yang telah dibangun perlu ditindaklanjuti melalui komunikasi yang lebih intensif dan program-program yang terukur.

“Kami menyambut baik berbagai peluang kerja sama ini. Muhammadiyah siap memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi di Maroko, baik di bidang pendidikan tinggi, pengembangan sumber daya manusia, maupun pendidikan keagamaan,” ujar Syafiq.

Syafiq berharap implementasi MoU yang telah ditandatangani dapat segera diwujudkan melalui berbagai program konkret, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, penguatan program beasiswa, serta kunjungan timbal balik antara Muhammadiyah dan berbagai institusi pendidikan di Maroko.

Ia menilai penguatan hubungan antara Muhammadiyah dan Maroko akan memberikan manfaat besar, tidak hanya bagi pengembangan pendidikan tinggi dan kajian keislaman, tetapi juga bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia serta perluasan jejaring internasional Persyarikatan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 23/07/2026 21:59
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu