Jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (JRSMA) dinilai perlu mulai memperkuat kolaborasi dengan lembaga filantropi sebagai bagian dari transformasi pelayanan kesehatan berbasis kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes dalam refleksinya usai menghadiri HOSPEX XX Persi Jawa Timur di Grand City Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Dalam kesempatan itu, ia kembali bertemu Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., Guru Besar FK-KMK Universitas Gadjah Mada sekaligus Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Ketahanan Industri Obat dan Alat Kesehatan Kemenkes RI.
Menurutnya, Prof. Laksono kembali mengingatkan pentingnya optimalisasi dana filantropi, khususnya melalui Lazismu, untuk memperkuat pelayanan sosial rumah sakit Muhammadiyah.
Dalam tulisannya, dr. Tjatur menilai dunia kesehatan saat ini sedang bergerak menuju model social health ecosystem, yakni kolaborasi antara rumah sakit, lembaga sosial, komunitas donor, dan teknologi filantropi digital.
Menurutnya, rumah sakit modern tidak dapat hanya bergantung pada pembayaran pasien maupun sistem asuransi seperti BPJS Kesehatan.
Ia mencontohkan jaringan rumah sakit Katolik di Amerika Serikat yang mampu bertahan dan berkembang melalui penguatan budaya donasi, wakaf sosial, dan dana kemanusiaan gereja.
“Pelayanan medis dipandang bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi panggilan moral,” tulisnya.
Ia menilai Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk mengembangkan filantropi kesehatan.
Dengan jutaan anggota, ribuan amal usaha, dan budaya zakat yang mengakar, Muhammadiyah dinilai memiliki potensi besar membangun sistem pelayanan kesehatan berbasis solidaritas sosial.
Karena itu, kolaborasi antara JRSMA dan Lazismu dianggap menjadi langkah strategis.
Dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf dinilai dapat menjadi bantalan sosial bagi pasien dhuafa, peserta BPJS yang membutuhkan tambahan biaya, hingga program promotif dan preventif masyarakat miskin.
Dalam artikelnya, dr. Tjatur juga mengutip pemikiran filsuf Emmanuel Levinas tentang pentingnya tanggung jawab moral terhadap sesama manusia.
Menurutnya, rumah sakit yang hanya memandang pasien sebagai angka tagihan akan kehilangan nilai kemanusiaannya.
Sebaliknya, pelayanan kesehatan yang berorientasi pada empati akan melahirkan peradaban welas asih.
Ia menegaskan bahwa gagasan tersebut sejalan dengan spirit Surah Al-Ma’un yang menjadi dasar gerakan sosial Muhammadiyah.
“Pelayanan kesehatan kepada dhuafa bukan aktivitas tambahan, melainkan inti keberagamaan sosial Muhammadiyah,” tulisnya.
Karena itu, JRSMA didorong membangun paradigma baru dari hospital oriented menuju humanity oriented.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya inovasi filantropi kesehatan berbasis digital yang sesuai dengan karakter generasi muda saat ini.
Beberapa gagasan yang disebutkan antara lain crowdfunding operasi jantung anak, wakaf alat kesehatan, sedekah oksigen, donasi ambulans, hingga gerakan solidaritas berbasis QRIS.
Menurutnya, model donasi kecil namun masif dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung pelayanan pasien miskin.
Ia mencontohkan skema pembulatan pembayaran pasien untuk dana kemanusiaan rumah sakit yang berpotensi mengumpulkan dana sosial dalam jumlah besar jika dilakukan secara kolektif.
Kolaborasi rumah sakit dengan lembaga filantropi juga dinilai mampu memperkuat citra dan kepercayaan publik terhadap rumah sakit Muhammadiyah.
Di era media sosial, masyarakat dinilai tidak hanya melihat kualitas medis, tetapi juga kepedulian sosial sebuah institusi kesehatan.
Menurut dr. Tjatur, rumah sakit yang dikenal peduli terhadap masyarakat kecil akan memiliki emotional trust yang lebih kuat di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa rumah sakit yang memiliki jejaring sosial dan filantropi cenderung lebih tangguh menghadapi krisis dibanding institusi yang hanya mengandalkan aspek bisnis.
Di akhir tulisannya, dr. Tjatur menegaskan bahwa masa depan JRSMA tidak cukup hanya menjadi rumah sakit Islam modern.
Lebih dari itu, JRSMA diharapkan mampu menjadi pusat gerakan filantropi kesehatan umat.
“Ketika rumah sakit, zakat, sedekah, wakaf, teknologi digital, dan gerakan sosial bersatu, maka pelayanan kesehatan tidak lagi bergantung pada kemampuan bayar pasien, tetapi pada kekuatan gotong royong kemanusiaan,” tulisnya.
Menurutnya, di titik itulah rumah sakit tidak hanya berfungsi menyembuhkan tubuh, tetapi juga merawat harapan masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments