Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Tangguh PCM Kanigoro Bahas FOMO dan Insecure dalam Perspektif Islam

Iklan Landscape Smamda
Kajian Tangguh PCM Kanigoro Bahas FOMO dan Insecure dalam Perspektif Islam
Kajian Tangguh PCM Kanigoro Blitar Bersama Ustadz Nuhan Nabawi, M.Ag. di Masjid MIA Jatinom, Ahad (7/6/2026). (Agus Fawaid/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kanigoro, Kabupaten Blitar, kembali menggelar Kajian Tangguh, Ahad (7/6/2026), di Masjid Muhammad Ibrahim Al-Amru (MIA), Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro. Kajian rutin yang dilaksanakan setiap tanggal tujuh tersebut mengangkat tema “Bersyukur Saat Merasa Tertinggal (FOMO dan Insecure)”.

Kegiatan yang dimulai setelah salat Isya berjamaah sekitar pukul 19.30 WIB itu diikuti puluhan peserta yang terdiri atas pengurus dan anggota PCM, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA), Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA), Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM), dan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA). Hadir pula warga Muhammadiyah dan Aisyiyah, simpatisan, guru, serta karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di wilayah Kecamatan Kanigoro.

Nama Tangguh merupakan akronim dari Tanggal Tujuh. Dalam setiap pelaksanaannya, PCM Kanigoro menghadirkan pemateri yang berbeda untuk membahas berbagai tema keislaman dan kemasyarakatan.

Pada kesempatan tersebut, PCM Kanigoro menghadirkan Ustaz Nuhan Nabawi, M.Ag., dari Muhammadiyah Blitar sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Ustaz Nuhan menjelaskan bahwa FOMO (Fear of Missing Out) merupakan perasaan takut tertinggal dari orang lain, baik dalam pengalaman, informasi, tren, maupun pencapaian hidup.

“Orang yang mengalami FOMO biasanya merasa gelisah ketika melihat orang lain lebih dulu melakukan sesuatu. Ia takut dianggap ketinggalan zaman, sering membandingkan hidupnya dengan orang lain, dan merasa harus mengikuti tren meskipun sebenarnya tidak membutuhkannya,” jelasnya.

Ia mencontohkan seseorang yang merasa sedih ketika melihat teman berlibur, ingin membeli telepon genggam atau kendaraan baru karena orang lain memilikinya, hingga merasa harus menyamai kesuksesan orang lain agar tidak dianggap tertinggal.

Menurutnya, kondisi tersebut muncul karena seseorang terlalu fokus pada urusan dunia. Ia kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surat An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah diberikan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain.”

Selain FOMO, Ustaz Nuhan juga menjelaskan tentang insecure, yakni perasaan tidak aman atau kurang percaya diri terhadap diri sendiri.

“Orang yang insecure sering merasa kurang, ragu terhadap kemampuan dirinya, membandingkan diri dengan orang lain, serta takut ditolak, diremehkan, atau tidak dihargai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa rasa minder karena melihat kelebihan orang lain dan kebiasaan overthinking dengan anggapan bahwa orang lain selalu menilai dirinya buruk merupakan salah satu bentuk insecure yang perlu diwaspadai.

Kajian Tangguh PCM Kanigoro Bahas FOMO dan Insecure dalam Perspektif Islam (2)
Kajian Tangguh PCM Kanigoro Blitar Bersama Ustadz Nuhan Nabawi, M.Ag. (Agus Fawaid/PWMU.CO)

Untuk menguatkan penjelasannya, ia mengutip firman Allah Swt. dalam Surat At-Tin ayat 4:

SMPM 5 Pucang SBY

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Menurutnya, FOMO membuat seseorang lebih banyak memperhatikan kehidupan orang lain daripada mensyukuri apa yang dimiliki. Sementara itu, insecure menunjukkan kurangnya ketenangan dalam menerima nikmat dan ketentuan Allah Swt.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya konsep syukur sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

“Syukur tidak cukup hanya mengucapkan Alhamdulillah. Syukur berarti mengakui nikmat Allah, menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, dan tidak mudah mengeluh,” terang Ustaz Nuhan.

Sebagai langkah untuk mengurangi rasa FOMO dan insecure, ia mengajak jamaah untuk lebih menyadari nikmat yang telah diberikan Allah Swt., mengurangi paparan media sosial, serta tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar kebahagiaan diri.

“Yang kita lihat dari orang lain belum tentu seluruh kenyataannya. Bisa jadi kita hanya melihat sisi terbaiknya saja, sementara ujian yang mereka hadapi tidak tampak di hadapan kita,” katanya.

Pada akhir kajian, Ustaz Nuhan mengingatkan pentingnya memperbanyak syukur, zikir, dan amal saleh sebagai bentuk pemanfaatan nikmat Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika ingin nikmat Allah terus bertambah, maka perbanyaklah bersyukur, berzikir, dan menggunakan setiap nikmat untuk hal-hal yang diridai Allah Swt,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 10/06/2026 10:09
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu