Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketua PWM Jatim Ungkap Tiga Kunci Sukses Kembangkan Institusi di Pelantikan Rektor Umla 

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketua PWM Jatim Ungkap Tiga Kunci Sukses Kembangkan Institusi di Pelantikan Rektor Umla 
Ketua PWM Jatim Ungkap Tiga Kunci Sukses Kembangkan Institusi di Pelantikan Rektor Umla . (Alfain/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., mengungkapkan tiga kunci sukses dalam mengembangkan institusi, yakni keberanian, kreativitas dan inovasi, serta kerja keras.

Pesan tersebut disampaikan dalam pelantikan Prof. Dr. Abdul Aziz Alimul Hidayat, S.Kep., Ns., M.Kes., sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) periode 2026–2030, Sabtu (17/10/2026), di Hall Lantai 10 Gedung Umla.

Dalam amanatnya, Sukadiono memberikan apresiasi atas perkembangan Umla yang dinilainya sangat pesat. Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari keberanian dan kemampuan pimpinan dalam mengambil langkah strategis untuk memajukan institusi.

“Saya kira ada tiga hal yang menjadi kunci bagaimana Prof. Abdul Aziz bisa mengembangkan Universitas Muhammadiyah Lamongan. Saya harus memberikan apresiasi yang luar biasa atas perkembangan Umla yang sangat megilan ini,” ujarnya.

Berani Bermimpi dan Berinovasi

Sukadiono menjelaskan, kunci pertama dalam mengembangkan institusi adalah keberanian. Menurutnya, seorang pemimpin harus berani bermimpi besar dan mengambil langkah untuk membawa institusi yang dipimpinnya menjadi lebih baik.

Tanpa keberanian, upaya pemberdayaan dan percepatan perkembangan institusi akan sulit diwujudkan.

“Kalau kita tidak punya keberanian untuk bermimpi membawa institusi menjadi lebih baik, jangan berharap kita bisa memberdayakan sekaligus mengakselerasi perkembangannya,” tuturnya.

Ia mencontohkan pengalaman ketika menjadi Rektor di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dalam mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, keberanian mengambil keputusan strategis menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas institusi, termasuk mendorong lahirnya sumber daya manusia bergelar doktor.

Sukadiono menilai, keberanian seorang pemimpin terkadang menuntut langkah out of the box, yakni berani keluar dari pola yang biasa dilakukan untuk menemukan peluang dan terobosan baru.

Ia melihat semangat tersebut juga tercermin dalam perkembangan Umla di bawah kepemimpinan Abdul Aziz.

Kreativitas dan Inovasi

Kunci kedua, lanjut Sukadiono, adalah kreativitas dan inovasi. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu menghadirkan gagasan baru dan menerjemahkannya menjadi langkah nyata untuk mengembangkan institusi.

Ia mengaitkan prinsip tersebut dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Menurut Sukadiono, ayat tersebut mengajarkan pentingnya perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Dalam konteks kepemimpinan, perubahan harus diawali dengan kemauan untuk memperbaiki cara berpikir, membangun budaya kerja yang lebih baik, serta menghadirkan kreativitas dan inovasi.

“Kalau seorang pemimpin tidak kreatif dan tidak inovatif, saya kira tidak akan bisa melakukan akselerasi untuk memajukan sebuah institusi,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberanian harus berjalan beriringan dengan kreativitas dan inovasi. Keberanian mengambil keputusan perlu disertai kemampuan membaca peluang, menyusun strategi, dan menghadirkan solusi atas berbagai tantangan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Kerja Keras dan Kesungguhan

Kunci ketiga adalah kerja keras. Sukadiono menegaskan, keberanian serta kreativitas dan inovasi tidak akan menghasilkan capaian maksimal tanpa disertai kesungguhan dalam bekerja.

Ia berbagi pengalaman saat Universitas Muhammadiyah Surabaya memperjuangkan pendirian Fakultas Kedokteran. Proses tersebut, menurutnya, membutuhkan perjuangan panjang, pemenuhan persyaratan, evaluasi, hingga upaya banding untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa membangun institusi pendidikan tinggi membutuhkan ketekunan dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan.

Sukadiono juga mengingat kondisi UM Surabaya pada 2012 yang, menurutnya, masih memiliki keterbatasan sumber daya. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan upaya pengembangan kampus.

“Karena ada keberanian, kreativitas dan inovasi, sekaligus kerja keras, akhirnya kita bisa terus berjuang mengembangkan institusi,” ungkapnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat 69:

وَلَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Menurut Sukadiono, ayat tersebut menjadi inspirasi bahwa kesungguhan dalam berjuang merupakan bagian penting dari ikhtiar meraih keberhasilan. Dalam konteks pengembangan institusi, kerja keras harus diwujudkan melalui komitmen, konsistensi, dan kesediaan menghadapi dinamika perjuangan.

Optimistis Fakultas Kedokteran Umla Terwujud

Berbekal tiga kunci tersebut, Sukadiono menyampaikan optimisme terhadap masa depan Umla, termasuk rencana pendirian Fakultas Kedokteran.

Ia meyakini, dengan kepemimpinan yang berani, kreatif, inovatif, dan disertai kerja keras, Umla memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan meningkatkan kontribusinya bagi masyarakat.

“Saya sangat yakin Fakultas Kedokteran akan bisa terwujud di Universitas Muhammadiyah Lamongan. Bahkan, mungkin bisa melampaui perguruan tinggi lainnya,” ujarnya.

Sukadiono menegaskan, pembangunan gedung dan pengembangan sarana prasarana saja tidak cukup untuk membawa institusi menuju kemajuan. Diperlukan kepemimpinan yang memiliki kapasitas dan integritas, serta mampu menginternalisasikan tiga prinsip tersebut dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Ia berharap, tiga kunci sukses itu tidak hanya menjadi pegangan Rektor Umla, tetapi juga diimplementasikan oleh seluruh pimpinan amal usaha Muhammadiyah.

“Keberanian, kreativitas dan inovasi, serta kerja keras harus kita internalisasikan dalam diri agar menjadi pemimpin yang memiliki kapasitas dan integritas. Semoga sukses untuk Umla dan sukses untuk Prof. Dr. Abdul Aziz Alimul Hidayat,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 17/10/2026 15:04
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu