Setiap bulan April, memori kolektif bangsa Indonesia selalu dipulangkan pada sosok Raden Ajeng Kartini. Namun, bagi kita di Nasyiatul Aisyiyah, memperingati Kartini bukan sekadar urusan berkebaya atau bersanggul. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk merefleksikan kembali sejauh mana api literasi dan semangat pembebasan yang ditiupkan Kartini bersenyawa dengan nafas perjuangan organisasi kita.
Jika Kartini berjuang melalui surat-suratnya yang mendobrak tembok pingitan, maka Nasyiatul Aisyiyah hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Kita tidak hanya melanjutkan mimpi Kartini; kita memberikan ruh spiritualitas Islam yang berkemajuan di dalamnya.
Literasi sebagai Kunci Pembebasan
Kartini adalah simbol perlawanan melalui pena. Dalam surat-suratnya kepada J.H. Abendanon, ia berulangkali menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama martabat perempuan. Di NA, kita mengenal pilar literasi sebagai fondasi gerakan.
Bagi kader Nasyiah, “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar judul buku, melainkan proses transformasi ideologis. Kegelapan bagi kita adalah kebodohan, ketertinggalan ekonomi, dan belenggu patriarki yang salah kaprah dalam menafsirkan agama. Cahaya (terang) itu adalah ilmu pengetahuan yang dipandu oleh nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kartini versi NA adalah perempuan yang tangannya cekatan mengurus keluarga, namun pikirannya tajam menganalisis isu sosial, dan hatinya terpaut pada pengabdian umat.
Kemandirian Ekonomi dan Martabat Perempuan
Salah satu keresahan Kartini yang sering terlupakan adalah keinginannya agar perempuan bisa mandiri secara finansial agar tidak bergantung sepenuhnya pada belas kasihan orang lain. Hal ini sangat selaras dengan pilar ekonomi di Nasyiatul Aisyiyah.
Melalui program-program Nasyiatul Aisyiyah kita membuktikan bahwa menjadi perempuan yang berdaya secara ekonomi adalah bentuk implementasi nyata dari emansipasi yang bermartabat. Kita ingin menunjukkan bahwa kader NA di Sukomanunggal adalah perempuan-perempuan produktif.
Kita adalah perajin solusi, bukan sekadar penonton perubahan. Kemandirian ini penting agar perempuan memiliki posisi tawar dan mampu mengambil keputusan terbaik bagi dirinya dan keluarganya.
Dakwah di Ruang Domestik dan Publik
Seringkali ada dikotomi yang keliru: memilih antara menjadi ibu rumah tangga yang baik atau aktivis di ruang publik. Kartini versi Nasyiatul Aisyiyah menolak dikotomi tersebut. Kita percaya pada konsep kesalehan yang utuh.
Seorang kader NA adalah “Ibu Bangsa”. Di rumah, ia adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya seperti dambaan Kartini agar anak-anak dididik oleh ibu yang cerdas.
Di masyarakat, ia adalah penggerak perubahan.
Di PCNA Sukomanunggal, kita harus memastikan bahwa kehadiran kita memberikan dampak nyata, baik dalam isu stunting, perlindungan anak, hingga pemberdayaan perempuan di lingkungan sekitar. Inilah emansipasi yang membumi; emansipasi yang tidak meninggalkan akar tradisi dan ketaatan pada Sang Pencipta.
Tantangan Zaman: Kartini Digital
Jika dulu Kartini terhambat oleh tembok fisik pingitan, hari ini “pingitan” itu muncul dalam bentuk algoritma dan dunia digital yang seringkali memenjarakan produktivitas perempuan. Kartini versi NA hari ini haruslah melek teknologi. Kita harus mampu mengisi ruang-ruang digital dengan konten dakwah yang menyejukkan dan edukatif.
Jangan sampai media sosial hanya menjadi tempat pamer kemewahan, tetapi harus menjadi panggung untuk menyuarakan hak-hak perempuan dan anak. Sebagai Ketua PCNA Sukomanunggal, saya mengajak seluruh rekan sejawat untuk menjadi “Kartini yang Terkoneksi” cerdas memilah informasi, bijak dalam berinteraksi, dan tangguh menghadapi arus disrupsi.
Melampaui Seremonial
Menjadi Kartini di rahim Nasyiatul Aisyiyah berarti siap menjadi pelopor di setiap lini. Kita tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk mulai bergerak. Dengan semangat Al-Birru Manittaqo (kebajikan adalah bagi orang yang bertakwa), mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas sesama kader.
Perjuangan kita belum usai. Selama masih ada perempuan yang terpinggirkan, selama masih ada anak yang putus sekolah, dan selama ketidakadilan masih terjadi di sudut-sudut kota kita, maka “Kartini-Kartini Muda” dari Sukomanunggal tidak boleh berhenti bergerak.
Mari kita jaga nyala api ini. Biarlah cahaya Nasyiah terus bersinar, menyinari kegelapan di sekitar kita, hingga fajar kemenangan itu benar-benar tiba.
Nasrun Minallahi Wa Fathun Qarib. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments