Jangan takut rezeki direbut orang lain. Menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), setiap rezeki telah ditetapkan Allah dan tidak mungkin tertukar kepada orang lain.
Dalam sebuah kajian yang mengupas fikih rezeki dari perspektif Al-Qur’an dan hadis, UAH mengungkap tiga prinsip penting tentang rezeki yang perlu dipahami setiap Muslim, mulai dari pentingnya ikhtiar, kepastian bahwa rezeki tidak akan salah alamat, hingga peran iman dalam menghadirkan keberkahan.
UAH menyampaikan bahwa ada tiga kaidah besar tentang rezeki yang menurutnya masih jarang dipahami banyak orang. Ketiga prinsip itu bukan hanya mengubah cara seseorang memandang pekerjaan, tetapi juga mengubah orientasi hidup seorang Muslim dalam mencari nafkah.
“Banyak orang hanya fokus mengejar jumlah rezeki, padahal Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting, yakni keberkahan rezeki,” katanya seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
UAH menjelaskan, Allah SWT telah menetapkan rezeki setiap makhluk. Manusia tidak diperintahkan untuk menciptakan rezekinya sendiri, melainkan menjemput rezeki itu melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Dia mengutip firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 22 yang menyebutkan bahwa rezeki manusia telah ditetapkan di sisi Allah.
“Karena itu, seseorang tidak boleh hanya berdiam diri sambil berharap datangnya rezeki. Rezeki baru akan mengalir ketika seseorang bergerak, bekerja, belajar, berdagang, atau melakukan berbagai bentuk usaha yang halal,” beber Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu..
UAH menambahkan, kualitas niat juga menentukan bagaimana Allah mengarahkan rezeki tersebut. Orang yang bekerja hanya demi dunia akan memperoleh hasil sesuai hukum dunia.
Sebaliknya, mereka yang bekerja untuk mencari rida Allah akan memperoleh dimensi keberkahan yang jauh lebih luas.
Poin kedua yang ditekankan UAH adalah bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar.
Dia menegaskan, seseorang tidak perlu iri terhadap keberhasilan orang lain ataupun takut kehilangan kesempatan karena persaingan.
“Kalau Anda yang berikhtiar, tidak mungkin rezeki Anda berpindah kepada orang lain,” jelasnya.
Menurutnya, setiap orang memiliki porsi rezeki masing-masing yang sudah diatur Allah secara presisi. Malaikat tidak mungkin salah mengantarkan rezeki kepada hamba yang telah ditentukan.
Karena itu, persaingan yang sehat boleh dilakukan, tetapi tidak boleh melahirkan rasa dengki ataupun keyakinan bahwa keberhasilan orang lain mengurangi jatah rezeki dirinya.
UAH juga menjelaskan adanya pengecualian dalam lingkup keluarga. Amal saleh orang tua dapat mengalir kepada anak, begitu pula kebaikan anak dapat menjadi sebab datangnya keberkahan bagi kedua orang tuanya.
“Banyak orang tua yang memperoleh kemudahan berhaji karena anak-anak mereka menjadi penghafal Al-Qur’an atau memiliki amal saleh yang besar,” jelas dia.
Iman Menentukan Keberkahan Rezeki
Bagian yang paling ditekankan UAH adalah kaidah ketiga. Menurutnya, besarnya penghasilan bukan ukuran utama dalam Islam. Yang paling menentukan adalah keberkahannya.
“Rezeki akan ditentukan keberkahannya berdasarkan kadar keimanan seorang hamba,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, orang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki mereka yang hanya mengejar dunia. Allah bukan sekadar memberi rezeki, tetapi juga memilihkan rezeki yang paling baik (thayyib) sesuai kualitas iman seseorang.
Karena itu, tidak semua lamaran kerja yang ditolak berarti seseorang gagal mendapatkan rezeki.
Bisa jadi, menurut UAH, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik sekaligus menempa mental, pengalaman, dan keimanan sebelum rezeki yang sesungguhnya diberikan.
UAH juga mengingatkan bahaya ketika tujuan bekerja semata-mata untuk menumpuk harta.
Kata dia, “Hukum dunia memang berlaku bagi siapa saja. Orang yang kreatif, disiplin, rajin, dan memiliki ilmu akan lebih mudah memperoleh kekayaan.”
Namun jika seluruh orientasi hidup hanya untuk memperbesar tabungan, mengejar popularitas, atau membandingkan kekayaan dengan orang lain, maka seseorang sedang terjebak dalam kehidupan duniawi.
UAH menggambarkan bahwa nafsu manusia tidak pernah berhenti. Setelah memperoleh satu miliar, ingin sepuluh miliar. Setelah memiliki satu rumah, ingin rumah berikutnya. Keinginan itu terus bertambah tanpa batas.
“Padahal, pada akhirnya semua yang dikumpulkan akan ditinggalkan ketika manusia meninggal dunia,” tegasnya.
Belajar dari Abdurrahman bin Auf
Sebagai teladan, UAH mengangkat kisah sahabat Nabi Muhammad saw, Abdurrahman bin Auf.
Dia lalu menjelaskan, sahabat tersebut termasuk salah satu orang terkaya dalam sejarah Islam. Jika dikonversikan dengan nilai saat ini, kekayaannya mencapai ribuan triliun rupiah.
“Namun, kekayaan itu tidak membuatnya lalai. Justru seluruh hartanya menjadi sumber keberkahan bagi masyarakat dan bekal menuju akhirat,” paparnya.
UAH menegaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Yang ditekankan adalah bagaimana kekayaan itu diperoleh, dimanfaatkan, dan diarahkan untuk mencari rida Allah.
Dengan demikian, harta bukan sekadar memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.
Penolakan Bukan Berarti Kehilangan Rezeki
UAH juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang ketika menghadapi kegagalan, terutama saat melamar pekerjaan.
“Banyak orang langsung berprasangka buruk kepada Allah ketika berkali-kali ditolak,” tegasnya.
Padahal, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan pekerjaan yang lebih baik sekaligus membentuk mental dan pengalaman hidup yang akan sangat berguna di masa depan.
Pengalaman gagal, lelah, hingga jatuh bangun dalam mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yang sia-sia. Semua itu merupakan bagian dari proses pendidikan yang Allah berikan agar seseorang siap menerima amanah rezeki yang lebih besar.
Karena itu, setiap penolakan seharusnya disikapi dengan rasa syukur, bukan keputusasaan.
“Jangan langsung menyimpulkan tidak diberi rezeki,” pesan UAH.
Rezeki Bukan Sekadar Uang
Di akhir kajiannya, UAH mengingatkan bahwa rezeki dalam Islam memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar uang atau jabatan.
“Ketenangan hati, keluarga yang saleh, kesehatan, pengalaman hidup, ilmu, hingga kesempatan beribadah juga merupakan bentuk rezeki yang sering kali luput dari perhatian manusia,” katanya
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya bekerja keras. Ia juga harus memperbaiki niat, meningkatkan kualitas iman, dan memastikan seluruh usaha dilakukan untuk mencari rida Allah.
Sebab, menurut UAH, ketika iman menjadi fondasi dalam mencari nafkah, Allah tidak hanya mencukupkan kebutuhan hidup, tetapi juga menghadirkan keberkahan yang menjadi pembeda antara kehidupan yang sekadar kaya dan kehidupan yang benar-benar bernilai di sisi-Nya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments