Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur resmi dibuka oleh Mohammad Khoirul Abduh, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, di Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo), Sabtu (17/10/2026).
Mengusung tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Gerakan Jawa Timur Berkelanjutan”, Musywil XIII menjadi momentum strategis bagi kader Nasyiatul Aisyiyah untuk merumuskan arah gerakan, memperkuat kaderisasi, serta menyiapkan kepemimpinan perempuan muda yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Khoirul Abduh menegaskan bahwa keberhasilan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan proses kaderisasi yang berlangsung secara berkelanjutan. Menurutnya, keberadaan organisasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari kemampuannya menyiapkan kader yang akan melanjutkan perjuangan organisasi.
“Suksesnya Muhammadiyah dilihat dari kaderisasi organisasinya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan, merespons perkembangan zaman, serta menghadirkan dampak nyata bagi anggota maupun masyarakat luas. Kemampuan tersebut menjadi indikator penting untuk melihat apakah organisasi benar-benar bergerak maju atau sekadar menjalankan rutinitas.
“Organisasi yang aktif itu bukan hanya dilihat dari seberapa banyak kegiatannya, tetapi bagaimana organisasi mampu beradaptasi, merespons perubahan zaman, dan memberikan dampak bagi anggotanya maupun masyarakat,” ungkapnya.
Khoirul Abduh juga memberikan perhatian khusus terhadap dinamika kader Nasyiatul Aisyiyah. Menurutnya, perempuan muda yang aktif dalam organisasi menghadapi tantangan tersendiri karena harus menjalankan berbagai peran dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Ia mengapresiasi kader Nasyiatul Aisyiyah yang tetap berkomitmen dalam gerakan organisasi di tengah tanggung jawab domestik dan sosial yang dijalani. Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan kemampuan mengelola waktu, membangun komunikasi, serta menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan pengabdian organisasi.
“Di antara berbagai aktivitas organisasi, tantangan di Nasyiatul Aisyiyah memiliki kekhasan tersendiri. Kader harus mampu menjalankan peran dalam keluarga sekaligus tetap berkontribusi di organisasi. Karena itu, diperlukan komitmen, manajemen yang baik, dan dukungan satu sama lain,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga kekompakan sebagai fondasi kekuatan organisasi. Perbedaan pandangan dalam musyawarah merupakan hal yang wajar, tetapi harus dikelola secara dewasa agar tidak berkembang menjadi perpecahan yang melemahkan gerakan.
Menurutnya, organisasi yang kuat dibangun melalui kesediaan untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mengutamakan kepentingan bersama. Semangat kolektif tersebut perlu diwujudkan dalam kerja nyata, bukan berhenti pada slogan kebersamaan.
“Organisasi harus tetap kompak dan tidak terpecah belah. Perbedaan pendapat itu biasa, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan tujuan bersama. Justru melalui musyawarah, kita harus menemukan jalan terbaik untuk membesarkan organisasi,” pesannya.
Selain kekompakan, Khoirul Abduh menyoroti pentingnya tata kelola organisasi dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Organisasi yang berkelanjutan membutuhkan sistem manajerial yang tertata, pembagian tugas yang jelas, serta kader yang memiliki kapasitas dan integritas untuk menjalankan amanah.
Ia juga mendorong PWNA Jawa Timur agar memperkuat kolaborasi internal, baik antarpimpinan maupun antarjenjang organisasi. Kolaborasi diperlukan agar program kerja tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dan menghasilkan manfaat yang lebih luas.
“Manajerial dan kualitas sumber daya manusia harus menjadi perhatian. Organisasi yang baik membutuhkan kader yang kompeten, pembagian peran yang jelas, serta kolaborasi yang kuat di dalam organisasi. Dengan begitu, setiap program dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang nyata,” jelasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Musywil XIII yang menempatkan perempuan muda berkemajuan sebagai bagian penting dalam membangun gerakan Jawa Timur yang berkelanjutan. Keberlanjutan gerakan tidak hanya bergantung pada program yang dirancang, tetapi juga pada kemampuan organisasi menyiapkan generasi penerus, memperkuat sistem kerja, dan membangun sinergi.
Musywil XIII PWNA Jawa Timur diharapkan menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi bagi kader Nasyiatul Aisyiyah untuk memperkuat arah perjuangan organisasi. Forum ini juga menjadi kesempatan untuk melahirkan gagasan dan kepemimpinan yang mampu menjawab kebutuhan perempuan muda serta tantangan sosial di tengah masyarakat.
Melalui musyawarah ini, Nasyiatul Aisyiyah diharapkan terus tumbuh sebagai organisasi perempuan muda yang adaptif, solid, dan berdampak. Kaderisasi yang berkelanjutan, tata kelola yang baik, serta kolaborasi yang kuat menjadi modal penting untuk memastikan gerakan tetap relevan dan memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat Jawa Timur. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments