Lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan. Dengan jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) yang telah melampaui 7.100 kasus hingga pertengahan 2026 dan ditemukannya kasus pada kelompok usia sekolah, upaya pencegahan dinilai tidak lagi bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi harus melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah secara terpadu.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, M.M., menegaskan bahwa persoalan HIV/AIDS merupakan tantangan bersama yang menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia Jawa Timur.
“Ini merupakan alarm bagi kita semua. Yang dibutuhkan bukan kepanikan, tetapi langkah cepat, terukur, dan kolaboratif. Pencegahan harus menjadi prioritas utama, sementara masyarakat yang sudah hidup dengan HIV harus mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendampingan tanpa diskriminasi,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Suli Da’im, munculnya kasus pada usia sekolah menjadi sinyal bahwa edukasi kesehatan reproduksi, penguatan karakter, dan literasi digital harus semakin diperkuat sejak dini. Karena itu, ia menilai sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, tokoh agama, dan organisasi masyarakat menjadi kunci untuk mencegah meluasnya penyebaran HIV/AIDS.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memperkuat koordinasi lintas sektor melalui Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Kementerian Agama, serta berbagai elemen masyarakat.
Suli juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang mulai menyiapkan langkah mitigasi di lingkungan sekolah.
Program tersebut meliputi edukasi kesehatan reproduksi, pelatihan bagi guru Bimbingan Konseling (BK), penguatan literasi mengenai HIV/AIDS, hingga memastikan peserta didik yang hidup dengan HIV tetap memperoleh hak pendidikan tanpa stigma maupun diskriminasi.
Menurutnya, pendekatan seperti itu layak diperluas ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang.
“Komisi E DPRD Jawa Timur akan terus mendorong agar program edukasi kesehatan reproduksi, pendidikan karakter, literasi digital, serta penguatan fungsi keluarga menjadi bagian penting dalam kebijakan pendidikan di Jawa Timur,” katanya.
Edukasi untuk Menghapus Stigma
Suli Da’im menilai masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai HIV/AIDS. Karena itu, edukasi berbasis fakta ilmiah harus terus diperkuat agar tidak muncul diskriminasi terhadap ODHIV.
Ia menjelaskan bahwa HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, menggunakan toilet bersama, maupun belajar di ruang kelas yang sama.
Penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapatkan terapi yang tepat.
“Stigma justru menjadi penghambat penanganan HIV. Masyarakat harus memahami fakta ilmiah sehingga ODHIV tetap dapat menjalani kehidupan, memperoleh layanan kesehatan, dan berpartisipasi dalam pendidikan maupun pekerjaan tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Suli juga mengusulkan lima langkah strategis untuk memperkuat pencegahan HIV/AIDS di Jawa Timur.
Pertama, memperluas skrining dan deteksi dini secara sukarela dengan tetap menjaga kerahasiaan pasien.
Kedua, memperkuat edukasi kesehatan reproduksi serta bahaya perilaku berisiko di sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Ketiga, meningkatkan kapasitas guru BK dan tenaga kesehatan dalam memberikan layanan konseling.
Keempat, memperluas akses pengobatan antiretroviral (ARV) agar kualitas hidup ODHIV tetap terjaga. Kelima, memperkuat peran keluarga sebagai benteng utama pembentukan karakter sekaligus pengawasan terhadap anak di era digital.
Dia berharao seluruh masyarakat tidak menyebarkan informasi yang keliru maupun stigma terhadap ODHIV. Sebaliknya, kepedulian, edukasi, dan kolaborasi harus menjadi fondasi utama dalam memutus rantai penularan HIV/AIDS.
“Mari kita jadikan persoalan ini sebagai momentum memperkuat pendidikan keluarga, pendidikan karakter, dan literasi kesehatan. Dengan kerja sama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat, saya yakin penyebaran HIV dapat ditekan dan generasi muda Jawa Timur dapat terlindungi,” tandasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments