Jumat (9/10/2026), penulis berkesempatan mendampingi siswa kelas MICO ke Kampung Inggris, Pare, Kabupaten Kediri. Kawasan yang berada di Desa Tulungrejo dan Desa Pelem ini dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris. Banyak lembaga kursus berdiri di sana. Peserta tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga didorong menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.
Di tengah suasana belajar tersebut, ada satu tempat yang menarik perhatian penulis: Kuliner Wong Bule. Ternyata, bukan hanya bahasa yang bisa dipelajari di Kampung Inggris. Kuliner dari luar negeri pun dapat menjadi pintu untuk mengenal kebudayaan lain.
Salah satu menu yang mengundang rasa penasaran adalah British Breakfast. Hidangan ini terdiri atas kentang, sosis, sayuran, irisan daging, dan telur omelet. Porsinya cukup mengenyangkan untuk memulai hari.
Namun, sepiring sarapan itu menyimpan cerita yang lebih panjang daripada sekadar urusan mengisi perut. Di balik bahan-bahannya, ada sejarah perubahan kebiasaan makan, perkembangan ekonomi, dan kehidupan masyarakat Inggris dari masa ke masa.
Dari Meja Bangsawan ke Meja Pekerja
Tradisi sarapan besar di Inggris memiliki kaitan dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Pada masa lalu, sarapan lengkap menjadi bagian dari budaya menjamu tamu di kalangan pemilik tanah dan keluarga berada. Seiring perubahan zaman, hidangan sarapan Inggris berkembang dan dikenal lebih luas oleh masyarakat.
Perkembangan industri pada abad ke-18 dan ke-19 turut mengubah kehidupan sehari-hari masyarakat Inggris. Jam kerja yang teratur, aktivitas fisik yang berat, serta kebutuhan memenuhi energi untuk bekerja membuat makanan mengenyangkan memiliki arti penting bagi banyak pekerja.
Meski demikian, tidak semua buruh mampu menikmati sarapan lengkap setiap hari. Harga bahan pangan dan tingkat pendapatan menentukan apa yang bisa tersaji di meja makan mereka. Karena itu, kisah sarapan Inggris bukan hanya tentang hidangan yang populer, melainkan juga tentang perbedaan kemampuan masyarakat dalam mengakses makanan.
Sosis dan Kentang, Lebih dari Sekadar Pelengkap
Dalam sepiring British Breakfast, sosis menjadi salah satu bahan yang mudah dikenali. Sejarah sosis sendiri berhubungan dengan upaya manusia mengolah dan mengawetkan daging agar dapat disimpan lebih lama.
Di Inggris, istilah bangers dikenal sebagai sebutan informal untuk sosis. Istilah ini sering dikaitkan dengan sosis pada masa Perang Dunia I, ketika keterbatasan daging mendorong penggunaan bahan pengisi dan penambahan air dalam sebagian produk. Kandungan air yang tinggi membuat sosis lebih mudah meletup ketika dimasak. Meski demikian, asal-usul istilah tersebut perlu dipahami sebagai cerita sejarah kuliner yang berkembang, bukan penjelasan tunggal tanpa perdebatan.
Kentang juga memiliki perjalanan sejarah yang menarik. Tanaman ini berasal dari kawasan Andes di Amerika Selatan dan kemudian dibawa ke Eropa oleh bangsa Eropa pada abad ke-16. Dalam perkembangannya, kentang menjadi sumber pangan penting di berbagai wilayah karena dapat diolah menjadi beragam hidangan dan menyediakan karbohidrat.
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kentang dapat menjadi pilihan yang relatif terjangkau dan mengenyangkan, bergantung pada harga serta ketersediaannya. Namun, penerimaan kentang sebagai bahan pangan utama di Eropa berlangsung secara bertahap, tidak terjadi serentak di seluruh masyarakat.
Kehadiran kentang dan sosis dalam sarapan Inggris memperlihatkan bagaimana kebiasaan makan dibentuk oleh ketersediaan bahan pangan, perkembangan teknologi pengolahan, dan kondisi ekonomi masyarakat.
Sejarah yang Tersaji di Atas Piring
Sepiring British Breakfast yang dijumpai di Kampung Inggris membawa penulis melampaui pengalaman mencicipi makanan asing. Hidangan itu mengingatkan bahwa makanan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari sejarah masyarakat yang mengonsumsinya.
Di balik sosis, kentang, dan telur, terdapat perjalanan panjang perubahan budaya makan. Ada upaya mengawetkan bahan pangan, menyesuaikan makanan dengan kebutuhan hidup, hingga perubahan kebiasaan masyarakat seiring perkembangan zaman.
Piring sarapan itu mungkin tampak sederhana. Namun, sejarah di baliknya menunjukkan bahwa apa yang kita makan hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Dari Kampung Inggris, penulis belajar bahwa sejarah tidak selalu harus ditemukan di museum, bangunan tua, atau dokumen masa lalu. Terkadang, sejarah dapat menjadi lebih dekat ketika kita bersedia bertanya tentang makanan yang tersaji di hadapan kita. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments