Iklan SDM 4 Mudipat 2026

PP Nasyiatul Aisyiyah: NA Harus Jadi Rumah Aman bagi Perempuan Muda

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
PP Nasyiatul Aisyiyah: NA Harus Jadi Rumah Aman bagi Perempuan Muda
Sambutan Ketua PP Nasyiatul Aisyiyah, Monica Subastia, M.Pd., dalam sambutan Musywil ke-III PWNA Jatim (Humas Umpo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) Monica Subastia, M.Pd., mendorong Nasyiatul Aisyiyah (NA) menjadi ruang yang aman dan ramah bagi perempuan muda dengan beragam latar belakang. Organisasi perempuan muda Muhammadiyah ini juga diharapkan hadir menjawab persoalan nyata, mulai dari ketahanan keluarga, kesehatan, ekonomi, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pesan tersebut disampaikan Monica dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Sabtu (17/10/2026).

Dalam sambutannya, Monica mengingatkan bahwa tema Musywil XIII PWNA Jawa Timur, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Gerakan Jawa Timur Berkelanjutan”, harus dimaknai sebagai panggilan untuk menghadirkan gerakan yang adaptif, progresif, dan inklusif. Menurutnya, perempuan muda tidak cukup hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitarnya.

Ia mengajak kader Nasyiatul Aisyiyah untuk tidak membatasi gerakan pada kegiatan seremonial atau pertemuan rutin. Gagasan dan program organisasi perlu diwujudkan melalui kerja nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menjawab Persoalan Perempuan Muda

Monica menjelaskan, anggota Nasyiatul Aisyiyah berada dalam fase kehidupan yang beragam. Ada perempuan muda yang sedang menempuh pendidikan, memasuki dunia kerja, mempersiapkan pernikahan, hingga menjalani peran sebagai ibu dengan anak-anak yang masih membutuhkan pendampingan.

Keragaman pengalaman tersebut, menurutnya, perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun program organisasi. Nasyiatul Aisyiyah perlu memahami kebutuhan perempuan muda agar kegiatan yang dijalankan tidak berhenti pada agenda internal, tetapi benar-benar menjawab persoalan mereka.

Monica juga menyinggung kehadiran kader yang membawa anak ketika mengikuti kegiatan organisasi. Baginya, kondisi tersebut merupakan bagian dari realitas perempuan muda yang perlu dipahami bersama.

Anak-anak yang hadir dalam kegiatan bukan semata-mata persoalan perempuan, melainkan juga berkaitan dengan tanggung jawab keluarga. Karena itu, dukungan suami dan lingkungan keluarga menjadi penting agar perempuan tetap dapat terlibat dalam kegiatan sosial dan organisasi tanpa mengabaikan kebutuhan anak.

Persoalan ketahanan keluarga, lanjutnya, juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi, kesehatan fisik, dan kesehatan emosional. Ketiganya saling berkaitan dan membutuhkan perhatian dalam kerja-kerja Nasyiatul Aisyiyah.

Perkuat Ketahanan Keluarga

Dalam aspek ekonomi, Monica menyoroti perempuan muda yang tetap menjalankan usaha kecil, seperti berjualan makanan atau jajanan, di tengah aktivitas organisasi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebagian perempuan harus membagi waktu antara penghasilan keluarga, pengasuhan anak, dan pengabdian sosial.

Ia juga mengingatkan bahwa perempuan yang bekerja di sektor informal dapat menghadapi persoalan perlindungan, mulai dari akses jaminan kesehatan hingga kepastian upah dan keamanan kerja.

Karena itu, penguatan ekonomi keluarga perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan akses perempuan terhadap perlindungan sosial. Program organisasi diharapkan dapat membantu perempuan memahami hak-haknya sekaligus memperluas dukungan bagi keluarga.

Di bidang kesehatan, Monica menekankan pentingnya upaya pencegahan dan pendampingan sejak dini. Program kesehatan yang dijalankan Nasyiatul Aisyiyah, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, kesiapan sebelum menikah, dan pencegahan stunting, perlu dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Kesehatan perempuan dan anak, menurutnya, merupakan bagian penting dari ketahanan keluarga. Oleh sebab itu, edukasi kesehatan tidak cukup dilakukan sesekali, tetapi perlu menjadi kerja berkelanjutan yang menjangkau perempuan muda dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Selain ekonomi dan kesehatan, Monica mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Perempuan dapat menghadapi kerentanan tersendiri ketika bencana terjadi, terutama ketika harus melindungi anak dan anggota keluarga lainnya. Kondisi tersebut membuat edukasi kebencanaan dan penguatan kapasitas keluarga perlu menjadi bagian dari perhatian organisasi.

Seni dan Budaya sebagai Ruang Penguatan Komunitas

Monica juga menempatkan seni, budaya, dan olahraga sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga serta kehidupan komunitas. Menurutnya, ruang kebersamaan masyarakat tidak harus selalu dibangun melalui rapat atau pengajian.

Kegiatan seni, olahraga, dan aktivitas sosial lainnya dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga, membangun solidaritas, serta membuka ruang partisipasi bagi perempuan muda.

Dalam konteks Ponorogo, ia turut menyinggung Reog sebagai kekayaan budaya yang telah memperkenalkan daerah tersebut kepada masyarakat luas. Perhatian terhadap seni dan budaya, termasuk di kalangan generasi muda, dapat menjadi peluang untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan yang positif.

Bagi Nasyiatul Aisyiyah, pendekatan kebudayaan tersebut dapat berjalan beriringan dengan dakwah dan pemberdayaan. Organisasi tidak hanya hadir untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga membangun hubungan sosial yang membuat masyarakat merasa terlibat dan memperoleh manfaat.

Menjadi Rumah Aman bagi Semua Perempuan Muda

Lebih jauh, Monica berharap Nasyiatul Aisyiyah dapat menjadi rumah bersama bagi perempuan muda dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Organisasi perlu memberi ruang bagi mereka yang telah aktif dalam gerakan maupun perempuan yang masih belajar untuk terlibat.

Ia menekankan pentingnya membangun lingkungan organisasi yang ramah, aman, dan mendukung proses tumbuh bersama. Dengan demikian, perempuan muda tidak merasa harus memenuhi standar tertentu terlebih dahulu untuk dapat mengambil bagian dalam gerakan.

Monica mengingatkan bahwa gagasan besar organisasi harus diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata. Ia tidak ingin Nasyiatul Aisyiyah terjebak dalam kegiatan seremonial tanpa perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

“Jangan menjadi gerakan yang terkurung dalam sekat seremonial. Jangan sampai gagasan besar kita hanya menguap tanpa wujud di tengah kenyataan,” pesannya.

Ia menutup sambutan dengan mengajak kader menjadikan pengabdian sebagai bagian dari perjalanan gerakan perempuan muda. Menurutnya, upaya membangun desa yang ramah bagi perempuan muda dan menjalankan Islam secara menyeluruh harus diwujudkan melalui tindakan yang menghadirkan manfaat bagi sesama.

Melalui Musywil XIII PWNA Jawa Timur, harapan tersebut menjadi pengingat bagi kader untuk menyusun arah gerakan yang tidak hanya memperkuat organisasi, tetapi juga menjawab kebutuhan perempuan muda, keluarga, dan masyarakat. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 17/10/2026 12:26
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu